Senin, Mei 17, 2021

Adil Sejak Dari Pikiran

Menggugat Nalar, Membangkitkan Fungsi Intelektual

Nalar pernah menjadi dewa maha perkasa dunia manusia. Otoritasnya yang termanifestasi melalui proses Rennaissance dan Aufklarung telah melengserkan referensi kebenaran manusia Eropa kala itu...

Belajarlah dari PDI-P dan PNI, Golkar

Dimuara Publik, tidak ada kader manapun yang meragukan kader-kader Golkar, militansi, eksistensi dan pergerakannya sangat cepat dan cerdas dalam meraih simpati rakyat.Sayangnya, kinerja Kader...

Arah Gerakan Perempuan

Belum lama ini kita merayakan Hari Kartini. Simbol adannya pergerakan kaum perempuan di Indonesia. Raden Adjeng Kartini merupakan salah satu tokoh Pahlawan Nasional yang...

Corona dan Parodi Masyarakat

"Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur". (Karena corona anak...
Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff

Penulis: M. Dudi Hari Saputra, MA. (Peneliti di Indonesia Development Institute, Jakarta).

‘Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan’.
(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1975.)

Ungkapan ini selalu berseringai di kepala, menginspirasi namun sekaligus menampar sanubari. Bagaimana tidak, ketidakadilan intelektual lebih sering dipertontonkan oleh orang-orang yang menganggap dirinya kaum terpelajar.

Fenomena fallacy (kekeliruan berfikir) bahwa saya professor maka saya lebih baik dari yang doktor, atau yang doktor maka saya lebih baik dari yang master, atau yang master maka saya lebih baik dari yang sarjana, atau yang sarjana maka saya lebih baik dari yang tidak memiliki gelar kesarjanaan apa-apa.

Gradasi intelektual yang dimaknai sebagai hirarki kebenaran yang menyesakkan, belum lagi fenomena bahwa saya lulusan dari sini maka lebih baik dari lulusan dari sana, dsb.

Bagaimana ukuran-ukuran prestasi pribadi menjadi kriteria kebenaran?. Seperti nada sindir dari Bambang Sugiharto: Bisa jadi anda benar, tapi karena anda bukan siapa-siapa, maka anda dianggap ngawur. Sedangkan bisa jadi ucapan yang ngawur tapi karena keluar dari mulut professor, maka ungkapan itu “dianggap” benar dan logis.

Berkelibat teringat ungkapan Sayidina Ali bin abi thalib kwjh.: Perhatikan apa ucapannya, bukan siapa yang mengucapkan.

Kalimat sederhana ini memiliki dasar pijakan epistemologi dan objektifitas yang kuat: Bahwa ukuran kebenaran bukan karena siapa penyampainya, tapi bagaimana rasionalitas dan korelasi dengan fakta dari apa yang diucapkan, yakni apakah mampu menjelaskan atau sesuai dengan kenyataan.

Tidak jarang, dalam perjalanan intelektual pribadi, saya lebih sering menemukan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu dan wawasan yang luas karena belajar dari proses-proses informal. “Ketidakbertitelan” malah membuat mereka menjadi lebih tawadhu sehingga mampu menyelami realitas yang sebenarnya terjadi.

Ibarat kata: Teori-teori yang terlalu banyak, malah menjadi penghalang diri dengan realitas yang sebenarnya terjadi (ilmu sebagai hijab/penghalang).

Saya teringat ketika bertanya kepada Ferizal Ramli tentang bagaimana kualitas pendidikan di Jerman, universitas mana yang sebaiknya dimasuki. Dia menjawab bahwa semua universitas di Jerman memiliki kualitas yang setara.

Lantas bagaimana dengan Indonesia ?, disadari atau tidak, fenomena ego intelektual masih ada, bahwa saya dari alumni universitas sini, tentu lebih dari anda yang alumni universitas sana. 

Namun fenomena ini bukan sekedar mindset atau citra, namun benar-benar terjadi. Adanya disparitas kualitas universitas di Indonesia turut memberikan andil tidak meratanya kualitas SDM di seantro nusantara tercinta.

Bagaimana bisa terjadi pemerataan pembangunan dan pendidikan, jika dosen-dosen terbaik hanya berkutat pada alumni nya?, atau di kota-kota besar di mana fasilitas begitu lengkap?.

Lantas, bagaimana kita bisa adil dalam berfikir, terlebih dalam bersikap?, jika kita terus menjaga mekanisme sistem yang membuat orang-orang pintar berkumpul pada satu tempat, tanpa ada usaha untuk menyebarkan kesetiap pelosok negeri?.

Apa alasan bahwa orang Papua tidak berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama baiknya seperti di Surabaya, Bandung, Jogja atau Jakarta?.

Muhammad Dudi Hari Saputra
Industrial Ministry Expert Staff
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.