Sabtu, April 24, 2021

Jawaban UAS Dituding Picu Konflik

Jokowi Bukan Pinokio

Belum lama ini media kita diramaikan dengan sampul majalah Tempo edisi ‘Janji Tinggal Janji’ yang terbit pada 16 September kemarin. Sampul majalah tersebut menuai...

Film “Joker” dan Mimpi Kaum Anarkis

Sudah banyak sebenarnya ulasan tentang film “Joker” tahun 2019, yang cukup fenomenal ini. Tulisan ini ingin mencoba memahami film tersebut dari sudut pandang yang...

Perlunya Pemerintah Menertibkan Buzzer Politik

Kehadiran penggaung (buzzer) mewarnai rentetan peristiwa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Kehadiran berbagai media sosial yang dipandang telah memberikan ruang keterlibatan masyarakat dalam...

Soeratin Menangis Melihat PSSI Kita

Dalam kondisi dehidrasi panas pekat Kota Jakarta, melalui Rapat Pleno DPP IMM saya diangkat menjadi Sekretaris Bidang Seni, Budaya dan Olahraga DPP IMM Periode...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Jawaban Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam sebuah acara ceramah agama, dituding bisa memicu konflik antarumat beragama di Indonesia. UAS diduga kuat telah melakukan penistakan agama.

Sejumlah elemen masyarakat, akhirnya melaporkan UAS ke pihak Polri. Untuk menghindari agar isu konflik berbau agama ini tidak melebar luas, Polri harus bertindak cepat. Sedikitnya ada tiga syarat utama yang harus dipenuhi agar kasus ini mereda yaitu pertama, UAS harus mengklarifikasi dan minta maaf atas isi ceramahnya dihadapan publik.

Kedua, Polri segera mengamankan UAS untuk menghindari penghakiman dan persekusi massa. Ketiga, semua kelompok ormas berbasis agama agar berusaha menahan diri untuk tidak melakukan aksi demo yang mungkin saja bisa memperkeruh suasana sehingga mengakibatkan kondisi keamaman dan kenyamanan sosial semakin tidak terkendali.

Seperti diberitakan sejumlah media sosial dan media massa, ceramah UAS dalam video yang sudah viral di media sosial, dinilai telah menistakan agama tertentu. Namun UAS membantah, dia merasa tidak bersalah atas ceramahnya itu.

Menurutnya, ceramah itu disampaikan untuk kepentingan menjawab pertanyaan jamaah yang hadir dalam forum pengajian tentang patung dan kedudukan Nabi Isa AS. UAS mengatakan bahwa pengajian itu dilakukan tahun 2016 lalu di Masjid An-Nur, Pekanbaru. Dia juga menolak secara tegas untuk meminta maaf kepada publik.

Benar atau tidaknya dugaan UAS melakukan penistaan agama, semestinya Polri segera menindaklanjuti insiden polemik bernuansa agama ini, bila kasus ini tidak diselesaikan dengan cepat, maka benih-benih perpecahan antarumat beragama bisa mencapai klimaksnya .

Adanya sejumlah elemen sosial yang melaporkan UAS ke kepolisian menjadi diskresi bagi Polri, apakah akan meneruskan proses hukumnya atau tidak? Namun, Polri wajib untuk melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap UAS, terutama menyangkut motif ceramah UAS serta dampaknya terhadap kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Polisi harus berani menyelesaikan kasus ini secara terbuka dan profesional.

Citra Buruk

Menurut saya, ceramah UAS sudah masuk dalam kategori konsep pencitraan ilmu psikologi politik. UAS mencoba memasukan eleman agama dalam psikologi politik. Sebagai penceramah, UAS secara terbuka sudah mengarahkan ideologinya kepada publik agar publik tertarik untuk mengikuti cara berpikirnya.

Dalam kasus ini, UAS sudah membangun citra buruk terhadap penganut agama non muslim. Di sisi lain, gambaran citra buruk terhadap non muslim yang disampaikan UAS bisa saja salah dan bertentangan dengan pemikiran penganut agama non muslim. Sudah dapat dipastikan bahwa ada perbedaan cara pandang antara UAS dengan penganut non muslim ketika melihat sebuah peristiwa, benda atau perilaku tertentu.

Name Calling 

Selain memainkan perannya sebagai penceramah agama, UAS juga terkesan sedang melakukan propaganda agama dengan cara-cara sangat buruk yang bisa mengakibatkan perang antaragama.

Meminjam pernyataan pakar komunikasi Harold Laswell, apa yang dilakukan UAS merupakan teknik untuk mempengaruhi cara berpikir massa dengan memanipulasi representasinya. Dalam teori Laswell, propaganda agama yang dilakoni UAS bertujuan untuk mengontrol opini publik melalui simbol-simbol religius.

Bila ditinjau dari sudut pandang Jacques Ellul, seorang filsuf dan sosiolog asal negeri Perancis, UAS telah menciptakan partisipasi aktif maupun pasif kepada publik secara psikologis melalui ceramah yang telah dimanipulasi.

Name Calling merupakan teknik propaganda agama yang dilakukan UAS. UAS menjelek-jelekan agama non muslim dengan cara Name Calling. Padahal, kebenaran isi ceramah UAS masih wajib diuji lebih dalam. Pemberian label buruk UAS, bertujuan untuk menurunkan derajat penganut non muslim. Sebagai umat muslim saya kecewa dengan UAS.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.