Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Atraksi Interpersonal Menjelang Pilpres 2019 | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Atraksi Interpersonal Menjelang Pilpres 2019

Mengenang Kepergian Maestro Jurnalistik Indonesia

Kabar duka menghampiri dunia jurnalistik Indonesia. Jakob Oetama, Pendiri Harian Kompas yang juga tokoh besar dunia jurnalistik Indonesia wafat pada hari ini, 9 September...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Mengejar Cinta yang Halal

Saya percaya, setiap yang kita lakukan akan memiliki dampak bagi orang lain; langsung maupun tidak langsung. Apalagi, jika kita adalah seorang pesohor atau tokoh...

Akhirya Freeport Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Berawal dari petualangan penjajah Belanda Jean Jacques Dozy pada 1936, ia melakukan pendakian di gunung Papua untuk mencari ladang baru untuk dieksplorasi. Saat ia...
Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

Mungkin yang hanya ada di benak para politisi adalah kekuasaan yang benar-benar mutlak. Entah doktrin apa yang ada di dalam dirinya itu, entah karena ia haus akan kekuasaan, atau bahkan karena ia seringkali kalah dalam perebutan kekuasaan tersebut.

Pada umumnya, yang dilakukan oleh para politisi memang selalu menghasilkan citra, atau bahkan setiap tindakan yang dilakukannya merupakan tindakan yang sengaja untuk memperoleh citra yang positif.

Oleh karenanya, jangan pernah mencoba-coba untuk memberikan pandangan normatif terhadap tindakan-tindakan para politisi tersebut, karena pada akhirnya tindakan tersebut selalu terselip motif untuk membodohi masyarakat.

Misalnya saja Jokowi, sebelum menjabat sebagai Presiden, ia mencoba memberikan citra yang seringkali di asosiasikan sebagai tokoh yang peduli dengan masyarakat menengah ke bawah, tetapi ketika sudah menjadi presiden, ia justru menaikkan harga BBM, kemudian juga TB. Iman Ariyadi (eks Walikota Cilegon), yang pada awalnya selalu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat menengah ke bawah di kota Cilegon, tetapi pada akhirnya tindakan tersebut hanyalah sebuah manuver politik yang sangat kuno. Karena ternyata ia menerima suap dari Transmart yang pada waktu itu akan berdiri di kota Cilegon.

Jadi pada intinya, mempercayai atau bahkan menjadi pendukung fanatik bagi para politisi tersebut tidak akan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik, karena percuma saja yang mereka janjikan bukanlah untuk kedaulatan masyarakat, tetapi hanya untuk kedaulatan oligarki yang menjijikan itu.

Seiring berjalannya waktu, ketika para politisi sudah mendapatkan citra bahwa ia adalah politisi yang selalu mengumbar janji, justru mereka tidak akan tinggal diam saja, mereka akan mencari cara agar citra tersebut menjadi hilang, bahkan para politisi juga akan mencari cara agar masyarakat menjadi lupa terhadap kesalahan fatal tersebut.

Pada saat ini cara yang sedang menjadi trend bagi para politisi adalah membangun hubungan interpersonal dengan beberapa tokoh yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik di Indonesia. Bahkan dengan membangun hubungan interpersonal dengan beberapa tokoh tersebut, akan lebih efektif dibandingkan dengan memberikan propaganda lewat media massa ataupun media sosial.

Runtuhnya Money Politik dan Bangkitnya Atraksi Interpersonal

Memang tanpa di pungkiri money politik juga sebagai cara yang efektif untuk memenangi pertarungan politik, karena walau bagaimanapun cara tersebut bisa menghidupi masyarakat yang hidupnya sangat kekurangan materi.

Tetapi seiring berjalannya waktu, money politik tidak begitu mudah untuk memengaruhi generasi milenial. Pada saat ini kita bisa melihat bagaiamana cerdasnya generasi milenial dalam melihat dinamika politik di Indonesia, dan tentunya jika money politik diberikan begitu saja mereka pun pasti akan menolaknya.

Tetapi tetap saja, seberapa hebat generasi milenial saat ini akan selalu terpengaruh jika loby politik yang dilakukan dengan cara berintegrasi dengan kebutuhan-kebutuhan idealis yang ada di dalam diri mereka.

Misalnya saja pada saat ini, generasi milenal cenderung lebih memilih pemimpin yang tidak hanya mengumbar janji, tetapi ada bukti nyata dalam merealisasikan program kerjanya, dan pada akhirnya mereka pun selalu tergoda dengan komunikasi politik yang mengagitasi bahwa kerja nyata adalah upaya untuk membangun Indonesia lebih baik. Nahasnya ketika kerja nyata dilakukan justru tetap saja yang diuntungkan hanyalah golongannya saja, bukan masyarakat pada umumnya.

Pada intinya untuk memengaruhi masyarakat umum tidak hanya berkutat soal kerja nyata, agitasi dan propaganda politik, apalagi money politik. Untuk membentuk status quo, para politisi pada saat ini cenderung menerapkan atraksi interpersonal dengan para tokoh yang paling berpengaruh dalam dunia politik Indonesia.

Menurut (Rakhmat, 2011: 109) makin tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecnderungan kita berkomunikasi dengan dia. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang, kita sebut sebagai atraksi interpersonal (Atraksi berasal dari bahasa Latin attrahere , ad; menuju, ttrahere ; menarik). Jadi pada intinya atraksi interpersonal merupakan upaya manusia untuk selalu berkomunikasi dengan manusia lainnya yang mempunyai kesamaan ideologi dengannya.

Jika Romeo dan Juliet tidak bisa dipisahkan artinya mereka sudah membentuk atraksi interpersonal yang efektif, karena mereka telah mempunyai kesamaan pemikiran untuk melakukan bunuh diri. Begitupun dengan Karl Marx dan Freidrich Engels, kedua pasangan cendekiawan ini merupakan sahabat yang telah mempunyai kesamaan dalam ideologi komunisnya.

Tetapi kesamaan ideologi tidak di ciptakan dalam sekejap mata, untuk menciptakan kesamaan ideologi perlu adanya upaya untuk menyatukannya. Upaya untuk menyatukan ideologi biasannya ada yang saling tertindas terlebih dahulu ataupun biasanya ada yang sedang mengalami kejayaan terlebih dahulu. Oleh karenanya, atraksi interpersonal para politisi akan terbangun jika mereka mempunyai nasib yang sama.

Atraksi Interpersonal Para Politisi Indonesia

Lembaga survei yang berada di Indonesia pada saat ini selalu mengunggulkan Jokowi dalam perebutan kursi pilpres 2019. Tetapi oposisi Jokowi pun tidak tinggal diam dengan hasil survei tersebut, beberapa oposisi Jokowi justru sedang meracik strategi untuk mengalahkan Jokowi pada pilpres 2019 nanti.

Beberapa cara memang seringkali hanya berakhir nihil, bahkan ketika kehabisan akal Prabowo pun sampai melakukan retorika fiksinya dengan mengatakan bahwa Indonesia akan hancur pada tahun 2030 nanti. Begitupun dengan opisisi yang lainnya, dalih agama pun pada akhirnya tidak bisa mengalahkan dominasi Jokowi pada saat ini.

Kendati demikian, karena bernasib sama, di mana mereka sama-sama tertindas oleh komunikasi politik Jokowi, mereka pun saling membangun atraksi interpersonal. Misalnya saja Prabowo yang sedang mencoba membangun atraksi interpersonal dengan Rieziq Shihab, tentunya jika cara ini berjalan dengan efektif maka tidak menutup kemungkinan Prabowo akan memenangi pertarungan politiknya denga Jokowi.

Karena ketika Rieziq Shihab mengatakan kepada semua umatnya di Indonesia bahwa mereka harus menyoblos Prabowo, maka tentu saja Jokowi pun akan kalah telak. Jokowi memang belum pernah memperlihatkan tendensi politiknya, maka atraksi interpersonal Jokowi pun belum terbangun dengan baik. Hanya saja yang berupaya untuk membangun atraksi interpersonal dengan Jokowi adalah Cak Imin dan Gus Rommy, walaupun itu hanya sebatas wacana yang belum final.

Oleh karenanya, Indonesia jangan dijadikan ladang untuk menanam benih pencitraan politik dengan dalih mencerdaskan bangsa, jika ingin membuat Indonesia lebih maju, maka upaya yang harus dilakukan adalah berintegrasi dengan jeritan masyarakat kecil yang masih kekurangan intelektual, bukan menciptakan suguhan politik yang bermuara kepada oligarki.

 DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaludin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.