Minggu, Januari 11, 2026

Ayah yang Selalu Bekerja, Anak yang Selalu Menunggu

Kaha Anwar
Kaha Anwar
Guru Sains di MTs Riyadlatul Ulum Batanghari, Lampung Timur
- Advertisement -

Di Indonesia, ayah jarang benar-benar pergi. Ia tidak kabur,tidak menghilang, tidak pula sengaja absen. Ayah ada—secara fisik,administratif, bahkan biologis. Tetapi, justru di situlah tragedinya bermula:ayah hadir sebagai pekerja, bukan sebagai subjek relasi. Hadir sebagaipenyangga ekonomi, absen sebagai penyangga makna.

Mayoritas ayah Indonesia bekerja di sektor informal. Faktaini sering disebut sekilas, lalu dilewati begitu saja, seolah ia hanya catatankaki statistik. Padahal, di titik itulah pusat masalah fatherlessbertengger dengan tenang. Ayah informal hidup dalam ekonomi tanpa jaringpengaman. Tidak ada jam kerja pasti, tidak ada cuti, tidak ada jaminan hariesok. Hidupnya dikendalikan oleh satu logika purba: hari ini kerja, hari inimakan. Besok? Kita bicarakan nanti, kalau masih sempat.

Dalam kondisi seperti itu, negara kemudian datang membawajargon manis: Gerakan Ayah Mengambil Rapor. Sekilas tampak progresif.Negara akhirnya menyadari ayah bukan sekadar ATM keluarga. Namun di balik niatbaik itu, ada ironi yang nyaris tak terbantahkan: negara meminta kehadiransimbolik dari ayah yang hidupnya ditopang oleh ketidakhadiran struktural negarasendiri.

Mengambil rapor bagi ayah kelas menengah mungkin hanya soalparkir mobil dan tanda tangan. Bagi ayah sektor informal, itu soal meninggalkanlapak, kehilangan pelanggan, atau menunda rezeki. Negara lupa—atau pura-puralupa—bahwa kehadiran tidak pernah gratis bagi mereka yang hidup dari kerjaharian. Kehadiran selalu punya ongkos, dan ongkos itu dibayar dengan nasi yangmungkin tak jadi terhidang.

Maka, fatherless di Indonesia bukan semata soal ayahyang tidak peduli. Ia adalah produk dari sistem ekonomi yang memeras waktu,tenaga, dan harga diri ayah, lalu menuntutnya tetap hangat dan reflektif dirumah. Ayah diminta menjadi figur emosional setelah seharian menjadi korbanstruktural. Sebuah tuntutan yang, kalau boleh jujur, nyaris kejam.

Di sisi lain, budaya ikut memperparah. Maskulinitastradisional mengajarkan ayah untuk kuat, diam, dan bekerja. Terlalu dekatdengan anak dianggap lembek. Terlalu sering hadir di sekolah dicurigai tak lakudi pasar kerja. Maka ayah memilih jalur aman: bekerja lebih keras, berbicaralebih sedikit, dan berharap cinta bisa dipahami tanpa pernah benar-benardiucapkan.

Sekolah pun tak sepenuhnya bebas dari dosa. Dunia pendidikankita lama dibangun dengan asumsi bahwa pengasuhan adalah urusan ibu. GrupWhatsApp wali murid dipenuhi suara ibu-ibu, jadwal rapat disusun pada jamkerja, bahasa komunikasi sarat nuansa domestik. Ayah tak diundang, lalu dicaptak peduli. Ini semacam pengusiran halus yang dilakukan dengan senyumadministratif.

Dalam lanskap semacam ini, Gerakan Ayah Mengambil Raporsebenarnya lebih pantas dibaca sebagai pengakuan negara atas kegagalannyasendiri. Bahwa selama ini ayah dibiarkan sendirian menghadapi sistem kerja yangtidak ramah keluarga. Bahwa negara baru ingat peran ayah ketika dampak fatherlessmulai tampak: krisis emosi anak, rapuhnya disiplin, dan generasi yang tumbuhdengan lubang relasi.

Namun pengakuan tanpa koreksi kebijakan hanya akan melahirkanseremoni. Ayah datang ke sekolah, difoto, dipuji, lalu kembali ke dunia yangsama—tanpa cuti, tanpa perlindungan, tanpa perubahan nyata. Negara merasaprogresif, sementara ayah tetap realistis: besok harus bekerja lagi.

Ayah Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan cinta. Ia hanyakekurangan waktu, energi, dan sistem yang berpihak. Anak-anak kita tidakkekurangan figur ayah; mereka kekurangan ayah yang sempat duduk, mendengar, danhadir tanpa tergesa. Selama negara masih mengira kehadiran ayah adalah soalniat individual, bukan persoalan struktural, fatherless akan terushidup—bukan karena ayah tak mau pulang, tetapi karena rumah terlalu mahal untukdidatangi dengan tenang.

- Advertisement -

Dan mungkin, di situlah letak kesedihannya yang paling sunyi:ayah bekerja agar anaknya hidup layak, tetapi anak tumbuh tanpa sempat hidupbersama ayahnya.

Kaha Anwar
Kaha Anwar
Guru Sains di MTs Riyadlatul Ulum Batanghari, Lampung Timur
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.