Sabtu, Mei 8, 2021

Ada Buaya Bermain Bola di TVRI

Interpretasi Hegemoni Politik Kampus

Tahun 2020 akan segera menutup usia yang tidak lebih dari satu setengah bulan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akan ada pergantian jabatan dalam organisasi mahasiswa. Sebagian...

E-Sport: Olahraga Baru, Pendapatan Menjanjikan

Sebagian besar kalangan pelajar seperti mahasiswa tahu apa itu E-Sport, setiap waktu senggang atau sedang bosan tidak ada tugas kita bermain gameonline, gameonline mulai sudah dapat dikatan...

Kehidupan yang Genit cum Semholai

Dangdut sempat dan masih lekat dengan lema seputar biduan seksi, goyangan seronok, musik kampungan, minuman keras, dan lema-lema picisan lain. Kendatipun begitu, dangdut kian...

Perempuan dan Politik: Pentingkah Perempuan di Parlemen?

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia telah menetapkan Daftar Caleg Tetap (DCT) DPR, pada tanggal 20 september 2018. Tercatat sebanyak 7968 calon dalam keputusan KPU...
Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka

Penayangan Liga Primer Inggris diduga jadi penyebab dilengserkannya Helmy Yahya sebagai Direktur Utama TVRI oleh Dewan Pengawas TVRI. Salah satu alasan diberontaknya tayangan bola itu gara-gara tidak adanya keselarasan antara substansi acara dengan jatidiri bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pengawas (Dewas) TVRI, Arief Hidayat Thamrin, ketika menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi I di kompleks MPR/DPR di Senayan Jakarta.

Meskipun mantan dirut menyatakan bahwa hal itu tidak ada hubungannya–apalagi jika dikait-kaitkan dengan riuhnya Jiwasraya–namun sebagian publik sudah terlanjur mengamini alasan pelengseran tersebut. Entah dengan alasan apa, publik pun kemudian berpihak pada Dewas TVRI yang mengupayakan dibukanya alasan penanyangan Liga Primer Inggris tersebut.

Publik juga berusaha berpihak pada Dewas TVRI yang berupaya menyelamatkan anggaran trilyunan untuk ‘sekadar’ tayangan rebutan bola tadi. Nilai kebangsaan seharusnya diutamakan oleh roh televisi negeri itu dalam menghadirkan acara yang bisa menambah kekuatan nilai dan rasa cinta tanah air.

Mungkin saja asumsinya begini: yang ditayangkan sepak bola luar negeri, bagaimana caranya supaya sepak bola negeri ini ikut maju? Bagi dewan pengawas, seolah hal itu tidak ada hubungannya. Dan dengan ditayangkannya olah raga negeri lain, maka nilai dan rasa cinta tanah air tadi tidak akan bertambah. Malah kita juga harus membayar hak siar, yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan lain yang lebih krusial.

Tupoksi TVRI sebagai media publik, juga menjadi alasan. Konsep tayangan yang seharusnya dihadirkan adalah materi acara yang punya nilai edukasi, jati diri, dan sebagai media pemersatu bangsa.

Tidak ada yang salah dalam rangkaian gagasan Dewas TVRI ini. Namun, jika kita punya rasa prihatin terhadap kemajuan prestasi tim sepak bola kita, maka hal ini pun patut dipertimbangkan.

Memang, tayangan Liga Primer Inggris bukanlah satu-satunya cara dalam menyentuhkan nilai edukasi persebakbolaan modern. Namun paling tidak, seni mengolah bola dan mencetak gol, bisa dipelajari dari tanah Inggris sebagai kiblat sepak bola saat ini. Andai saja pemilik hak siar membolehkan TVRI membeli sebagian kecil saja dari seluruh tayangan yang ada, mungkin tidak akan ada polemik semacam ini.

Ada juga tayangan Discovery Channel yang menurut Dewas TVRI – seraya membandingkan dengan kekayaan binatang buas semacam buaya – ada juga di Indonesia. Tidak harus menampilkan buaya Afrika sebab di Indonesia juga banyak buaya. Pendapat ini pun tidak sepenuhnya keliru. Namun perlu diingat bahwa nilai edukasi para peneliti perilaku buaya di Afrika agaknya bisa ditiru oleh ilmuwan Indonesia.

Jadi, tayangan Liga Primer Inggris dan Discovery Channel, yang sedang dijadikan alasan untuk konflik internal TVRI tidak sepenuhnya keliru. Akan tetapi, mungkin saja ada yang terlewat dari proses komitmen tersebut, yaitu tidak disepakatinya jumlah film, durasi, atau rating kesebelasan yang tidak semuanya harus ditayangkan langsung oleh TVRI. Cukup yang ada di urutan enam besar klasemen terataslah yang dibeli, jika boleh.

Atau untuk tayangan Discovery Channel, khusus tentang binatang yang sudah jarang ditemui di Indonesia, bahkan memang tidak ada, yang dibeli oleh TVRI. Agaknya hal inilah yang sebetulnya jadi ganjalan Dewas TVRI, agar ke depannya tetap bisa jadi media publik yang memintarkan masyarakat pemirsanya.

Dan TVRI juga sepertinya perlu mempertimbangkan pernyataan Helmy Yahya yang berujar bahwa tayangan sepak bola di negeri sendiri, ternyata lima kali lebih lebih mahal daripada yang diimpor dari Inggris. Hah? Benarkah demikian?

 

Hascaryo Pramudibyanto
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi pada FHISIP Universitas Terbuka
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.