Jumat, Juni 18, 2021

Alumni Bergerak Hadang Demoralisasi Politik

Banalitas Kejahatan, Asal Mula Totaliterisme, dan Vonis Ahok.

Sejak putusan hakim tentang vonis bersalah atas kasus penistaan agama yang diberikan kepada Basuki Tjahaya Purnama, saya melihat fenomena ini sejalan dengan genealogi kejahatan...

Merebut (Kembali) Masjid

"Dulu ke masjid kita kehilangan sandal, sekarang kita kehilangan mimbar" KH Hasyim Muzadi Kata-kata dari Kiai Hasyim ini disampaikan oleh Profesor Azyumardi dalam pelatihan mubalig...

Agama dan Budaya dalam Pusaran Globalisasi

Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan secara kasat mata mampu memotong jarak perbedaan budaya, kehidupan sosial dan pesatnya arus informasi. Hal tersebut tentu membawa pengaruh...

Bradley Lowery dan pelajaran bagi para pecundang

Seniman kesohor di tanah Inggris bernama Banksy sempat berkata begini. “Percaya pada takdir hanya untuk pecundang. Itu adalah cara bagi pecundang untuk mencari alasan...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Kelompok Intelektual menyeruak menampakkan dukungan kepada pasangan Jokowi – Kiai Ma’ruf di Pilpres 2019. Ya, ini adalah wujud tangung jawab moral ancaman demoralisasi politik.

Apa yang dilakukan para alumni perguruan tinggi beberapa kampus negeri ternama di Indonesia adalah sebuah akumulasi keresahaan sosial mereka terhadap situasi politik kekinian. Politik yang tanpa mengedepankan moralitas dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Fitnah, Penyebaran berita bohong,  caci-maki dan ujaran kebencian. Dianggap sebagai sebuah kelayakaan.

Miris,  melihat iklim politik hari ini. Publik dipertontonkan dengan kampanye politik yang jauh dari semangat demokrasi. Tiap hari disajikan hasutan-hasutan yang provokatif. Yang isinya,  mengaduk-aduk heterogenitas tatanan sosial masyakarakat kita.  Perbedaan yang selama ini menjadi kekayaan sistem sosial Indonesia.  Sekarang menjadi ancaman yang menakutkan.  Suatu saat akan berbenturan yang berakibat terjadinya konflik di akar rumput.

Itulah,  yang membuat kaum intelektual merasa terpanggil.  Gerakan mengatasnamakan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Ternama,  berkumpul memberikan dukungan kepada Jokowi – KH. Ma’ruf Amin.  Diawali Alumni Universitas Indonesia yang berkumpul di Parkir Gelora Bung Karno.  Dan dilanjutkan dengan dengan gerakan serupa di kampus-kampus negeri lainnya di daerah.

Ini adalah tangung jawab moral kaum intelektual.  Mereka yang memiliki tingkat pengetahuan dan pendidikan diatas rata-rata, merasa terpanggil dengan kondisi tersebut.  Tentu saja tujuannya ingin menyelamatkan perjalan demokrasi Indonesia dari ancaman perpecahaan.

Kendati,  dalam pandangan kesataraan gerakan Alumni ini terkesan ada dikotomi kelas sosial.  Tapi ini adalah cara yang harus dilakukan guna melawan serbuan politik perpecahaan.  Pesan yang ingin disampaikan para Alumni tersebut sebenarnya sebuah peringatan.  Agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.  Dan tetap mengedapankan moral dalam politik.

Kenapa Harus Jokowi

Dengan kemampuan rasionalitas dan objektifitas akademis.  Para alumni kampus perguruan negeri ini,  menentukan arah dukungannya kepada pasangan Jokowi – KH. Ma’ruf Amin.  Pasalnya,  Jokowi lebih mengedepankan kampanye lebih dialogis. Menawarkan progam kerja kepada masyarakat. Bukan caci-maki,  fitnah, berita bohong. Semua yang dilakukan Jokowi dalam batas kewajaran kampanye.

Situasi carut-marut saat ini,  tidak lain efek dari strategi politik yang digunakan Prabowo-Sandi.  Politisasi agama,  Penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. Semua yang dilakukan mempunyai implikasi negatif dalam pembangunan sumber daya manusia kedepannya.

Politisasi agama,  akan menganggu toleransi antar umat beragama.  Yang selama ini terjalin harmonis di masyarakat.  Politisasi agama hanya menimbulkan fanatisme saja. Persoalan ketuhanaan telah diatur dalam Pancasila.

Lalu,  penyebaraan berita bohong.  Catatan besar penyebaraan berita bohong adalah kasus Ratna Sarumpaet.  Yang mengaku dianiayi tetapi ternyata tidak. Apapun alibinya,  Ratna Sarumpaet adalah bagian dari tim pemenagan Prabowo.  Yang tidak kalah hebob,  kasus 7 kontainer surat suara terjoblos. Kasus ini jelas,  memiliki motif melegitimasi proses pemilu.  Seolah-olah penyelengara pemilu tidak kredibel.  Dan masih banyak lagi perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan pendidikan politik bagi masyarakat.

Ya,  apa yang dilakukan Prabowo-Sandi bukan faktor ketidak sengajaan.  Melainkan sebuah strategi politik yang sedang dimainkan.  Mereka memainkan skenario politik seperti diketahui dibelakang Prabowo adalab Rob Allyn.  Seorang konsultan politik yang disewa Prabowo sejak 2009 lalu.

Dia Warga Negara Amerika Serikat yang lahir 18 Oktober 1959. Profesinya selain konsultan politik juga penulis dan producer film. Orang ini terkenal sebagai Raja Plintir Tingkat Dewa, Master Rekayasa dan JagoanPemutarbalikan Fakta. Kebenaran pun bisa diplintir menjadi suatu kesalahan dengan cara-cara yang keji dan menghalalkan segala cara. Rob Allyn tidak peduli kerusakan yang ditimbulkan akibat ulahnya, dia hanya peduli dengan kemenangan orang yang membayarnya.

Berbagai propaganda hitam, HOAX dan ujaran kebencian setiap saat diproduksi oleh Rob Allyn terus menerus secara masif dan sistematis untuk menyudutkan lawannya. Dan penyebaran dilakukan dengan berbagai cara sehingga sebuah fitnah yang keji dan biadab “seolah-olah” menjadi kebenaran dan dianut oleh kaum pekok yang nalar dan akal sehatnya sudah tertutup kebencian dan kebodohan. http://redaksiindonesia.com/read/rob-allyn-sang-master-rekayasa-konsultan-politik-kubu-lawan-jokowi.html

Alasan inilah,  yang membuat kaum intelektual bergerak.  Mereka melihat demoralisasi politik Indonesia dalam pilpres 2019. Sebagai kaum intelektual,  mereka merasa terpanggil.  Untuk membentengi kontruksi sosial yang penuh toleransi,  kerukunan, gotong-royong ini.  Dukungan kepada Jokowi hanyalah sebagai bentuk kekhawatiran saja.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.