Sebelum Nietzsche, pentolan filsuf yang punya konsep tersusun rapi tentang sesuatu adalah Baruch Spinoza. Konsep pemikiran filsafat yang ditelisik oleh Spinoza diantaranya tentang ‘baik’ dan ‘buruk’. Jika Nietzche dengan filsafat palu atau dinamit untuk menghancurkan apa itu ‘baik’ dan ‘jahat’, maka Spinoza mulai mendefinisikan baik dan buruk.
Baiklah, kita lebih dahulu memperbincangkan sekelumit tentang ‘baik’ (bonum). Dalam Ethics (1959:144), Spinoza mendefinisikan tentang apa itu baik: “Saya memahami bahwa dimana kita tahu secara pasti pada sesuatu yang bermanfaat bagi kita,” kata Spinoza.
Jadi, seseorang anggap baik, maka dalam benak dan tindakannya juga baik. Misalnya, jika si A berbuat baik pada si B bukan berarti dikaitkan dengan perbuatan itu baik. Artinya, hal yang baik itu muncul dengan sendirinya, bukan karena jiwa atau pikiran dan tubuhnya yang mengantarkannya pada sifat baik karena tidak ada yang mendorong untuk berbuat baik, kecuali sifat baik yang dimilikinya.
Karena itu, Spinoza punya pandangan bahwa pengetahuan tentang baik itu tidak lebih daripada sentuhan emosi berupa kesenangan atau penderitaan. Ambang batas dari baik itu tidak terikat oleh kesenangan atau penderitaan. Baik tidak datang dari dalam diri seseorang sejauh dia secara spontan tidak melek dan sepi sekali dari pengetahuan tentang baik.
Kenapa kata baik seolah penting diperbincangkan? Kehidupan dan pemikiran kita tentang baik pada prinsipnya tidak dinyatakan sebagai kata sifat dan tindakan nyata selama kata baik sebagai sesuai yang terselubung, tersembunyi bahkan samar-samar. Seseorang dikatakan baik karena tidak ada yang bisa disembunyikan. Semua jelas dan nyata bagi dan dari semua arah. Seseorang yang menyatakan baik-baik saja, misalnya, padahal di balik itu menyimpan sesuatu yang buruk.
Secara terbuka, setiap sesuatu yang bertujuan untuk mengembangkan kekuatan kita yang membuat yang lain sama-sama berkembang tanpa paksaan adalah hal yang baik. Sesuatu yang baik melibatkan tubuh, sehingga bisa berhubungan timbal-balik hal-hal yang melebihi bentuk-bentuk dikenal sebelumnya dalam banyak arah yang diinginkan.
Singkat kata, dalam pandangan Spinoza bahwa hal-hal yang baik secara etis berhubungan dengan sesuatu yang berguna. Itulah kelebihan Spinoza, di balik kecurigaan pada posisi ateis, dia masih mengakui adanya hal-hal baik.
Baik bukan cuma kata sifat, ia juga merupakan sesuatu yang tarik-menarik dengan kekuatan di luar dirinya secara spontan maupun tidak. Baik melebihi sesuatu yang ada karena ia begitu nyata.
Dalam persfektif Islam, kata baik atau kebaikan tersebar dalam teks agama (Al-Qur’an). Kata ‘baik’ atau kebaikan muncul dengan makna yang beragam: Q.S. [2] : 110 al-Khair; Q.S. [2] : 201 al-Hasanah; Q.S. [2] : 168 al-Thoyyib; Q S. [3] : 104 al-Ma’ruf; Q S. [2] : 177 al-Birr.[²] Kadang, ada rujukan dalam teks agama (al-Hadits] mengenai kebaikan dihubungkan dengan sedekah, seperti senyuman dari si A ke B digambarkan sebagai sedekah karena senyuman juga sebagai nilai tanda kebaikan. Bagaimana kebaikan yang lain?
Tentu, dalam keyakinan umat Islam, kebaikan tetap selalu diikuti dengan perbuatan baik. Setiap kebaikan adalah sedekah, bukan?
Tapi, umat Islam itu aneh karena kurang percaya diri karena tidak ada perintah atau ayat yang menyebutkan tentang menuntut ilmu senjata nuklir, membuat komputer dan media sosial sendiri sampai teknologi satelit yang bergentanyangan di langit. Sebagian umat Islam mungkin mengira jika teknologi dan ilmu-ilmu dunia lainnya itu bukan kebaikan. Sains dan teknologi dianggap atau tidak tertanam dalam pikiran umat Islam sebagai sesuatu yang ‘baik’ bagi sesama dengan papun latar belakangnya.
Jika cara berpikir dan mental demikian adanya, maka umat Islam lebih mundur sebelum masa keemasan dunia Islam dahulu kala. Bukankah peradaban manusia yang maju (Islam, Barat, non Muslim lainnya) itu lantaran bukan berangkat dari hal-hal yang buruk, melainkan hal-hal yang baik? Zaman kegelapan muncul karena menjauh dari hal-hal baik atau kebaikan itu sendiri. Begitu sebaliknya. Zaman yang berubah maupun sains dan teknologi yang canggih itu bisa baik karena dikendalikan oleh orang-orang baik. Yang buruk tetap buruk dalam mengelola kehidupan. Berdampak buruk sains dan teknologi datang pula dari yang buruk.
