Rabu, Januari 14, 2026

Advanced Runways: Infrastruktur, Teknologi, dan Tanggung Jawab Pelayanan

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
- Advertisement -

Modernisasi advanced runways berbasis teknologi tinggi merupakan keniscayaan dalam menghadapi pertumbuhan lalu lintas udara, tuntutan keselamatan global, dan tekanan efisiensi operasional. Namun, modernisasi tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai proses adopsi teknologi, melainkan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara keselamatan, kapasitas, keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan lingkungan. Tulisan ini menyoroti pentingnya pendekatan sistemik dan kolaboratif dalam pengembangan runway modern, dengan mengacu pada standar dan rekomendasi organisasi internasional penerbangan sipil. Melalui penekanan pada integrasi kebijakan, interoperabilitas sistem, dan kesiapan sumber daya manusia, tulisan ini menegaskan bahwa keberhasilan modernisasi runway sangat ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan inovasi teknologi dengan tata kelola, budaya keselamatan, dan tanggung jawab lingkungan. Dengan demikian, advanced runways diposisikan bukan hanya sebagai infrastruktur fisik, tetapi sebagai simpul strategis dalam ekosistem penerbangan sipil yang berkelanjutan.

 

Pendahuluan

Bandar udara modern tidak lagi sekadar infrastruktur transportasi. Ia telah menjelma menjadi simpul strategis peradaban mobilitas global—tempat bertemunya keselamatan (safety), keamanan (security), kapasitas dan efisiensi operasional (capacity & efficiency), pembangunan ekonomi (economic development), serta perlindungan lingkungan (environmental protection).

Di sinilah layanan kebandarudaraan—khususnya runways dan airside capacity, runway yang dilengkapi Instrument Landing System (ILS), serta sistem pemantauan landasan (runway monitoring)—menjadi fondasi utama bandara modern berbasis teknologi tinggi (high-end technology airport operations). Runway tidak lagi sekadar bentangan beton, melainkan elemen sistemik yang menentukan keselamatan, kelancaran, dan keberlanjutan seluruh ekosistem penerbangan.

Organisasi internasional seperti ICAO, IATA, ACI, dan CANSO secara konsisten menegaskan bahwa masa depan penerbangan global tidak ditentukan oleh satu variabel tunggal, melainkan oleh kemampuan menyeimbangkan kelima prinsip tersebut secara simultan. Tantangan utama hari ini bukan lagi pertanyaan klasik “apakah bandara kita aman”, tetapi “apakah bandara kita cukup cerdas, adaptif, dan berkelanjutan untuk menghadapi lonjakan lalu lintas udara, tekanan ekonomi, serta tuntutan lingkungan secara bersamaan”.

Bagi Indonesia—dengan karakter geografis kepulauan, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan potensi pasar penerbangan yang besar—isu ini menjadi sangat strategis. Modernisasi layanan kebandarudaraan berbasis teknologi tinggi bukan lagi pilihan teknis, melainkan keharusan kebijakan nasional.

Integrasi Standar Global sebagai Penjaga Keseimbangan Modernisasi Advanced Runways

Dalam arsitektur penerbangan sipil global, ICAO, IATA, ACI, dan CANSO berperan sebagai empat pilar utama yang membentuk arah, standar, dan praktik terbaik pengelolaan kebandarudaraan modern. Meskipun masing-masing memiliki mandat dan sudut pandang berbeda, keempatnya justru saling melengkapi dalam mendorong modernisasi runways dan airside capacity berbasis teknologi tinggi. Runway tidak lagi dipahami sekadar sebagai infrastruktur teknis bandara, melainkan sebagai titik temu kepentingan keselamatan, efisiensi operasional, keamanan, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.

ICAO berfungsi sebagai kompas normatif global melalui penetapan Standards and Recommended Practices (SARPs). Dalam konteks runway dan airside, ICAO memastikan bahwa desain, operasi, Instrument Landing System (ILS), serta sistem pemantauan landasan memenuhi ambang keselamatan internasional yang seragam. Peran ICAO tidak hanya menjaga interoperabilitas global, tetapi juga memberikan kepastian hukum dan teknis agar operasi penerbangan lintas negara dapat berlangsung tanpa degradasi keselamatan. Keselamatan ditempatkan sebagai fondasi absolut, sekaligus didorong melalui pendekatan berbasis risiko dan data dalam pengambilan keputusan.

- Advertisement -

IATA membawa perspektif industri penerbangan komersial, khususnya maskapai. Fokus utama IATA adalah memastikan bahwa modernisasi runway dan airside capacity benar-benar menghasilkan efisiensi operasional, ketepatan waktu, dan reliabilitas layanan. Melalui panduan operasional, analisis kinerja, dan advokasi kebijakan, IATA menekankan bahwa teknologi runway—seperti ILS yang andal dan sistem monitoring—harus mampu menurunkan biaya tersembunyi akibat delay, diversion, dan pembatalan penerbangan. Dengan demikian, investasi infrastruktur diposisikan sebagai penopang langsung keberlanjutan bisnis penerbangan.

ACI, sebagai representasi operator bandara, menempatkan runway dan airside sebagai aset strategis yang harus dikelola secara aman, efisien, dan ramah lingkungan. Melalui best practices, benchmarking global, dan program peningkatan kapasitas, ACI mendorong integrasi teknologi tinggi ke dalam operasi harian bandara tanpa mengorbankan keselamatan dan kenyamanan pengguna. ACI juga berperan penting dalam agenda green airport operations, menegaskan bahwa efisiensi operasional dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan melalui inovasi teknologi.

Sementara itu, CANSO berfokus pada sistem navigasi udara dan manajemen lalu lintas udara (ATM). Kontribusi utamanya terletak pada integrasi erat antara operasi runway dan layanan ATC, sehingga peningkatan kapasitas airside tidak menciptakan bottleneck di udara. Melalui collaborative decision-making, digitalisasi ATM, dan peningkatan situational awareness, CANSO menjadikan runway bagian integral dari ekosistem navigasi udara yang cerdas dan aman.

Keempat perspektif ini tidak dapat dipisahkan. Mengabaikan salah satunya akan menghasilkan sistem yang timpang. Bagi Indonesia, standar global tersebut harus diposisikan bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan alat transformasi kelembagaan, teknologi, dan sumber daya manusia. Dengan menjadikan ICAO, IATA, ACI, dan CANSO sebagai kompas bersama, modernisasi runway dan airside capacity dapat menjadi fondasi kebandarudaraan nasional yang aman, kompetitif, dan berkelanjutan.

Modernisasi advanced runways berbasis teknologi tinggi tidak dapat dilepaskan dari arsitektur standar global yang dikembangkan oleh organisasi internasional penerbangan sipil. Dalam konteks ini, ICAO, IATA, ACI, dan CANSO berperan sebagai global compass yang memastikan bahwa transformasi teknologi landasan pacu tidak melenceng dari prinsip keseimbangan antara keselamatan, kapasitas, efisiensi, keamanan, kepentingan ekonomi, dan perlindungan lingkungan.

ICAO secara tegas menempatkan runway sebagai elemen paling fundamental dalam keselamatan penerbangan. Dalam Annex 14 (Aerodromes), ICAO menyatakan secara eksplisit bahwa “Runways are the core of any aerodrome”, menegaskan bahwa desain, kondisi, dan sistem pendukung runway merupakan tulang punggung keselamatan operasi lepas landas dan pendaratan. Lebih jauh, ICAO menetapkan bahwa “a paved runway shall be so constructed or resurfaced as to provide surface friction characteristics at or above the minimum friction level set by the State”. Kutipan ini menunjukkan bahwa modernisasi runway bukan semata penambahan teknologi, tetapi kewajiban negara untuk menjaga kinerja landasan secara berkelanjutan sebagai bagian dari safety assurance.

Dimensi keseimbangan ini diperkuat dalam Global Aviation Safety Plan (GASP), di mana ICAO menempatkan runway safety sebagai salah satu prioritas keselamatan global. Pendekatan ICAO tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap standar teknis, tetapi juga mendorong integrasi teknologi, peningkatan kapasitas kelembagaan, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar peningkatan kapasitas tidak mengorbankan keselamatan.

Dari perspektif operator maskapai, IATA menegaskan urgensi modernisasi runway sebagai isu keselamatan paling kritis. IATA menyatakan bahwa “Runway safety continues to be one of IATA’s highest priorities as it remains one of the most serious threats to aviation safety.” Pernyataan ini mencerminkan realitas operasional bahwa peningkatan kapasitas bandara tanpa dukungan teknologi runway yang memadai justru memperbesar risiko runway excursion dan runway incursion. Melalui Global Runway Safety Action Plan (GRSAP), IATA menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dan berbasis data untuk menurunkan tingkat kecelakaan runway secara global.

Sementara itu, ACI mewakili sudut pandang operator bandara dengan penekanan kuat pada integrasi teknologi dan prosedur operasional. ACI secara konsisten mengingatkan bahwa “Runway safety related accidents, in particular runway excursions, remain aviation’s number one safety risk category.” Melalui ACI Runway Safety Handbook dan Global Reporting Format (GRF), ACI mendorong bandara mengadopsi sistem pelaporan kondisi runway yang presisi, real-time, dan terstandardisasi sebagai fondasi operasi runway modern yang aman sekaligus efisien.

CANSO melengkapi kerangka ini dari perspektif navigasi udara dan manajemen lalu lintas udara. Dalam kolaborasi ICAO–IATA–ACI, CANSO menekankan harmonisasi antara sistem pemantauan runway, ATC, dan air traffic flow management. Integrasi ini memastikan bahwa modernisasi runway tidak berjalan terpisah dari sistem navigasi dan pengendalian lalu lintas udara,

Konsep Advanced Runways Berbasis Teknologi Tinggi

Dalam paradigma kebandarudaraan modern, landasan pacu tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar infrastruktur fisik berupa hamparan beton dan aspal. Konsep Advanced Runways berbasis teknologi tinggi menempatkan runway dan airside capacity sebagai jantung sistem operasi bandara yang terintegrasi, di mana keselamatan, kapasitas, efisiensi, dan keberlanjutan lingkungan bertemu dalam satu kerangka pengelolaan yang cerdas. Runway berubah fungsi dari fasilitas pasif menjadi sistem aktif yang terus membaca, merespons, dan mengantisipasi dinamika operasi penerbangan secara real-time.

Secara operasional, Advanced Runways bekerja melalui pendekatan manajemen kapasitas airside yang adaptif dan berbasis data. Pergerakan pesawat di runway, taxiway, dan apron tidak lagi dikelola secara statis berdasarkan slot waktu semata, melainkan disesuaikan secara dinamis dengan kondisi cuaca, kepadatan lalu lintas, visibilitas, dan kesiapan fasilitas navigasi. Dalam konteks ini, optimalisasi kapasitas tidak identik dengan menambah jumlah runway, tetapi dengan memaksimalkan utilisasi runway yang ada melalui pengurangan waktu hunian landasan, penataan exit taxiway yang efisien, serta sinkronisasi yang lebih baik antara operasi bandara dan layanan navigasi udara. Efisiensi dicapai bukan dengan menekan batas keselamatan, melainkan dengan mengelola kompleksitas secara cerdas.

Keandalan operasi Advanced Runways sangat bertumpu pada keberadaan runway yang dilengkapi Instrument Landing System (ILS) yang andal dan terintegrasi. ILS bukan sekadar alat bantu pendaratan, melainkan instrumen ketahanan sistem bandara terhadap gangguan cuaca dan visibilitas rendah. Runway dengan ILS yang terpelihara baik memungkinkan bandara menjaga kesinambungan operasi, menekan pembatalan dan pengalihan penerbangan, serta meningkatkan prediktabilitas jadwal. Dalam konfigurasi yang lebih maju, ILS terhubung dengan navigasi berbasis satelit dan konsep performance-based navigation, sehingga pendekatan dan pendaratan dapat dilakukan dengan presisi tinggi tanpa meningkatkan beban kerja pengendali lalu lintas udara maupun awak pesawat.

Dimensi teknikal Advanced Runways semakin diperkuat melalui penerapan sistem pemantauan landasan (runway monitoring) berbasis sensor dan digitalisasi. Pemantauan kondisi permukaan runway, deteksi benda asing (foreign object debris), serta pengawasan pergerakan objek di area kritis dilakukan secara berkelanjutan dan real-time. Pendekatan ini menggantikan pola inspeksi manual yang periodik dan reaktif dengan sistem peringatan dini yang mampu memberikan informasi langsung kepada pengelola bandara dan petugas pengatur lalu lintas udara. Dengan demikian, risiko runway incursion dan runway excursion dapat ditekan secara signifikan, sekaligus meningkatkan kepercayaan maskapai terhadap keandalan operasi bandara.

Integrasi operasional dan teknikal tersebut membuka ruang luas bagi peluang teknologi yang bersifat strategis. Advanced Runways menjadi platform alami bagi pengembangan sistem operasi airside digital terpadu, di mana data pergerakan pesawat, kinerja ILS, kondisi runway, dan cuaca mikro disatukan dalam satu sistem pendukung keputusan. Analitik berbasis kecerdasan buatan memungkinkan prediksi gangguan operasional, perawatan landasan yang bersifat prediktif, serta penjadwalan pemeliharaan yang minim disrupsi. Pada tahap lebih lanjut, kesiapan runway berteknologi tinggi juga menjadi prasyarat bagi pengembangan konsep remote tower dan pengawasan multi-bandara, yang sangat relevan bagi negara kepulauan dengan tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya manusia.

Lebih dari sekadar efisiensi dan keselamatan, Advanced Runways juga berkontribusi langsung pada agenda perlindungan lingkungan. Presisi operasi yang dihasilkan oleh ILS dan sistem monitoring memungkinkan pengurangan holding, pencegahan go-around yang tidak perlu, serta penerapan pendekatan pendaratan berkelanjutan. Dampaknya adalah penurunan emisi, kebisingan, dan konsumsi bahan bakar per pergerakan pesawat. Dengan demikian, teknologi runway tidak bertentangan dengan tujuan lingkungan, justru menjadi instrumen penting untuk menjembatani pertumbuhan lalu lintas udara dan komitmen keberlanjutan.

Pada akhirnya, Advanced Runways berbasis teknologi tinggi merepresentasikan perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap layanan kebandarudaraan. Runway tidak lagi dilihat sebagai batas akhir perjalanan udara, melainkan sebagai fondasi strategis yang menentukan keselamatan manusia, efisiensi ekonomi, ketahanan operasional, dan kredibilitas sistem penerbangan nasional. Dalam dunia penerbangan yang semakin padat dan kompleks, kemampuan mengelola runway secara cerdas bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan prasyarat untuk bertahan dan memimpin.

geotimes - Advanced Runways Infrastruktur, Teknologi, dan Tanggung Jawab Pelayanan 2

Safety sebagai Prinsip Non-Negosiabel

Dalam filosofi ICAO, keselamatan penerbangan merupakan nilai absolut. Runway dan area udara sisi darat (airside) berfungsi sebagai last line of defense dalam sistem keselamatan penerbangan. Statistik global secara konsisten menunjukkan bahwa sebagian besar kecelakaan fatal masih terjadi pada fase take-off, approach, dan landing—fase yang sepenuhnya bergantung pada kualitas landasan, sistem navigasi, serta pemantauan real-time.

Dalam konteks ini, runway modern tidak cukup hanya panjang dan kuat. Ia harus cerdas. Artinya, dilengkapi dengan: Instrument Landing System (ILS) kategori Cat I, II, atau III sesuai kebutuhan operasional; Advanced Surface Movement Guidance and Control System (A-SMGCS); Runway Status Lights (RWSL); Foreign Object Debris (FOD) detection system, dan Integrated runway monitoring berbasis sensor dan data real-time.

Prinsip keselamatan menuntut bandara tetap mampu beroperasi secara aman dalam kondisi cuaca buruk, visibilitas rendah, dan kepadatan lalu lintas tinggi. ILS yang andal, dipadukan dengan pemantauan landasan berbasis digital, bukan sekadar meningkatkan operational minima, tetapi secara nyata menurunkan risiko runway incursion, runway excursion, serta controlled flight into terrain (CFIT).

Dengan demikian, investasi pada teknologi runway pada hakikatnya adalah investasi langsung pada keselamatan manusia—nilai yang tidak dapat dinegosiasikan.

Capacity & Efficiency

Keselamatan, meskipun fundamental, tidak dapat berdiri sendiri. Dunia penerbangan hari ini dihadapkan pada paradoks struktural: permintaan terus meningkat, sementara kapasitas infrastruktur terbatas. ICAO dan IATA memproyeksikan bahwa pertumbuhan lalu lintas udara global akan kembali melampaui era pra-pandemi, dengan tekanan terbesar justru terjadi di negara berkembang dan emerging economies.

Dalam kondisi ini, konsep airside capacity management berbasis teknologi menjadi krusial. Runway bukan hanya fasilitas fisik, melainkan sistem dinamis yang harus dioptimalkan secara cerdas. Teknologi memungkinkan: Reduced runway occupancy time melalui desain dan pemanfaatan exit taxiway yang optimal; Dynamic sequencing pesawat berbasis data cuaca dan lalu lintas; Performance-based navigation yang terintegrasi dengan ILS; dan, Pengurangan ground delay dan holding time.

CANSO menegaskan bahwa efisiensi airside tidak akan tercapai tanpa integrasi erat antara Air Traffic Management (ATM) dan Airport Operations. Runway monitoring yang terhubung langsung dengan unit ATC meningkatkan situational awareness, memungkinkan pengambilan keputusan berbasis kondisi aktual, bukan sekadar prosedur statis.

Efisiensi bukan berarti memaksakan kapasitas, melainkan mengelola kapasitas secara cerdas. Bandara yang benar-benar efisien adalah bandara yang tahu kapan harus memperlambat operasi demi keselamatan, dan kapan dapat meningkatkan throughput tanpa meningkatkan risiko.

Security

Dalam lanskap geopolitik global dan meningkatnya ancaman non-tradisional, keamanan penerbangan (aviation security) menjadi dimensi yang tak terpisahkan dari pengelolaan airside. Runway dan perimeter airside merupakan objek vital nasional yang rentan terhadap intrusi tidak sah, sabotase, ancaman drone, hingga serangan siber terhadap sistem navigasi dan monitoring.

Bandara modern menuntut pendekatan security by design. Sistem pemantauan runway tidak lagi hanya berfungsi untuk keselamatan operasional, tetapi juga sebagai instrumen deteksi dini ancaman keamanan. Sensor, radar permukaan, CCTV berbasis kecerdasan buatan, dan integrasi dengan command center menjadi standar baru.

Melalui pendekatan risk-based security, ICAO menekankan bahwa teknologi memungkinkan bandara mengalokasikan sumber daya keamanan secara proporsional terhadap tingkat risiko, tanpa mengorbankan efisiensi operasional. Keamanan, dengan demikian, bukan penghambat, melainkan bagian integral dari sistem kebandarudaraan yang seimbang.

Economic Development

Modernisasi bandara sering kali dipersepsikan semata sebagai proyek infrastruktur mahal. Padahal, dari perspektif ekonomi makro, runway adalah enabler pertumbuhan ekonomi nasional. Bandara dengan kapasitas dan reliabilitas tinggi terbukti mampu: Menarik investasi; Memperkuat konektivitas logistic; Menurunkan biaya transportasi; dan, Mendorong pariwisata dan perdagangan.

IATA secara konsisten menunjukkan korelasi kuat antara kualitas infrastruktur penerbangan dan pertumbuhan PDB. Sebaliknya, runway yang sering ditutup akibat cuaca, keterbatasan ILS, atau gangguan operasional menciptakan hidden cost yang jauh lebih besar dibandingkan biaya investasinya.

Lebih jauh, bandara modern berkembang menjadi pusat ekonomi baru (aerotropolis). Namun, konsep ini hanya dapat berjalan jika operasi airside mampu menjamin reliability dan predictability. Dunia usaha tidak hanya membutuhkan bandara yang aman, tetapi juga bandara yang tepat waktu, efisien, dan berkelanjutan.

Environmental Protection

Kritik terhadap sektor penerbangan sering diarahkan pada dampak lingkungan. Namun, narasi yang lebih proporsional menunjukkan bahwa teknologi airside justru merupakan alat mitigasi lingkungan yang efektif.

Runway monitoring dan ILS presisi memungkinkan: Continuous Descent Operations (CDO); Pengurangan go-around; Minimasi holding pattern; dan, Penurunan emisi dan kebisingan.

ACI menekankan bahwa green airport operations hanya dapat dicapai melalui efisiensi berbasis teknologi. Dengan demikian, dikotomi antara pertumbuhan penerbangan dan perlindungan lingkungan menjadi semakin usang. Yang dibutuhkan adalah kebijakan investasi cerdas pada teknologi yang tepat.

Tantangan Implementasi Konsep

Meskipun konsep Advanced Runways berbasis teknologi tinggi menawarkan solusi komprehensif bagi keselamatan, kapasitas, efisiensi, dan keberlanjutan, implementasinya di lapangan menghadapi tantangan multidimensional yang tidak sederhana. Tantangan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kelembagaan, ekonomi, sumber daya manusia, dan kebijakan publik.

Tantangan pertama adalah kesenjangan kesiapan infrastruktur dan teknologi antarbandara. Indonesia memiliki spektrum bandara yang sangat beragam—dari hub internasional dengan trafik tinggi hingga bandara perintis di wilayah terpencil. Penerapan ILS lanjutan, sistem runway monitoring berbasis sensor, dan integrasi data real-time membutuhkan prasyarat infrastruktur listrik, telekomunikasi, dan sistem pendukung yang belum merata. Tanpa pendekatan bertahap dan kontekstual, modernisasi berisiko menciptakan ketimpangan keselamatan dan efisiensi antarwilayah.

Tantangan kedua terletak pada kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia. Advanced Runways menuntut pergeseran paradigma dari operasi berbasis prosedur statis menuju pengelolaan berbasis data, risiko, dan teknologi digital. Hal ini memerlukan peningkatan kompetensi petugas bandara, teknisi, pengelola keselamatan, serta pengendali lalu lintas udara. Tanpa investasi serius pada pelatihan, sertifikasi, dan budaya keselamatan yang adaptif, teknologi berisiko menjadi sekadar “etalase canggih” tanpa dampak operasional yang optimal.

Ketiga, terdapat tantangan koordinasi lintas pemangku kepentingan. Modernisasi runway tidak berada dalam satu otoritas tunggal. Ia melibatkan regulator, operator bandara, penyelenggara navigasi udara, maskapai, serta aparat keamanan. Integrasi sistem monitoring runway dengan ATC, security command center, dan manajemen bandara menuntut mekanisme kolaborasi dan pertukaran data yang solid. Tanpa governance yang jelas dan berbasis kolaboratif, potensi teknologi justru dapat terfragmentasi dan tidak sinkron.

Tantangan keempat adalah pembiayaan dan justifikasi ekonomi. Investasi teknologi runway—ILS kategori tinggi, A-SMGCS, sensor FOD, dan sistem digital terpadu—memerlukan biaya awal yang signifikan. Tantangannya bukan hanya pada ketersediaan anggaran, tetapi pada kemampuan merancang model pembiayaan yang berkelanjutan dan adil. Di sinilah sering muncul dilema antara tuntutan efisiensi jangka pendek dan manfaat keselamatan serta lingkungan jangka panjang yang tidak selalu mudah diukur secara finansial.

Terakhir, tuntutan perlindungan lingkungan dan penerimaan publik juga menjadi tantangan tersendiri. Modernisasi runway harus mampu menjawab kekhawatiran masyarakat terkait kebisingan, emisi, dan penggunaan lahan. Teknologi memang menyediakan solusi, tetapi tanpa komunikasi kebijakan yang transparan dan berbasis data, modernisasi berisiko dipersepsikan sebagai ancaman, bukan solusi.

Dengan demikian, tantangan utama implementasi Advanced Runways bukan terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan pada kemampuan sistem penerbangan nasional untuk mengelola perubahan secara seimbang. Keseimbangan inilah yang menentukan apakah modernisasi runway akan menjadi loncatan peradaban, atau sekadar proyek infrastruktur yang kehilangan arah strategisnya.

Peta Jalan Kolaboratif

Keberhasilan implementasi konsep Keseimbangan Modernisasi Advanced Runways Berbasis Teknologi Tinggi sangat ditentukan oleh kejelasan peran dan kolaborasi para pemangku kepentingan. Tantangan kompleks tidak dapat dijawab oleh satu aktor tunggal; ia menuntut orkestrasi kebijakan, teknologi, dan kapasitas manusia yang terkoordinasi dengan baik.

Pemerintah dan Regulator memegang peran kunci sebagai penentu arah strategis. Kementerian terkait dan otoritas penerbangan sipil perlu menetapkan peta jalan nasional modernisasi runway yang berbasis risiko dan bertahap, selaras dengan SARPs ICAO dan praktik terbaik global. Tugas utama regulator adalah memastikan keseimbangan antara keselamatan, efisiensi, keamanan, dan lingkungan melalui kebijakan yang konsisten, mekanisme oversight yang kuat, serta harmonisasi regulasi lintas sektor—transportasi, keamanan, lingkungan, dan keuangan. Regulator juga harus memimpin transformasi kelembagaan dengan mendorong standardisasi data, interoperabilitas sistem, dan skema pembiayaan jangka panjang.

Operator Bandara bertanggung jawab pada implementasi operasional dan teknikal. Mereka perlu mengintegrasikan teknologi runway—ILS, runway monitoring, A-SMGCS, dan sistem pendukung keputusan—ke dalam operasi harian berbasis data. Fokusnya bukan sekadar pengadaan teknologi, melainkan optimalisasi utilisasi, pemeliharaan prediktif, dan peningkatan kinerja keselamatan serta efisiensi. Operator bandara juga berperan sebagai penggerak agenda keberlanjutan melalui penerapan operasi ramah lingkungan, pengurangan emisi dan kebisingan, serta pelaporan kinerja yang transparan.

Penyelenggara Navigasi Udara (ANSP) memiliki peran krusial dalam memastikan integrasi antara runway dan manajemen lalu lintas udara. Mereka perlu memperkuat kolaborasi dengan operator bandara melalui collaborative decision-making, integrasi data real-time, dan peningkatan situational awareness. Modernisasi ATM, termasuk dukungan terhadap performance-based navigation dan konsep remote/multi-airport operations, menjadi prasyarat agar peningkatan kapasitas runway tidak menciptakan bottleneck di udara.

Maskapai Penerbangan berkontribusi sebagai pengguna utama dan mitra strategis. Maskapai perlu terlibat aktif dalam perencanaan kapasitas, pengujian operasional, serta berbagi data keselamatan dan kinerja. Umpan balik operasional dari maskapai menjadi kunci untuk memastikan bahwa investasi teknologi benar-benar meningkatkan reliability, ketepatan waktu, dan efisiensi biaya.

Aparat Keamanan dan Otoritas Lingkungan berperan menjaga keseimbangan non-teknis. Pendekatan security by design dan risk-based security harus diintegrasikan sejak tahap perencanaan, sementara otoritas lingkungan memastikan bahwa modernisasi runway sejalan dengan target pengurangan emisi dan kebisingan.

Terakhir, institusi pendidikan dan pelatihan bertanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap teknologi tinggi dan budaya keselamatan. Tanpa SDM yang kompeten, modernisasi tidak akan berkelanjutan.

Peta jalan ini menegaskan bahwa advanced runways bukan proyek teknis semata, melainkan agenda nasional kolaboratif. Ketika setiap pemangku kepentingan menjalankan perannya secara sinkron, keseimbangan antara keselamatan, efisiensi, ekonomi, keamanan, dan lingkungan bukan hanya mungkin—melainkan dapat dicapai secara berkelanjutan.

Penutup

Masa depan kebandarudaraan tidak pernah ditentukan oleh satu variabel tunggal, melainkan oleh kemampuan sistemik untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan, kapasitas dan efisiensi, keamanan, pertumbuhan ekonomi, serta perlindungan lingkungan dalam satu kerangka kebijakan yang kohesif dan berjangka panjang. Bandara modern dituntut tidak hanya aman, tetapi juga tangguh, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika teknologi, iklim, dan geopolitik global.

Runways dan airside capacity yang dilengkapi ILS modern serta sistem monitoring canggih bukan sekadar etalase kemajuan teknologi, melainkan refleksi pilihan strategis sebuah bangsa. Ia menunjukkan apakah pengelolaan kebandarudaraan diarahkan untuk sekadar bertahan menghadapi tekanan operasional, atau justru memimpin transformasi layanan penerbangan regional dan global.

Dalam dunia penerbangan, langit tidak pernah memaafkan ketidaksiapan. Oleh karena itu, modernisasi layanan kebandarudaraan berbasis teknologi tinggi bukanlah kemewahan, melainkan tanggung jawab peradaban. Jika keselamatan adalah fondasi, teknologi adalah jembatan, dan keseimbangan adalah tujuan akhir yang harus dijaga secara konsisten.

 

Referensi

International Civil Aviation Organization. (2018). Annex 14 to the Convention on International Civil Aviation: Aerodromes, Volume I – Aerodrome Design and Operations (8th ed.). Montreal, Canada: ICAO.
International Civil Aviation Organization. (2016). Global Air Navigation Plan (Doc 9750) (6th ed.). Montreal, Canada: ICAO.
International Air Transport Association. (2021). Global Airport and Airspace Capacity Outlook. Montreal & Geneva: IATA.
Airports Council International. (2017). Airport Capacity Management. Montreal, Canada: ACI World.
Airports Council International. (2021). Airport Operations Manual. Montreal, Canada: ACI World.
Civil Air Navigation Services Organisation. (2018). Global ATM Operational Concept. Amsterdam, The Netherlands: CANSO.

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.