OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Habib Pashya
Asisten Riset Universitas Islam Indonesia

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik seperti adanya warna putih pucat yang datang di sebagian tubuh atau bisa seluruh tubuh. Bahkan, pengidap albinisme tidak memiliki kemampuan untuk bertahan dalam cahaya matahari. Hal inilah yang membuat para pengidap albino unik di Afrika meskipun mendapat perlakuan yang berbeda.

Menurut sebagian masyarakat Afrika, albino memiliki warisan kekuatan yang magis. Fakta itu didapat berdasarkan kepercayaan adat. Stigma ini juga menggiring kepada masyarakat luas di Afrika sehingga eksistensi dari albino terancam bahkan dapat dibully sampai dibunuh.

Kasus Afrika

Tanzania, merupakan salah satu negara yang memiliki kasus diskriminasi terhadap albino yang sangat tinggi. Bahkan sejak 2009, otoritas Tanzania menghitung hampir 155 kasus kekerasan terhadap albino. The Tanzania Albinism Society menyatakan bahwa tidak percaya bahwa jumlah orang diculik bahkan dibunuh begitu banyak. Ditambah lagi, jumlah tersebut lebih banyak dari dua kasus yang tercatat di kepolisian pada 2013.

Menurut Severin Edward, Koordinator Program dari the Tanzanian Albinism Society menyatakan bahwa, “Even last year the numbers might have been higher because these crimes are very intimate. Mostly a close family member, even a father, is involved in the killings and abductions. In such cases silence wins; his wife will probably be an accomplice in the crime. Nothing will be said of the matter again and the police will have no chance of prosecuting anyone,” 

Hal itu juga disampaikan oleh Don Sawatzky, Director of Operation untuk UTSS yang menegaskan bahwa, “Of these cases, 75 were deaths. We have also received 18 reports of grave violations.” Sawatzky mengamati hasil dalam laporan kasus terhadap albino.

Tidak heran jika di Tanzania, albino tidak hanya dijadikan bahan penculikan dan pembunuhan, bahkan bisa sampai ke dalam mutilasi. Dilansir dari African Union pada tahun 2017, seorang nelayan menjual istrinya yang albino sebesar 2000 poundsterling kepada seorang pengusaha. Di dalam kasus lain, ditemukan Ezekiel John, berumur 47 tewas mengenaskan karena dibantai di dekat kota Kigoma. Perlakuan yang sama terjadi di Zambia, seorang anak perempuan albino dipotong tangannya ketika lagi tidur oleh sekelompok orang yang tidak dikenal.

Kejadian tersebut memang dibenarkan oleh Zihada Msembo, Sekretaris Jenderal Masyarakat Albino yang mengatakan, “Mereka memotong-motong kami seperti ayam. Kami hidup dalam ketakutan. Jika anda (Albino) pulang malam hari dari bekerja, bisa jadi anda tidak akan selamat sampai di rumah. Tidak hanya di luar rumah, di dalam rumah pun kami selalu ketakutan dan tidak bisa tenang dalam tidur karena bisa jadi orang-orang datang membunuh kami.”

Tidak heran jika ada kegiatan mutilasi karena bagian tubuh dari orang albino cukup mahal. Berdasarkan laporan dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, harga bagian tubuh albino bisa mencapai $75,000.  Maka dari itu, albino di Tanzania mencoba untuk melarikan diri ke Pulau Ukurewe, yang selama ini menjadi tempat persembunyian.

Indonesia, harus belajar banyak dari Afrika.

Tinggalkan Pikiran Kuno

Hingga saat ini, belum ada data yang spesifik melaporkan jumlah penduduk Indonesia yang mengidap albino. Namun, jika di Afrika ada Pulau Ukurewe, maka di Indonesia ada desa Ciburuy, Garut, Jawa Barat. Disana, terdapat angka yang tinggi terhadap masyarakat albino.

Nana Suryana yang merupakan bagian dari masyarakat albino yang tinggal di Ciburuy mengungkapkan bahwa, “We’ve been here for 149 generations. My family is famous for having the white gene,” 

Namun terlepas dari itu, desa tersebut memang merupakan desa yang terisolasi. Kondisi masyarakat yang hidup disana masih ada yang dimusuhi karena warna kulit. Berdasarkan laporan Global Business Guide tahun 2014Indonesia menempati rangking 106 dari 148 negara yang memiliki ketimpangan gender termasuk dalam mengelolah masyarakat albino.

Dalam beberapa kasus di Indonesia, Rosanah, berusia 20 tahun, berhenti sekolah karena mendapatkan ejekan dari teman-temannya karena albino. Disamping itu, Resmana, 23 tahun, sempat mengalami tekanan jiwa setelah mengalami hal yang sama yaitu diejek teman-temannya.

Pemerintah harus Merangkul?

Dari dua kasus tersebut sebenarnya, pemerintah Indonesia harus melihat bahkan mencermati bahwa ada entitas-entitas yang harus dirangkul dalam kebersamaan. Tidak hanya perempuan dan disabilitas. Terlebih lagi, Presiden Indonesia, Joko Widodo selalu menekankan akan adanya negara yang bersatu dalam slogan harga mati. Sampai saat ini, belum ada program-program pemerintah yang berarti dalam menanggulangi diskriminasi terhadap albino-apalagi dana bansos di korupsi.

Mengurangi stigma buruk terhadap albino bisa dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat bisa memandang albino selayaknya dengan masyarakat umum lainnya. Lebih dari itu, albino hanyalah memiliki kurang dalam segi warna kulit tapi bukan kualitas pada hak. Maka dari itu, masyarakat albino seharusnya memiliki akses-akses yang setara dengan orang normal pada umumnya yaitu akses pendidikan, kesehatan, bahkan berpolitik sekalipun.

Habib Pashya
Asisten Riset Universitas Islam Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.