Rabu, Juni 16, 2021

Aksi Corbuzier: Dari Agresivitas Daring hingga Luring

Tiga Dosa Kepala Daerah

Pada kurun waktu yang cukup lama, tepatnya saat rezim Orde Baru masih berkuasa, pemerintahan Indonesia telah digiring untuk menjadikan paradigma pembangunan sebagai landasan nilai...

Bersih-Bersih Noda Pemilu

Sri Soemantri M mengatakan bahwa demokrasi pancasila ditemukan dalam UUD 1945, khususnya alinea keempat, yang kemudian dipatrikan kembali dalam sila keempat Pancasila yakni, “Kerakyatan...

Menyebar Dukungan Untuk ODHA

Siapakah ODHA? Mengacu pada orang dengan virus HIV/AIDS. Disalahkan, dikucilkan, dihina dan perlakuan buruk lainnya akan menjadi teman perjalanan dalam menjalani sisa hidup sebagian...

Konsistensi Inklusifitas Beragama

Oleh Muhammad Dudi Hari Saputra, Pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam.Pembuka"Bagi kita, Theis dan Atheis itu bisa berkumpul, Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis...
Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.

Menilik perkembangan ranah maya akhir-akhir ini, tidak berlebihan rasanya ketika saya mengibaratkan internet sebagai kandang yang tepat untuk menternak-biakkan ujaran kebencian. Beragam drama miris, amoral, hingga yang memalukan dipertontonkan di ranah maya, dan aneka polah dan ucapan tak senonoh bertebaran di Internet tanpa bisa dibendung lagi.

Tak usah jauh-jauh melihat, dengan sekali ketukan layar gawai, media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, Telegram, dan lain sebagainya banyak memuat konten dan komentar negatif dari warganet. Namun di sini, saya hanya akan mengulik aksi Deddy Corbuzier yang kerap menjadi sorotan karena memburu haters yang menyerangnya di media sosial.

Terhitung sudah beberapa kali mantan pesulap itu mempidanakan haters yang menyudutkannya dengan ujaran kebencian. Misalnya Aril Elda (2015), Anton Nugroho (2016), dan banyak lagi orang-orang yang tak disebutkan namanya telah ditangkap karena melancarkan agresi verbal kepada Corbuzier.

Aksi Corbuzier memburu haters-nya yang mengeluarkan ujaran kebencian memang tak salah, kendati menuai pro-kontra. Apalagi terdapat payung hukum UU ITE yang menaungi tindakannya sehingga Corbuzier bisa dikatakan –nyaris– selalu berhasil menangkap orang-orang yang menantang atau menyerukan ujaran kebencian kepadanya.

Sebut saja Anton Nugroho yang melancarkan agresi verbal kepada Deddy Corbuzier sekaligus Chika Jessica, yang saat itu berstatus sebagai pacar Corbuzier. Ujaran kebenciannya yang menyinggung SARA menjadikan Corbuzier berang. Adapun verbatim ucapan Anton: “Ngapain pergi umroh kalau kamu masih ngent*t dengan si Kristen Deddy Corbuzier, dasar per*k,” ujarnya yang ditulis di salah satu kolom komentar postingan foto Instagram Chika.

Menilik pada faktor-faktor dan alasan ujaran kebencian dilontarkan, Walters and Brown (2006) menyebutkan bahwa salah satunya disebabkan kekecewaan terhadap tindakan tertentu yang dilakukan objek yang menjadikan si pembuat ujaran kebencian menyatakan hal-hal negatif tentangnya.

Dalam hal ini, sebagaimana yang diakui Anton, ucapan kasar (agresi verbal) yang dia tujukan kepada Chika merupakan kekecewaannya karena Chika berpacaran dengan Corbuzier. Apalagi selama ini, Anton merupakan fans Chika. Dan Sialnya, ucapan yang dia lontarkan di Instagram juga menyinggung Corbuzier sehingga ditindak-lanjuti oleh lelaki plontos ini hingga sampai di ranah hukum.

Aksi Corbuzier menyeret haters-nya merupakan agresi tak langsung yang ditujukan sebagai pembelaan diri. Teori etologis dari agresi (Lorenz, 1966) menyatakan bahwa agresi dilakukan sebagai bentuk bela diri dari gangguan dan ancaman dari orang lain. Tak heran, jika Corbuzier membalas ujaran kebencian dari hatersnya dengan agresi tak langsung dengan jalur hukum.

Sejujurnya, kita pun jika dimaki-maki oleh orang lain atau menjadi objek ujaran kebencian, secara naluriah (tentu akan) merasa tersinggung. Dan tindakan agresi pun dilakukan sebagai upaya penyesuaian diri sehingga memiliki nilai survival bagi manusia, sekecil apapun itu.

Referensi

Lorenz, K. 1966. On Aggression. Methuen: London

Walters, M.A. & Brown, R. 2006. Causes dan Motivations of Hate Crime. Equality and Human Rights Commission Research Report, 102, July 2016

Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER