Jumat, Maret 13, 2026

Akankah Yaman Tetap Jadi Papan Catur Saudi-Iran Dalam Proxy War?

Nabila Nur Kholifah
Nabila Nur Kholifah
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia
- Advertisement -

Perlibatan Saudi-Iran dalam konflik Yaman terjadi setelah pecahnya konflik dengan skema besar pada tahun 2014 lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, medan konflik itu berkembang bukan hanya bentrokan darat internal, akan tetapi juga persaingan maritim yang pada akhirnya mempengaruhi jalur pelayaran internasional di Bab al Mandeb dan Laut Merah.

So, benarkah jika di telaah kembali Yaman hanya sebagai panggung Catur Saudi Iran ? lalu  sampai kapan dunia akan melihat Yaman sebagai krisis kemanusiaan permanen yang ternyata adanya tangan lain yang mengejar keuntungan di balik kekacauan ini?

Saudi dan Zona Keamanan 

Bagi Arab Saudi, Yaman bukan lagi sekedar konflik tetangga. Letak geografis Yaman yang berbatasan dengan wilayah Selatan Saudi menjadikan penyangga terhadap ancaman eksternal, termasuk potensi ideologi atau milisi pro-Iran.  Dominasi Houthi atas Utara Yaman menggeser keseimbangan keamanan perbatasan, sehingga melemahkan posisi Riyadh sebagai pemain regional dominan. Intervensi militer dan dukungan terhadap aktor lokal pro-Saudi bukan semata mengenai soal kekuasaan, melainkan upaya dalam mempertahankan hegemoni regional dan stabilitas internal.

Dengan kata lain, Saudi mempertahankan keterlibatannya sebagai langkah defensif untuk melindungi status quo regional yang selama ini menguntungkan posisinya. Ketakutan utama Saudi bukan muncul karena Houthi kuat, tetapi karena Houthi menjadi simbol infiltrasi Iran di halaman rumahnya sendiri. Sejak revolusi Iran 1979, Saudi menganggap dirinya penjaga stabilitas Sunni, sementara Iran melihat diri sebagai pemimpin perlawanan melawan “status quo”. Jadi, jika terjadi kegagalan dalam mempertahankan Yaman berarti sama saja menyerahkan posisi kepemimpinan kawasan kepada Teheran.

Iran dan Keuntungannya

Jika Saudi lebih dilihat bermain defensif, Iran disini bergerak ofensif. Bagi Iran, keterlibatan di Yaman bukan semata strategi militer, tetapi cara memperkuat narasi politik identitas sebagai kekuatan yang menantang hegemoni regional dan global. Dukungan terhadap Houthi memperkuat citra Iran sebagai pelindung komunitas Syiah dan perlawanan anti-Saudi, sehingga meningkatkan legitimasi internal dan solidaritas transnasional.

Ketidakstabilan di Yaman juga memberi Iran panggung simbolik untuk menunjukkan efektivitas jaringan politiknya tanpa harus mendominasi teritorial. Dalam konteks ini, konflik bukan sekadar alat untuk melemahkan lawan, tetapi medium untuk menegaskan peran Iran sebagai aktor normatif dalam tatanan kawasan. Iran memanfaatkan perang untuk membentuk ruang diskursif, bukan hanya sebagai ruang militer. Karena itu, keterlibatan Iran mencerminkan upaya mempertahankan identitas dan pengaruh ideologis.

Proxy War Sebagai Mekanisme Kompetisi Strategis

Bersaing tanpa menanggung biaya perang secara langsung menjadikan Yaman sebagai mekanisme utama bagi Saudi dan Iran. Dalam perspektif proxy war, keterlibatan Saudi dan Iran di Yaman dapat dipahami sebagai upaya memproyeksikan kepentingan geopolitik melalui aktor lokal, bukan melalui konfrontasi langsungDukungan terhadap aktor lokal baik Houthi maupun kelompok yang berafiliasi dengan koalisi bukan sekadar strategi militer, melainkan investasi.

Bentuk persaingan ini pada akhirnya membuat Yaman bukan hanya arena perebutan kekuasaan, tetapi juga laboratorium bagi eksperimen strategi militer asimetris, termasuk penggunaan rudal balistik dan drone (International Crisis Group, 2023). Dampaknya bukan hanya terhadap stabilitas internal Yaman, tetapi juga terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi nadi perdagangan global.

Harapan Perdamaian di Tahun 2023

Kesepakatan Arab Saudi dan Iran untuk memulihkan hubungan diplomatik yang difasilitasi China di Beijing menjadi titik balik penting dalam dinamika keamanan kawasan. Pertemuan di Beijing itu tidak hanya memperbaiki hubungan dua rival besar, tetapi juga memunculkan harapan bahwa ketegangan yang selama ini mereka proyeksikan ke berbagai konflik regional dapat mereda (VOA, 2023).

Harapan tersebut memuncak ketika terjadi “jabat tangan” antara Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dan Hossein Amir-Abdollahian pada 2023, yang oleh banyak pihak dipandang sebagai peluang emas untuk menurunkan eskalasi perang proksi di Yaman (International Crisis Group, 2023). Namun, realitanya struktur konflik telah berubah menjadi sistem lokal yang kompleks meliputi identitas, ekonomi perang, jaringan milisi dan keretakan sosial yang tidak bisa dihapus sekadar dengan kesepakatan diplomatic. Jadi, diplomasi Beijing menciptakan peluang dialog regional, tetapi tidak secara otomatis menghasilkan perubahan substantif di medan perang.

- Advertisement -

Yaman as Papan Catur 

Menyebut Yaman sebagai papan catur menggambarkan bagaimana konflik ini diatur oleh kalkulasi eksternal yang menempatkan aktor lokal sebagai instrumen strategis. Namun, struktur kekuasaan yang lahir dari perang telah menciptakan aktor otonom yang tidak sepenuhnya tunduk pada patron. Artinya, Yaman mungkin dimulai sebagai arena perebutan pengaruh, tetapi kini berkembang menjadi sistem konflik yang tidak bisa dikendalikan oleh Saudi maupun Iran sepenuhnya.

Dengan demikian, keterlibatan Saudi dan Iran dalam konflik Yaman tidak hanya menghidupkan narasi proxy war, tetapi menormalkan model kompetisi yang bergantung pada aktor non-negara dan fragmentasi sosial. Hasilnya adalah konflik yang berkelanjutan bukan karena kemenangan yang ditargetkan, tetapi karena kontrol strategis yang ingin dipertahankan. Dalam konteks ini, diplomasi regional termasuk mediasi Beijing tidak cukup jika tidak disertai transformasi politik lokal yang menyentuh aktor di lapangan.

References

Voa Indonesia. 2023. Menlu Iran dan Menlu Arab Saudi Bahas Rekonsiliasi di China. https://www.voaindonesia.com/a/menlu-iran-dan-menlu-arab-saudi-bahas-rekonsiliasi-di-c hina/7038804.html

International Crisis Group. 2023. The Impact of the Saudi-Iranian Rapprochement on Middle East Conflicts. https://www.crisisgroup.org/middle-east-north-africa/gulf-and-arabian-peninsula/iran-saudi-arabia/impact-saudi-iranian

Simsek, F. H. (2025). Iran’s proxy war paradox: strategic gains, control issues, and operational constraints, Small Wars & Insurgencies, 36:6, 997-1024, https://doi.org/10.1080/09592318.2025.2512807

Al Jazeera. (2025). ‘Every shot fired’: Are Yemen’s Houthis a proxy force for Iran?. https://www.aljazeera.com/news/2025/3/22/every-shot-fired-are-yemens-houthis-a-proxy-force-for-iran

Nabila Nur Kholifah
Nabila Nur Kholifah
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.