Kamis, Juni 20, 2024

Antara Perubahan dan Kesenjangan

Dalam sejarah hidupnya, manusia pasti mengalami suatu perubahan. Mulai dari pandangan hidup, hingga pada budaya yang olehnya ia ciptakan. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, telah berhasil mempercepat suatu prubahan yang mereka alami.

Sebagian para peneliti percaya adanya perubahan pada manusia tejadi sejak awal mula terjadinya revolusi kognitif. Sekitar 70.000 dan 3.000 tahun silam telah muncul cara berfikir dan berkomunikasi pada manusia purba.

Nah, hal itulah titik awal dimana manusia dapat membuat perubahan dalam kehidupannya, sebagaimana juga yang  telah di bahas oleh Noval Noah Herari dalam bukunya Homo Sapiens. Mulai dari revolusi kognitif tersebut kemudian terjadi pula revolusi agrikultur dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan memang tak dapat dielakkan dari kehidupan manusia.

Belakangan ini, masyarakat telah di kagetkan oleh salah satu produk kecerdasan buatan (Artificial Intelligenci), yakni ChatGPT, merupakan chatbot yang dapat menjawab berbagai pertanyaan yang diinput melalui kolom chat.

ChatGPT ini dapat membantu menjawab suatu pertanyaan yang diajukan oleh penggunanya. Tak hanya itu, teknologi ini juga bisa mengerjakan sebuah perintah, misal menuliskan artikel atau desain.

Alih-alih menulis dengan waktu berjam-jam, ChatGPT dapat menyelesaikan satu tulisan dalam waktu yang singkat- bangkali tak sampai satu menit. Tentu hal ini dapat membantu pekerjaan manusia, atau dengan kata lain menggantikan manusia.

Selayaknya teknologi manapun, hal ini tidak luput dari sisi positif dan negative. Di Indonesia sendiri tampaknya arus dominan masih memandang teknologi dari segi positifnya—terutama pemerintah.

Sebagian lagi, kalangan yang telah mengkhawatirkan dampak teknologi sering dikucilkan sebagai kelompok yang takut akan kemajuan. Namun, pandangan baik atau buruk dampaknya, tergantung dari beberapa kondisi tertentu. Kita tak bisa menampik bahwa hal inilah yang nanti berdampak di masa mendatang.

Kecerdasan buatan (AI) kali ini sangat berbeda dengan revolusi teknologi lainnya. Dilansir dari Kompas.id, bahwa teknologi ini lebih dikembangkan untuk mengefesienkan proses dan mengonsolidasi perusahaan. Teknologi digital bukan dimaksudkan untuk mendampingi kapasitas manusia untuk naik ke karya yang lebih tinggi, melainkan menggantikan apa yang dilakukan manusia.

Hal ini menuntut perlunya kecakapan baru, di setiap individu ataupun lembaga institusional. Apabila tidak dapat beradaptasi dengan cepat ia akan mengalami kesenjangan dan ketertinggalan. Karena hal ini dapat merubah nilai dari suatu pekerjaan.

Sejalan dengan pemikiran William G. Ogburn (1886-1959) yang beranggapan bahwa budaya non material (nilai, norma) tidak sinkron persis dengan perubahan budaya material (teknologi). Dengan kata lain terjadi suatu kesenjangan antara budaya material dan non material, hal inilah yang disebut oleh William pada tahun 1922 sebagai Cultural Lag.

Seperti ketika awal mula adanya kendaraan (motor)—yang merupakan budaya material. Kemudian barulah muncul norma dan aturan baru, selayaknya rambu lalu-lintas yang dapat kita lihat sekarang. Contoh ini menunjukan bahwa budaya material menuntut adanya perubahan budaya non-material.

Tentu ini merupakan tantangan bagi mereka yang bersikukuh mempertahankan nilai yang barangkali sudah tak relevan. Khususnya dalam organisasi atau lembaga yang sudah mapan, alih-alih memperkokoh nilai, jika tak mampu beradaptasi dengan budaya baru akan mengalami cultural lag atau ketertinggalan.

Dikalangan masyarakat sendiri adanya ChatGPT berhasil membuat sebagian dari mereka mengalami kecemasan. Entah itu takut pekerjannya nanti akan terganti oleh mesin, atau bahkan takut akan ketertinggalannya beradaptasi dengan budaya digital.

Namun kita tak perlu khawatir, apabila di tinjau secara ontologi teknologi tetap akan ada di bawah manusia—terkendalikan. Secerdas apapun teknologi tidak akan berhasil menggantikan manusia. Begitupun secerdas-cerdasnya manusia tidak dapat menggantikan sang maha penciptanya.

Seperti yang biasanya di tayangkan pada film-film futuristik, antara lain Film I Robot yang sutradarai oleh Alex Proyas. Film ini mengisahkan konflik antara manusia dan robot, pada bagian ending film tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa secanggih-canggihnya teknologi yang diciptakan oleh manusia tidak akan berhasil mengalahkan penciptanya.

Dari film futuristik diatas kita dapat belajar bahwa adanya perkembangan teknologi ini hanya menuntut manusia untuk beradaptasi serta menggunakan teknologi sebaik mungkin. Bagaimanapun budaya non-material (nilai dan norma) harus membuka dirinya terhadap perubahan budaya material (teknologi), supaya tidak terjadi kesenjangan budaya seperti yang di sebut oleh William G. Ogburn.

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.