Kamis, Februari 22, 2024

Mistik Yunani Kuno dan Kebekuan Akal Sehat

Mahalnya Sebuah Perdamaian

Save Petugas KPPS!

Impian ke Pangandaran Naik Kereta Api

Eriton
Eriton
Penulis dan Mahasiswa Magister Sosiologi UMM, Malang-Aceh

Mitos lazimya dimaknai sebagai cerita-cerita yang cenderung berkonotasi khayal. Cara pandang terhadapnya terlanjur disederhanakan. Hipotesa saya disebabkan generalisasi atas mitos itu sendiri. Padahal masing peradaban memiliki mitosnya sendiri-sendiri.

Akan tetapi, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sedikit membuka tabir tentang stigma tersebut. KBBI mengartikan mitos sebagai carita suatu bangsa tertentu tentang dewa dan pahlawan zaman dulu, hal-hal yang berkaitan dengan asal usul semesta alam, manusia. Mengandung arti mendalam yang dijelaskan dengan cara gaib.

Hampir senada, Edith Hamilton (2009), memposisikan mitos sebagai kepasitas imaginasi manusia dalam menjelaskan realitas semesta. Lebih jauh lagi, mitos dipandang lebih dari sekedar kata. Roland Bethes memaparkan sebagai tipe wicara atau media komunikasi suatu masyarakat tertenu. Mitos sebenarnya erat kaitannya dengan mistik, yakni deretan pengetahuan menganai hal-hal gaib.

Mengapa Yunani Kuno?

Sesunguhnya ada banyak cerita mitos yang berkambang dalam setiap peradaban. Seperti di Mesir Kuno, Yunani Kuno bahkan di Indoneisia. Tapi yang menjadi pertanyaan mengapa Yunani Kuno yang kerap dibahas? Lebih tepat dijadikan sebagai rujukan kebangkitan peradaban hari ini. Untuk menyingkap persoalan ini kita mesti fair. Adapun peradaban Yunani Kuno dianggap muasal yang mengantrakan manusia menuju pintu gerbang kemerdekaan berfikir bukan asal.

Cecep Sumarna dalam karyanya Filsafat Pengetahuan, mengeksplorasi bahwa Yunani Kuno mencoba menjalaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai asal usul alam, manusia, relasi manusia dan alam serta terhadap kekuatan yang berada dibalik yang ada dan pasca yang ada (beyond). Umumnya mereka jawab secara filosofis-spekulatif, karena jawaban yang tidak kunjung memuaskan nalar justru mendorong mereka secara kontinu mempertanyakan hal-hal yang belum terjawab itu.

Sementara perabadan lain, mitos didasarkan pada karya seni dan kreatifitas manusia. Misalnya, pahatan patung binatang tertentu yang berkepala manusia dan lain sebagainya. Artinya yang membedakan mitos yang berkembang zaman Yunani Kuno adalah ia disandarkan pada realitas yang disaksikan manusia.

Proses evolutif mistik Yunani Kuno itu kemudian perlahan menjadi praktik rasionalitas berfikir. Kelahiran konsep mengenai alam semesta, kosmologi, filsafat, ilmu, dan teknologi bisa dikata merujuk pada evolusi mistik Yunani Kuno. Dengan tanpa menegasikan kontribusi peradaban lain tentu saja. misalnya India, China dan Mesopotamia.

Bekunya Akal Era Kekinian

Sayang, semangat percarian tersebut agaknya tersendat di zaman ini. Budaya ilmiah justru perlahan tergeser dan terjun menuju dasar. Justru ada upaya nyata mengubur realitas dalam-dalam dan abai untuk bertanya ulang atas kontruksi sosial yang ada. Penamaan era post truth dijadikan sebagai justifikasi atas prilaku yang menjatuhkan martabat budaya ilmiah itu. Kemudian, praktek yang sengaja atau tanpa sadar demikian disandarkan pada budaya pragmatis semata.

Artinya, realitas semu diprodukasi ulang untuk kepentingan praktis dan sesat. Misalnya saja, hoax. Di era media sosial saat ini, hoax sedikit banyak telah menumpulkan daya fikir kita sebagai manusia. Bukan hanya personal yang terkena imbasnya, namun 7 miliar umat manusia. Kita bisa dengan mudah menjumpai hoax dalam wajah dan momentum. Biasanya diprodkusi untuk kepentingan tertentu.

Saking ganasnya, di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informasi sendiri merilis data hoax atau informasi yang tidak valid itu dalam kurun yang realitif pendek. Hanya dalam hitungan bulan akumulasinya mencapai ratusan bahkan ribuan kasus. Tindakan Kominfo itu pastinya diikuti dengan penangguhan media sosial produsen dan para penyebarnya. Kita menjadi sulit melakukan diferensiasi antar fakta yang disampaikan secara benar dan akurat dengan fakta yang sengaja disimpangkan dari adanya. Semuanya menjadi abu-abu. Kategorisasi hoax pun menjadi sangat beragam, disinformasi, misinformasi, dan malinformasi.

Contoh lain, kemunduran budaya ilmiah tersebut bisa dilihat dengan maraknya kampus yang mengorbal predikat akademik atau honoris causa kepada para elite politik tanpa prosedur verifikasi keilmuan yang mutahir. Menyoal meningkatnya politisi yang mendapat gelar doktor kehormatan, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin, kepada Tirto.id meminta agar diberikan melalui penyaringan yang katat. Tentu tujuannya adalah untuk meredam spekulasi liar masyarakat.

Secara otoritatif, insitusi kampus memang sah saja melakukan hal tersebut namun haruslah melewati prosedur keilmuan. Ujungnya, semangat budaya keilmuan lesu juga menjatuhkan entitas kampus sebagai tempat budaya ilmu dikembangkan. Generasi muda mengentengkan. Untuk apa kuliah serius, toh, akhirnya usaha mencapai puncak keilmuan yang hakiki akan tersalib oleh mereka yang memiliki kuasa politik.

Perkembangan media sosial juga turut berkontribusi. Ruang yang menganga lebar di dunia maya mengundang publik berpartisipasi termasuk dalam perdebatan-perdebatan substansial. Memang ada implikasi positifnya, dengan kemudahan mekakses berbagai informasi telah membantu menyelesaikan persoalan-persoalan sederhana yang dihadapi. Video tutorial yang ada di platform Youtube, umpamanya.

Turorial terkait penggunaan barang atau alat bagi sebagian kalangan kecil tentu berguna. Hanya saja yang jadi persoalan pelik adalah lahirnya para ahli-ahli dadakan dalam semua bidang ilmu dan pengetahuan. Dengan mudah segala sesuatu dihamiki dan dibantai beramai-rama tanpa pandang bulu. Martabat para pemikir yang sesungguhnya menjadi tak bernilai di mata penghuni jagad maya. Media sosial seakan telah menjadi ruang belajar yang legitimas. Padahal utamanya platform yang ada merupakan sebuah media untuk berjejaring dengan yang lain secara virtual.

Selaras dengan fenomena di atas, Tom Nicols melalui buku The Death of Expertise, mengurai gejala ini. setidaknya mendiaognosa kian banyak followers atau pengikut akun media sosial tertentu semakian sah legitimasi kebenaran atasnya. Tanpa melihat siapa dan kemahiran apa yang dimiliki. Meskipun transformasi digital tidak sepenuhnya buruk. Ihwal ini menjadi bola salju yang mencemaskan manakala diamini terus menerus secara kolektif.

Melalui perspektif filsafat, dapat ditemukan akar dari signal ini, yakni humanisme. Seperti yang terbangun dalam tradisi Yunani Kuno. Sebuah semangat yang mendorong manusia menyadari bahwa dirinya memiliki berkemampuan untuk mengantur segala yang ada. Termasuk manusia itu sendiri dan alam semesta. Hanya saja yang membedakan adalah pada upaya pembersihan yang tidak masuk akal itu menjadi rasional atau ilmiah. Yunani Kuno telah bangkit menepatkan realitas sebagai sumber inspirasi untuk menggali dan membentuk stuktur ilmiah secara perlahan.

Meminjam pandangan Edmund Husserl, harusnya fenomena diketengahkan sebagai sebuah metode refleksi atas realitas. Manusia dituntut bertindak melampuai fenomena untuk mencari  suatu hakikat yang objektif. Era ini justru sebaliknya, yang nyata didistorsi dan dikaburkan demi memenuhi fantasi sejenak atau musiman belaka. Realitas yang datang secara bergantian sekedar dinikmati dengan keriuhan dan terkubur. Apalagi, kalau tidak disebut sebuah kemunduran peradaban?

Eriton
Eriton
Penulis dan Mahasiswa Magister Sosiologi UMM, Malang-Aceh
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.