Senin, Juni 17, 2024

Pesantren dalam Pusaran Era ChatGPT

Muhammad Muzadi
Muhammad Muzadi
Penikmat Kajian Moderasi, Pendidikan, dan Kebangsaan

Demam ChatGPT (Generative Pre-training Transformer) semakin nyata kian menjamur. Banyak kalangan menggandrungi produk AI (Artificial Intellegence) ini karena memberi pengalaman yang begitu mengesankan. Yakni, proses jadi lebih praktis dan efisien. Mengutip data dari firma analitik Similarwebhingga bulan Juni 2023, ChatGPT memiliki lebih dari 100 juta pengguna dan trafiknya mencapai 1,6 miliar kunjungan.

Dari situ, para ilmuwan, akademisi bereaksi dengan melakukan terobosan pengintegrasian ChatGPT ke semua sektor. Salah satunya, lembaga pendidikan. Pendidikan dinilai penting, karena fungsionalisasinya sebagai tempat pencetak sumber daya manusia. Untuk itu, pendidikan harus bermutu. Transformasi ini diharapkan mempengaruhi tujuan pendidikan, proses, materi dan metode pembelajaran, penilaian dan evaluasi, serta hasil belajar secara sistematis.

Adalah Xiaoming Zhai, seorang akademisi yang melakukan penelitian bertajuk ChatGPT and AI: The Game Changer For Education (2023). Hasil penelitiannya menyimpulkan, integrasi ChatGPT adalah kekuatan pendorong dalam revolusi pendidikan kontemporer. ChatGPT memiliki potensi mampu memberikan transformasi pendidikan secara signifikan, bagi pendidik, peserta didik, maupun proses pembelajaran. Penerapan ini, menurutnya, akan menjadi tren penting dan arah di masa mendatang.

Saya kemudian terbesit sebuah pertanyaan, bagaimana bila menilik pesantren, yang mana juga lembaga pendidikan (keagamaan)? Apakah juga terdampak? Apakah integrasi ChatGPT akan menghasilkan tendensi kesimpulan yang sama atau justru berbanding terbalik? Kita tahu kultur di beberapa pesantren masih ada yang menggulirkan aturan ketat terhadap penggunaan teknologi dan sekaumnya. Bagaimana vitalitas pesantren dalam era ChatGPT?.

Pesantren dan ChatGPT

Sebelum menjawab, saya akan menyajikan pemahaman awal tentang urgensi dan komparasi—manfaat dan kerugian—ChatGPT. Dengan ini nantinya terkonstruk sebuah jawaban yang logis dan komprehensif. Dilengkapi suguhan saran sebagai penunjang produktivitas ChatGPT di kehidupan pesantren. Juga menutup celah, lubang terhadap kemungkinan hal ihwal sisi kemudhorotannya.

ChatGPT adalah varian kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh OpenAI berbasis teknologi NLP (Natural Language Processing/pemroses bahasa alami). Secara khusus, memiliki kemampuan menghasilkan teks respons yang hampir tidak bisa dibedakan oleh manusia. ChatGPT merupakan chatbot yang canggih. Mampu memenuhi permintaan user dengan berbasis teks, seperti menjawab pertanyaan sederhana, menuntaskan tugas bahasa; translate & meringkas, menghasilkan esai/artikel, hingga pembuatan ragam konten digital.

Dalam konteks ini, sangat disayangkan bila pesantren apatis terhadap teknologi ChatGPT. Platform ini tergolong mudah dan murah. Siapa pun bisa mengakses dan menjelajahi ChatGPT. Akses layanan register dan log in dapat dilakukan setiap saat. Dan yang lebih mencengangkan, bisa menangkap data jauh lebih banyak, lebih cepet dibanding proses manual manusia.

Jika pesantren mengintegrasikan ChatGPT, lalu dioperasikan secara maksimal dan tepat, dampak turunannya sangat mungkin berpengaruh pada pengembangan (kemajuan & keberlanjutan) pesantren.

Berikut hasil keuntungan yang didapat pesantren jika memanfaatkan produk Open AI, ChatGPT; pertama, website pesantren. ChatGPT mampu membantu dalam membuat website pesantren. Pihak ChatGPT nanti yang meng–coding, memberi sebuah struktur HTML hingga kode CSS. Tugas kita (manusia) hanya memberi arahan dan memodifikasi jika belum sesuai konteks. Setelah website terbentuk, upload ke web hosting dan daftarkan nama domain. Tunggu kisaran 24 jam, website pun sudah aktif dapat diakses di Internet. Sungguh sangat praktis.

Perlu diketahui, kedudukan website berguna memberi informasi pondok pesantren. Dimulai visi misi, kegiatan ta’lim, program keunggulan, hingga informasi lainnya. Website yang bagus, idealnya menampilkan nuansa distingsif sekaligus unsur kreatif, sehingga mempersuasi orang untuk melirik dan mengunjungi laman. Jalan satu-satunya, ketika orang ingin tahu informasi suatu pondok, tapi tidak punya kenalan atau sanak family yang mondok, maka informasi dari website menjadi pilihan konkritnya.

Kedua, efektivitas dakwah lewat konten digital. Peran ChatGPT dapat mempermudah merumuskan konsep, ide dakwah di jejaring digital. Tinggal tulis model konten yang diinginkan seperti apa, apakah yang digandrungi dan relevan dengan anak muda atau bukan. Hasilnya nanti muncul. Teks itu tinggal disalin dan diubah menjadi konten. Pembuatannya, bisa menggunakan model (manusia) langsung atau sebatas narasi video. Secara spesifik, pembuatan konten demikian telah teruji baik oleh para konten kreator. Kata mereka, suatu langkah yang efektif, karena mempermudah dalam membuat konten jadi lebih cepat.

Ketiga, pembelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Alasan kenapa concern pada dua bahasa, karena sepanjang yang saya ketahui pondok pesantren baru berkutat pada dua bahasa itu–malah kebanyakan condongnya hanya pada bahasa Arab saja. ChatGPT bisa membantu para santri dalam konteks memberbaiki kemampuan berbahasa, memperbanyak kosakata, hingga pemahaman bacaan. Para santri dapat berlatih berkomunikasi, caranya tinggal tulis. ChatGPT nanti merespon, memberi feedback secara objektif. Memperbaiki bila terjadi kekeliruan.

Keempat, fleksibilitas tutor virtual dan pengembangan kemampuan berpikir. ChatGPT dengan ‘kecerdasannya’, bisa menjadi tutor virtual, sekaligus melatih mengembangkan kemampuan berpikir kita. Sebenarnya ini cocok ketika para santri akan menghadapi bahtsul masail internal pondok atau syawir. Para santri ini dapat pemanasan dengan berdebat, menuangkan pemikiran ke ChatGPT. Jawaban ChatGPT bisa sebagai bahan refleksi untuk menghadapi perdebatan sesungguhnya.

Kelima, ladang ilmu. Kajian para santri akhir-akhir ini terkadang menuntut hasil jawaban yang ilmiah. Integrasi ChatGPT adalah langkah tepat. ChatGPT menyediakan jawaban yang sangat kaya–tinggal balik lagi kekreatifan kita dalam membuat prompt kepada platform tersebut. Memanfaatkan ChatGPT dengan baik, menjadi keberkahan tersendiri karena ilmu yang didapat semakin banyak dan multiperspektif.

Penting untuk dicatat, bahwa meskipun teknologi ChatGPT memberi segudang manfaat. Posisi platform ini hanya sekedar alat. Bukan tujuan. Pihak pesantren lewat pengasuh dan dewan asatidz harus tetap mengutamakan penanaman ta’lim, adab, tanggung jawab, dan kemandirian. ChatGPT belum mampu menghidangkan ibarot-ibarot secara rinci. Karena itu, para santri perlu dimonitor, dibatasi untuk tidak kebablasan mengakses sampai menjatuhkan pada laku kontraproduktif. Yaitu, lupa kewajibannya sebagai thalibul ‘ilmu.

Inilah cara bijak dan elegan yang dapat diterapkan pesantren dalam menyikapi perkembangan teknologi ChatGPT. Sudah sepantasnya, pesantren tidak alergi terhadap adanya invasi teknologi yang semakin berkembang. Pendekatan dengan memanfaatkan ChatGPT ini akan membuka peluang baru bagi pesantren untuk menghasilkan tatanan yang lebih bermutu, dinamis, dan memberdayakan.

Muhammad Muzadi
Muhammad Muzadi
Penikmat Kajian Moderasi, Pendidikan, dan Kebangsaan
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.