Senin, April 19, 2021

Daniel Dhakidae, Intelektual Sejati dan Pemikir Kritis

Satu Abad Begawan Sejarah, Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo

Di hadapan Sidang Senat Guru Besar Universiteit van Amsterdam yang menguji disertasinya pada 1 November 1966, Aloysius Sartono Kartodirdjo dinyatakan lulus Cum Laude. Disertasi...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Rahmat Jalaluddin Rakhmat

Jalaluddin Rakhmat yakin bahwa Gus Dur adalah seorang yang menguasai ilmu laduni -- pengetahuan yang didapat seseorang tanpa melalui proses belajar. Bagaimana ia bisa...

Jakob Oetama

"Kompas kehilangan kompas," barangkali itu frasa yang tepat untuk mendeskripsikan wafatnya Jakob Oetama. Bersama P.K. Ojong, Pak Jakob telah menjadi sumber arah bagi perjalanan...
Manuel Kaisiepo
Manuel Kaisiepo
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia 2000–2004

Intelektual sejati dan pemikir kritis itu telah pergi meninggalkan duka mendalam bagi kita semua, para sahabat dan semua orang yang memahami posisi dan peran intelektualnya: Daniel Dhakidae, Ph. D, yang akrab disapa Bang DD.

Tapi setelah larut dalam duka, kita tersadar ada warisan berharga peninggalan DD yang perlu terus dirawat: tradisi pemikiran kritis khususnya dalam ilmu-ilmu sosial, juga tradisi memelihara akal sehat di tengah realitas saat ini.

Tradisi pemikiran kritis sudah melekat dalam diri DD sejak usia muda, saat dia mengawali pendidikan filsafat di Seminari Tinggi St. Petrus, Ritapiret dan di Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero, Flores, NTT.

Tradisi itu semakin mengental pada fase berikutnya saat dia melanjutkan studi ilmu politik di UGM. Skripsi S1-nya berjudul “Nonvoting dalam Pemilihan Umum 1972 di Indonesia: Studi tentang Tingkah Laku Politik Mahasiswa Indonesia dengan Kasus Universitas Gadjah Mada” (1975).

Saat mahasiswa di UGM, DD bergabung dalam kelompok terbatas grup diskusi bersama Ashadi Siregar, Peter Hagul, dan lainnya yang aktif menerbitkan Jurnal Mingguan SENDI (Peter Hagul kemudian menjadi Pemred pertama koran kampus ‘Gelora Mahasiswa’, koran tempat saya juga aktif menulis).

Tamat dari UGM Yogyakarta, DD bergabung dengan Jurnal Prisma (LP3ES) tahun 1976 (saya sendiri baru ikut bergabung ke Prisma akhir 1979). Kita semua tahu, di Prisma-lah, sosok DD sebagai intelektual pemikir kritis semakin terbentuk dan sekaligus semakin dikenal luas melalui tulisan-tulisannya di jurnal ini.

DD kemudian melanjutkan studinya dan meraih Ph. D dari Cornell University, Amerika, dengan disertasi berjudul “The State, The Rise of Capital, and The Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry” (1991).
Disertasi ini mendapat penghargaan ‘The Lauriston Sharp Prize’ dari Southeast Asian Program Cornell University karena telah “memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu”.

Kembali ke Indonesia, DD menjadi Kepala Litbang Harian Kompas (1994-2006); selain tetap sebagai pengelola dan Pemimpin Redaksi Prisma sampai akhir hayatnya. Dia juga salah satu pendiri dan pengurus Yayasan Tifa.

Selain tulisan-tulisannya di Prisma, DD telah menulis beberapa buku serius. Salah satunya yang merupakan ‘master piece’-nya adalah Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003). DD kemudian menulis satu lagi buku serius, Menerjang Badai Kekuasaan (2015). DD bersama Vedi R. Hadi juga penyunting buku Social Science and Power in Indonesia (2005).

Selain menulis, DD juga menerjemahkan beberapa buku serius, di antaranya karya Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (1980); buku Maurice Duverger, Sosiologi Politik (1985); buku Wright Mills, The Sociological Imagination; dan buku Benedict R.O.G. Anderson, Imagined Communitites (2008).

Itu adalah sebagian dari warisan yang ditinggalkan DD buat kita. Selamat jalan Bang DD – Daniel Dhakidae (22 Agustus 1945 – 6 April 2021).

Manuel Kaisiepo
Manuel Kaisiepo
Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia 2000–2004
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.