Minggu, April 18, 2021

Menyoal Keterpilihan Megawati

Ironi Tanah Maluku

Alam kurang adil yang seperti apa. Birunya samudera beserta jutaan potensi di bawahnya telah ia sediakan. Ribuan gugusan pulau membentang dari Tanah Seram hingga...

Seharusnya Tidak Ada Korban Jiwa

Romantis, kata itu setidaknya perlu dipahami berbagai pihak dalam menyikapi hubungan mahasiswa dan negara hari-hari ini. Kata tersebut tidak hanya direpresentasikan sebagai hubungan yang...

Pulau Lombok yang Terdesak Pembangunan

Saya kurang tahu tepatnya, tapi entah sejak kapan pulau Lombok menjadi terkenal. Dulu, saya harus menjelaskan panjang lebar bahwa Pulau Lombok bukan Pulau cabai,...

Sebelah Mata Novel dan Mata Kita

Sudah lama kita mendengar kasus penyiraman air keras kepada salah satu penyidik KPK yaitu Novel Baswedan. Novel diserang menggunakan air keras oleh orang tak...
Rudi Hartono
Penulis lepas dan penikmat kopi. Tertarik pada kajian ekonomi politik, poilitik lokal, dan kebijakan publik.

Kongres ke-V Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Bali kembali mengukuhkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum. Memimpin partai pada usia tak lagi muda jelas sekali memperlihatkan tingginya komitmen politik beliau, di samping adanya ‘krisis’ kepemimpinan berkarakter di partai. Dengan keterpilihan secara aklamasi ini membuat Megawati memegang rekor sebagai ketum partai terlama dalam sejarah politik tanah air.

Terlepas dari rekor tersebut. Masalah krusial dan menarik untuk di telaah adalah bagaimana iklim demokrasi di internal partai berlambang banteng tersebut. Keterpilihan Megawati bukan perkara budaya politik feodal semata atau buruknya demokrasi partai. Perkaranya tak semudah apa yang kita pelajari dalam kepustakaan politik.

Ada kencenderungan kekosongan figur-figur politik yang tak mampu menyaingi ketokohan Megawati di PDIP. Ini merupakan konsekuensi logis dari kosentrasi pengaruh yang terpusat pada sosok mantan presiden ke lima Indonesia tersebut.

Kecenderungan kekosongan itu mesti di letakkan dalam konteks bagaimana proses regenerasi partai selama ini. Apakah kekosongan figur itu mencerminkan stagnasi dalam proses regenerasi kepemimpinan partai? Atau tengah mempersiapkan kepemimpinan yang berasal dari trah-Soekarno?

Bagi politisi PDIP terpilihnya Megawati merupakan kehendak kolektif para kader yang masih mengingini beliau memimpin. Jawaban normatif semacam itu secara implisit merefleksikan realita di internal partai yang menjadi rahasia umum.

Demokrasi mengharuskan adanya sirkulasi kepemimpinan dalam rentang waktu tertentu yang di persyarati oleh proses kaderisasi supaya terjadi regenerasi, justru pada kasus PDIP itu tidak terjadi.

Soekarnoisme yang mengakar kuat dalam tubuh partai berlambang banteng ini juga menjadi faktor determinan bagi proses regenerasi. Faktor ‘trah-Soekarno’ nampaknya membuat PDIP cenderung lamban melakukan regenerasi, di samping pragmatisme elite.

Seperti ada ‘kewajiban’ jika tonggak kepemimpinan partai harus berasal dari trah-Soekarno. Persis di titik ini timbul masalah. Sebab Soekarno sendiri tidak menginginkan nepotisme politik. Lagi pula istilah ‘trah’ itu sendiri lebih pada relasi biologis, ketimbang ideologis. Seperti adagium bahwa “biologis, belum tentu ideologsi”. Artinya politik trah itu tidak relevan bagi PDIP sebagai partai ideologis.

Baik Puan Maharani dan Prananda Prabowo, selaku putra/i Megawati, sekalipun trah-Soekarno, masih belum terlihat jejak ideologis pada diri mereka – terlepas dari pelbagai wacana terkait potensi mereka memimpin partai di masa mendatang.

Kalau memakai pertimbangan pragmatis, kedua anak dari sang ketum tersebut, juga kurang punya pengaruh. Ketokohan mereka di internal partai lebih pada faktor Megawati semata. Karenanya tak heran bila sampai sekarang masih terjadi kekosongan figur.

Bila berkaca pada kasus Partai Demokrat (PD). Terlihat bahwa kesadaran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan nasib partai yang pada Pemilu 2014 mengalami penurunan suara yang signifikan. Mengharuskan ia mengambil keputusan ekstrem dengan menarik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) keluar dari karir Militer untuk masuk ke Politik, meski belum pada waktunya.

Menurut Muhtadi (2019) AHY sebenarnya tengah di persiapkan pada 2024. Namun kondisi “darurat” PD dan peluang saat itu, mengharuskan SBY untuk megambil keputusan tersebut.

Pada dasarnya langka SBY bukan perkara persiapan kepemimpinan 2024. Lebih jauh lagi adalah membangun pengaruh trah-Yudhoyono agar mengakar kuat dalam tubuh PD. Dengan kata lain, suatu langkah untuk mengurangi ketergantungan pada tokoh sentral. Hal ini berbeda dengan Megawati di PDIP. Tapi bisa dipahami kondisi sikologis para kader PDIP yang mengukuhkan kembali Megawati. Karena memang tidak ada alternatif lain selain beliau.

Keterpilihan Megawati setidaknya bisa membuat aman partai untuk sementara waktu. Meski keputusan ini sendiri bukan tanpa masalah. Dalam artian friksi-friksi itu bisa saja muncul. Bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Kehadiran Megawati dapat mengatasi potensi timbulnya friksi dengan instrumen kuasa otoritas kepartaian, tapi dengan ketokohannya sebagai politisi senior yang punya pengaruh kuat.

Juga terlalu sempit bila terpilihnya Megawati dimaknai serta (sekadar) diorientasikan untuk kepentingan power sharing untuk kepemimpinan Jokowi jilid-2 dan Pemilu 2024. Tanggungjawab moral PDIP sebagai partai Soekarnois yang mengemban tugas sejarah untuk memperjuangkan keadilan harus termanifestasi dalam kerja-kerja kongkrit. Bukan atas dasar klaim, tapi gagap menjalankan tugas.

Rudi Hartono
Penulis lepas dan penikmat kopi. Tertarik pada kajian ekonomi politik, poilitik lokal, dan kebijakan publik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.