OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Apakah Masih Relevan Menempel Kata ‘PKI’ dalam ‘G30S/PKI’?

Fauzan Nur Ilahi
Mahasiswa tingkat akhir di UIN Jakarta, dan seseorang yang bercita-cita menjadi anaknya Raffi Ahmad

Kita nampaknya sudah harus menelaah tentang penempelan kata “PKI” dalam akronim “G30S/PKI”. Bukan atas dasar mencoba menghilangkan peran PKI dalam peristiwa pemberontakan yang terjadi pada tanggal 30 Semptember 1965, tetapi hanya untuk menghindari pikiran kabur berupa keyakinan bahwa PKI adalah satu-satunya dalang di balik kudeta yang oleh para ahli disebut sebagai satu bagian dari sejarah Indonesia modern, yang paling menyisakan banyak lubang gelap.

Saya tak menampik bahwa dalam upaya untuk merangkai puzzle seutuh mungkin dari peristiwa G30S, PKI harus kita masukkan sebagai salah satu bagian puzzle yang cukup besar. Sebab dengan melihat bagaimana pengaruh ideologi yang diusung PKI kala itu, basis massa, serta melihat keterlibatan DN Aidit, sukar untuk mengeluarkan PKI dari permainan puzzle ini.

Namun di sisi lain, anggapan umum bahwa PKI adalah satu-satunya kelompok yang menjadi dalang kudeta sepertinya juga perlu ditinjau ulang. Anggapan seperti ini nampaknya menyangsikan bagaimana polemik yang terjadi dalam tubuh tentara (Angkatan Darat/AD) semasa itu. Pun kita nampaknya melupakan bagaimana ambisi Bung Karno yang mendeklarasikan dirinya sebagai presiden seumur hidup.

Apakah hal itu berkaitan dengan peristiwa kudeta? Oh, tentu saja. Beberapa hal tersebut menentukan gejolak politik yang ada di Indonesia semasa 1965. Oleh karena itu, Hermawan Sulistyo dalam bukunya “Palu Arit di Ladang Tebu” menyebut bahwa terkait jawaban atas pertanyaan ‘siapa dalang di balik kudeta ‘65’, masih belum menemukan jawaban tunggal apalagi final.

Paradigma seperti ini sejatinya tak bisa kita bilang baru. Buku Hermawan saja terbit sekitar 10 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 2011. Namun melihat sikap pandangan umum masyarakat kita saat ini, nampaknya paradigma yang dibawa buku ini (atau buku-buku sejenis) masih belum banyak dibaca. Atau kendati sudah dibaca, sebagian pembaca bersikap denial dengan temuan-temuan baru yang dianggap tak sejalan dengan kredo sejarah mainstream.

Sementara sejarah umum hanya memunculkan satu tokoh dalang di balik aksi kudeta, paradigma alternatif ini, dengan mengacu pada gejolak politik saat itu, membawa setidaknya lima teori tentang aktor di balik aksi kudeta. Yaitu: 1) PKI; 2) Polemik internal Angkatan Darat; 3)Bung Karno dengan ambisinya; 4) Soeharto; dan 5) Jaringan intelejen yang dibentuk oleh AD.

Setiap teori memiliki reason-nya masing-masing. Para pembaca bisa meninjau lebih lanjut tentang penjabaran mengenai teori-teori tersebut dalam buku Hermawan Sulistyo. Pemarapan yang ringkas tersebut hanya untuk menunjukkan bahwa penempelan kata “PKI” dalam “G30S/PKI” sudah tak lagi relevan.

Buku yang seringkali dijadikan referensi atau rujukan untuk menelaah peristiwa sejarah ini adalah apa yang dikenal dengan ‘Buku Putih’. Yaitu enam jilid buku yang disandarkan pada sebuah tesis yang ditulis oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto berjudul, “Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, Dan dan Penumpasannya”.

Atau yang paling akrab dengan masyarakat kita adalah sebuah film yang berjudul “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI” dengan Arifin C. Noer sebagai sutradara.

Padahal kita tahu bahwa film dan buku ini banyak menuai kritik. Bukan karena semua konten di dalamnya keliru (walaupun sebagian ada yang tak sesuai fakta), tetapi karena masih ada beberapa sisi yang belum terungkap (entah sengaja atau tidak). Sehingga, untuk melengkapi pengetahuan kita, sejatinya dibutuhkan buku-buku alternatif yang lebih jernih untuk mengungkap hal-hal yang oleh pandangan umum kadung dianggap salah dan belum dibongkar oleh buku sejarah mainstream.

Dalam konteks ini, maka perlu kiranya kita membaca karya-karya lain semisal “Cornell Paper” yang ditulis oleh Benedict Anderson dan Ruth McVey. Selain itu kita juga bisa merujuk sebuah buku berjudul “Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto” yang ditulis oleh Jhon Roosa. Atau sebuah buku karya Robert Cribb yang berjudul “The Indonesian Killing: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966”.

Membaca buku-buku tersebut tentu bukan dalam rangka mengorek luka lama. Kita tahu bahwa selepas peristiwa pemberontakan ’65, disusul oleh perisitiwa mengerikan lainnya. Yakni pembantaian anggota (atau yang setidaknya ditengarai sebagai anggota) PKI yang terjadi sekitar penghujung tahun ’65 sampai awal tahun ‘66.

Luka akibat konflik tersebut terlalu mengerikan untuk kita korek kembali. Tetapi bagaimanapun, keadilan (walaupun ini merupakan hal yang sulit di Negara kita) harus ditunjukkan kepada publik. Setidak-tidaknya adil dalam berpikir dan bertindak, jika adil dalam ranah hukum sukar sekali didapat.

Oleh karena itu, orientasi membaca buku-buku tersebut selain untuk memperkaya pengetahuan, atau agar lebih jernih melihat bagaimana proses perjalanan Republik kita hingga sampai pada titik sekarang, membaca beberapa buku-buku tersebut menjadi penting agar kita dapat meninjau bagaimana peristiwa pemberontakan yang akhirnya disusul dengan aksi pembantaian besar-besaran tersebut bisa terjadi.

Saya ingat sebuah kalimat yang lahir dari Ariel Heryanto. Dia berpendapat bahwa tak ada kekerasan massal yang dilakukan selama berbulan-bulan dan mencakup wilayah yang besar, sementara Negara tak ikut campur di dalamnya. Dan dalam rangka menguji premis ini pulalah, kita membaca buku-buku tersebut.

Sekian.

Fauzan Nur Ilahi
Mahasiswa tingkat akhir di UIN Jakarta, dan seseorang yang bercita-cita menjadi anaknya Raffi Ahmad
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.