Selasa, Juli 16, 2024

Agama dan Sains dalam Pandangan Al-Ghazali (1)

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Penikmat kajian keislaman dan filsafat.

Di berbagai percakapan belahan dunia termasuk di Indonesia, masalah hubungan antara agama dan teknologi mulai muncul kembali. Tentu tak lain karena dipicu oleh beberapa trend yang berkembang akhir-akhir ini. Salah satunya adalah dipicu oleh trend buku yang ditulis oleh Richard Dawkins yaitu The God Delusion.

Menarinya, Buku itu sangat yang laris manis. Ia adalah kritik yang tajam terhadap agama dari sudut pandang sains. Kita tahu, Richard Dawkins adalah selain dikenal sebagai ahli biologi, ia juga dikenal sebagai orang yang mempopulerkan sains. Tapi terlepas dari Richard Dawkins, ada satu perkembangan yang menarik akhir-akhir ini yaitu, ada kesan bahwa agama dengan sains bertentangan.

Pun, ada kesan bahwa argumen-argumen yang didasarkan pada sains itu menafikan keberadaan Tuhan dan agama. Bahkan, menihilkan sama sekali peran agama. Parahnya, agama dianggap sebagai relig dari masa lampau yang tak lagi relevan dalam keadaan sekarang (karena klaim agama itu dibuktikan salah oleh sains). Terutama klaim-klaim agama yang berkenaan dengan penciptaan alam, asal-usul kehidupan, masalah biologi, kimia dan lainnya.

Sebetulnya, isu hubungan antara agama dengan sains, bukanlah hal yang baru. Kita tahu, al-Ghazali adalah ulama yang hidup pada abad ke-10 M dan awal abad ke-11 di Baghdad (kawasan Iran sekarang). Ini penting karena, al-Ghazali sebetulnya dalam kitabnya Al-Munqid Min Ad-Dhalal, beliau mengemukakan banyak pendapat soal bagaimana menempatkan agama dengan sains.

Tentunya, ulama Islam banyak sekali, namun penulis hanya akan fokus membidik al-Ghazali. Bagi penulis, al-Ghazali mempunyai pandangan khas, yang dalam hal ini meminjam istilah Gus Ulil, al-Ghazali adalah seorang kiai. Meskipun pandangan intelektual (filosof) sudah banyak dikalangan muslim terhadap sains, akan tetapi bagi penulis, yang spesial dari al-Ghazali adalah pandangannya didalam Al-Munqid Min Ad-Dhalal (atau yang lebih spesifik yaitu Tahafut al-Falasifah) itulah sebenarnya pandangan khas seorang kiai.

Bagaimana seorang kiai menanggapi keberadaan sains? Apa yang disebut dengan filsafat pada era Islam zaman dulu sebetulnya identik dengan sains zaman sekarang. Karena, pada masa al-Ghazali dan Ibnu Sina sekitar abad ke-9 masehi, antara sains dan filsafat adalah ibu dari segala ilmu (mother of all knowledge). Jadi ilmu yang tidak berbasis wahyu, semuanya berada dalam payung besar filsafat. Dan kita ketahui, dalam filsafat ada fisika, kedokteran, biologi (meskipun saat itu biologi mungkin belum berkembang seperti sekarang).

Itu artinya, istilah filsafat sebetulnya adalah istilah yang mencakup sains secara keseluruhan, sekalipun dalam istilah filsafat terkandung satu bagian yang disebut metafisika. Adalah pembahasan mengenai hal-hal yang bersifat spekulatif, tidak ada kaitan dengan fisika, biologi dan lainnya. Jelasnya, ada unsur fisik, dan ada metafisik.

Ketika al-Ghazali menanggapi filsafat, (sebenarnya) ia juga menanggapi sains dalam pengertian sekarang. Lalu bagaimana tanggapan al-Ghazali? Al-Ghazali yang selama ini dikenal sebagai pembunuh filsafat (itu persepsi yang umum), berimbas terhadap dunia Islam saat itu tak lagi mempelajari filsafat.

Sama, al-Ghazali juga ketika menanggapi filsafat (alias sains), ia membaginya dalam enam kategori. Ini membuktikan, bahwa ia tak menghakimi filsafat secara general, tapi secara jelas dengan terperinci (tafshili). Pertama, filsafat yang berkaitan dengan masalah ilmu riyadiyah atau ilmu yang terkait dengan matematika (terkait dengan angka dan ilmu yang bersifat astronomi).

Kedua, ilmu yang terkait dengan prosedur berfikir (logika atau mantiqiyah). Ketiga, ilmu thabi’iyah atau fisik. Keempat, ilmu ketuhanan (ilahiyah) yaitu metafisika. Kelima, ilmu siyasiyah (ilmu politik). Keenam, ilmu filsafat etika (khuluqiah).

Enam bagian diatas sebenarnya sesuai dengan pembagian di dalam filsafat Yunani dulu,  yang kemudian dibawa masuk kedalam dunia Islam pada masa Al-Ma’mun, yaitu di era Abbasiyah. Dan, dipopulerkan oleh seorang sarjana besar yang bernama Al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Ghazali mengatakan, terkait dengan ilmu-ilmu riyadiyah dan mantiqiyah kita tidak bisa menolak.

Al-Ghazali juga menegaskan, bahwa menolak ilmu mantiq (logika) justru malah berbahaya. Karena, menolak ilmu logika dengan argumen karena ilmu tersebut berasal dari orang Yunani, justru akan menimbulkan citra buruk bagi agama. Akibatnya, persepsi yang tertanam adalah, kalau begitu menjadi beragama tidak boleh berpikir logis (menjadi muslim itu identik dengan menjadi tidak rasional).

Alih menolak, justru yang paling relevan dengan zaman sekarang adalah ilmu thabi’iyah. Dalam ilmu thabi’iyah, al-Ghazali membagi para filosof secara detail dalam berbagai kategori. Ada pendapat-pendapat di dalam ilmu-ilmu fisika (menyangkut biologi. sementara kimia belum berkembang ketika itu).

Kata al-Ghazali, di dalam masalah fisika, pendapat para filosof dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, ada pendapat mereka yang kita tolak sepenuhnya karena bertentangan dengan aqidah Islam. Kedua, ada bagian dalam pendapat mereka yang tidak boleh kita kafirkan, tapi sekedar kita anggap sesat atau bid’ah. Ketiga, ada bagian-bagian yang bisa kita terima karena itu Netral.

Tak hanya itu, al-Ghazali juga mengatakan, ada tiga isu utama dalam pembahasan para filosof Yunani terkait fisika. Pertama adalah tentang qidamul alam. Jadi, para filosof zaman dulu yang dalam istilah sekarang kita sebut sebagai filosofi naturalis (berkecimpung bergulat dalam isu-isu ilmu-ilmu kealaman). Adalah pendapat mereka bahwa alam itu tidak punya permulaan sama sekali. Artinya, ada sejak dulu dan akan ada selamanya.

Mereka mengatakan bahwa, materi yang sesuai dengan materi itu sudah ada sejak zaman dulu dan akan ada selamanya, karena materi tidak akan punah. Sekalipun punah, dia kemudian bermutasi (reinkarnasi) menjadi sesuatu yang lain. Ini persis seperti hukum pertama dalam hukum termodinamik bahwa, energi dan materi tidak akan hangus dan tidak akan punah. Dia bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Misalnya, kayu yang kita bakar akan menjadi bentuk yang lain yaitu “areng”. Para filosof Yunani berpandangan, materi tidak akan pernah punah. Meskipun mereka percaya bahwa, materi ini ada penyebab awalnya atau prima causanya (ada Tuhan dibaliknya). Sama sekali, mereka tidak mengingkari Tuhan. Hanya saja mengatakan bahwa materi itu ada sejak dulu dan akan ada selamanya.

Dalam masalah ini, para filosof Yunani itu pendapatnya tidak boleh diterima. Karena, kalau diterima sudah pasti bertentangan dengan prinsip dalam pemahaman Islam. Bahwa, kalau kita mengatakan alam itu abadi ke masa lampau ataupun abadi ke masa depan, berarti kita mengatakan alam itu sama abadinya dengan Tuhan. Secara tak langsung kita mengatakan ada dua Tuhan yaitu, Tuhan pencipta alam, dan yang diciptakan Tuhan. Keduanya abadi.

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf
Alumni PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang Nyantri di PP Nurul Jadid, sekaligus kader PMII Universitas Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Penikmat kajian keislaman dan filsafat.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.