Kamis, Juni 20, 2024

78 Tahun Merdeka, Banyumas Menuju Masyarakat Multikultural

Aditya Hera Nurmoko
Aditya Hera Nurmoko
Dr (Cand) Aditya Hera Nurmoko, S.IP, M.M. Dosen STIE YKP Yogyakarta, Pengamat Ekonomi dan Bisnis, Peneliti, Konsultan, Komisaris, Pegiat Sosial dan Budaya

Seperti sinar fajar yang menerangi langit pagi, peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Banyumas menjadi momentum berarti dalam membangun karakter multikultural. Di tengah gemuruh suara merdeka, negeri ini berdiri tegak, menjunjung tinggi keberagaman budaya sebagai tonggak persatuan. Namun, dibalik indahnya perayaan, terhampar  tantangan yang menuntut perenungan filosofis mendalam agar langkah ke depan dapat diraih dengan kemuliaan.

Bangsa ini dibentuk dari keberagaman etnis, suku, dan agama yang membentang melintasi nusantara. Sebagai kumpulan keunikan budaya, keanekaragaman adalah harta tak ternilai yang perlu dirawat dengan tekun dan dihargai sepenuh hati. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia juga harus menghadapi kritik dan tantangan dalam memelihara keberagaman ini.

Kritik Hari Kemerdekaan di Banyumas

Tak dapat dipungkiri, peringatan Hari Kemerdekaan di Banyumas juga mencerminkan realitas yang menggugah pertanyaan filosofis. Pertama, adakah pendekatan edukatif yang cukup dalam peringatan ini untuk membangun karakter multikultural pada generasi muda? Sejatinya, peringatan harus menjadi medan tempur bagi pemikiran, diskusi, dan refleksi tentang makna kemerdekaan yang lebih dalam, sehingga menggugah keinginan untuk saling mengenal dan mencintai keberagaman budaya.

Kedua, apakah partisipasi dan representasi berbagai kelompok etnis dan agama dalam acara peringatan sudah optimal? Sebuah masyarakat yang harmonis adalah cerminan dari kesatuan yang dibangun oleh berbagai warna dan aroma keberagaman. Tidak ada satu suara yang berdiri sendiri, namun semuanya bersama-sama membentuk simfoni kehidupan yang indah.

Ketiga, angka kemiskinan di banyumas masih tinggi sekitar 13 persen di tahun 2022, berada di peringkat 8 termiskin dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Ini perlu mendapat perhatian besar di tengah kita lantang bicara “merdeka’ di Banyumas SATRIA.  Angka pengangguran cukup tinggi dan Pembangunan infrastruktur masih belum optimal.

Mewujudkan Masyarakat Multikultural yang Harmonis dan Sejahtera

Mari melangkah maju, merenung dan menatap ke depan, tantangan yang harus diatasi dalam mencapai masyarakat multikultural yang harmonis mengemuka. Pertama, pendidikan multikultural menjadi solusi utama untuk membentuk karakter generasi muda. Di ruang-ruang kelas, anak-anak harus diajak untuk membuka mata hati mereka melihat keberagaman sebagai kekayaan, bukan sebagai sekat yang memisahkan.

Kedua, menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya menghargai dan merayakan keberagaman budaya. Jika keberagaman diletakkan di atas altar penghormatan, maka masyarakat akan mengalami pembaruan kesadaran bahwa perbedaan adalah hiasan, bukan beban. Jalan melawan politik identitas dan ras pun bisa melalui perjuangan budaya sebagai kearifan lokal dan keunikan identitas Banyumas.

Ketiga, perlu adanya kebijakan pemerintah dan dukungan masyarakat dalam menjaga perdamaian dan memperkuat solidaritas sosial. Bukan hanya retorika, tetapi kebijakan konkret dan aksi nyata yang menjadi jalan menuju keberhasilan dalam memelihara keberagaman melalui etos kerja bersama/ gotong royong.

Keempat, mengoptimalkan potensi ekonomi dan pariwisata lokal sebagai ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan menginventarisir semua asset yang tersedia di Banyumas. Contoh, lewat daya tarik wisata dan budaya, pintu peluang besar terbuka untuk saling berbagi pengalaman, meneguhkan silaturahmi, dan menabuh genderang persaudaraan serta kesejahteraan. Relokasi UMKM di alun-alun Banyumas dan penggantian lahan terkena dampak jalur tol pun harus memberi kepastian alternatif ekonomi yang baik sebagai wujud tanggung-jawab pemerintah terhadap rakyatnya.

Kesimpulannya, sebagai bendera semangat juang yang menjulang dan berkibar, peringatan Hari Kemerdekaan RI di Banyumas bukanlah sekadar seremoni, tetapi juga ruang kearifan dan daya tarik. Dalam meniti jejak menuju masyarakat multikultural yang harmonis, kritik dan tantangan harus dibangun dan disambut sebagai tanda-tanda penyemangat.

Sebab, hanya dengan menjalani perenungan filosofis yang mendalam dan kebangkitan ekonomi sosial budaya, Banyumas dapat bersama-sama menghela nafas kebanggaan ketika menggapai cita-cita luhur sebagai peradaban yang menghargai dan merayakan keberagaman budaya.

Aditya Hera Nurmoko
Aditya Hera Nurmoko
Dr (Cand) Aditya Hera Nurmoko, S.IP, M.M. Dosen STIE YKP Yogyakarta, Pengamat Ekonomi dan Bisnis, Peneliti, Konsultan, Komisaris, Pegiat Sosial dan Budaya
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.