Sabtu, Mei 8, 2021

Ajaib, Orang ini Menghidupkan Kembali yang Telah Mati

Seni Teater dalam Lingkup Masyarakat

Perlu kita ketahui bahwa kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing, bahkan teater ini sudah menjadi bagian yang...

Paradigma Mayoritas dan Minoritas

Secara kasat mata, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Sementara umat beragama lain dianggap minoritas. Dalam berbagai ranah, termasuk pada hukum misalnya, mayoritas kerap...

Apa yang Dihasilkan Oleh Pendidikan Kita?

Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN 2019 sudah dimulai, yang artinya saat ini telah memasuki masa-masa penerimaan mahasiswa baru dan juga...

Aksi Corbuzier: Dari Agresivitas Daring hingga Luring

Menilik perkembangan ranah maya akhir-akhir ini, tidak berlebihan rasanya ketika saya mengibaratkan internet sebagai kandang yang tepat untuk menternak-biakkan ujaran kebencian. Beragam drama miris,...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Saya tidak sedang membicarakan mistis, sihir ataupun tahayul. Karena bagi saya, seketikan kita bicara tahayul maka logikan dan kita akan terputus. Dampaknya kita tidak mempergunakan akal yang akhirnya menjadi orang bar-bar.

Ada kesamaan antara Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Sukarno (Bung Karno) dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Kang Dedi) selain kesamaan dari ideologis.

Keduanya mampu menghidupkan kembali sesuatu yang telah mati. Bung Karno melakukannya saat menjalani pembungan ke Ende, sementara Kang Dedi melakukannya di Purwakarta, Jawa Barat.

Selama pembungan di Pulau kecil tersebut, Bung Karno untuk mendidik masyarakat setempat dengan cara membuat grup Tonil (Sandiwara) yang diberi nama Kelimutu. Salah satu naskah yang dari puluhan naskah yang ditulis oleh Beliau adalah ‘Dokter Setan’.

Dokter Setan sendiri bercerita tentang seorang dokter untuk menghidupkan mayat. Mayat disini bukanlah arti yang sebenarnya, mayat dalam artian dalam bentuk Indonesia yang telah lama tertidur akibat dari penjajahan Belanda.

Dampaknya yang paling kuat kepada masyarakat setempat jelas adalah rasa takut kepada Belanda yang teramat.

Dari pulau Ende, Bung Karno jelas tidak bisa menggerakan masa yang banyak untuk menentang omprealisme. Apalagi, pada masa tersebut masyarakat di sekitar Ende dalam keadaan keterbelakangan, masih banyak diantara mereka tidak cakap untuk membaca dan menulis.

Maka, seni atau sandiwara tersebut adalah cara untuk menghantam Imprealisme. Dalam setiap ceritanya tersimpan semangat-semangat perjuangan menggelorakan Nasionalisme dari Pulau kecil yang majemuk tersebut.

Senada yang dilakukan Bung Karno, Kang Dedi Mulyadi melakukannya di Purwakarta, Jawa Barat. Selepas Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Jawa Barat seperti terasing di tempatnya sendiri.

Ada kegelisahan yang besar dialami oleh masyarakat Jawa Barat tentang sejarah maupun tentang Identitasnya. Jawa barat seperti mudah dirasuki paham-paham radikal yang tidak sejalan dengan Dasar Negara, Pancasila.

Padahal tidak kurang orang-orang besar di negeri ini lahir di Jawa Barat, mulai dari politisi, seniman, ulama dan lainnya. Tetapi semua itu tidak berjalan beriringan, mereka berjalan sendiri-sendiri.

Puncaknya mungkin terjadi sekarag ini, jaman milenial dimana setiap orang bisa mengakses informasi dan menyebarkan Informasi dengan sangat mudah melalui media sosial dan sebagainya.

Tak ayal, Jawa Barat menjadi juara pertama dalam kasus kekerasan atas nama agama berdasrkan hasil survei yang dirilis oleh salah satu lembaga survey Wahid Institute.

Dedi Mulyadi mencoba menghidupkan kembali kebudayaan dan tradisi yang telah lama mati di Jawa Barat. Pancasila menjadi pijakannya dalam menyebarkan tradisi yang telah lama tertidur tersebut.

Sangat tidak mudah, Kang Dedi ditekan habis-habisan oleh mereka yang tidak sejalan dengan mereka, karena dianggap membahayakan golongan yang telah lama meninabobokan Jawa Barat.

Dedi Mulyadi bukanlah seorang yang dating tiba-tiba pada moment yang akan menghadapi Pilkada Jawa Barat. Ia adalah pemimpin sejatinya pemimpin yang paham betul tentang kondisi Jawa Barat. Lihat bagaimana yang dilakukannya di Purwakarta, sunda di kembalikan sebagai jati diri, Kota tasbih di kuatkan sampai dengan akar-akarnya kepada generasi penerus.

Dedi adalah orang yang sangat mencintai identitasnya, sunda bukan lagi sebatas harga diri maupun suku yang mendiami masyarakat Jawa Barat, melainkan sebgai jembatan kesejahteraan untuk masyarakatnya.

Spirit kesundaannya sangat melekat, sampai dalam pakaiannya pun bertuliskan ‘Dangiang Ki Sunda’ (Kewibawaan Orang Sunda).

Tidak setuju dengan saya, tidak masalah. Karena itu merupakan hak Anda. Tapi, saya menulis hanya untuk menuangkan realita apa yang saya lihat saat ini. Dan Anda bisa lihat sendiri kenyataan yang sesungguhnya.

Apa yang dilakukan oleh Kang Dedi merupakan amanat yang telah diperintahkan oleh leluhur dan apa yang di Perintahkan oleh Bung Karno, “menjaga tradisi daerah adalah bagian menjaga tradisi Nusantara.”

Yang diperbuat Kang Dedi adalah betuk kecintaanya kepada Jawa Barat, kepada masyarakat dan Negaranya. Dia siap menderita, dia siap di hina, dia mengambil segala resiko asalkan masyarakatnya tidak terasing di tanah airnya.

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.