Sabtu, Juni 19, 2021

‘Tentara Allah’ Virus Korona Menuju Chaos?

Prabowo Subianto, Donald Trump Kecil dari Indonesia

Ketika melihat pidato capres Prabowo Subianto tentang hotel-hotel di Jakarta, saya merasa sesuatu yang sangat familiar. Berbeda dari banyak orang yang menganggap Prabowo mengejek...

Apa yang Diobrolin Orang Ketika Listrik Modar?

Saya sedang menonton Hobbs and Shaw ketika listrik padam kemarin, 4 Agustus 2019.  Jason Statham mengendarai McLaren 720s-nya lewat kolong dua truk kontainer. Idris Elba...

Apa yang Film Bumi Manusia Suguhkan untuk Generasi Milenial?

Adaptasi novel menjadi film menuntut sineas untuk memilah, mereduksi, menghapus, menambah, dan memfokuskan plot, karakter, maupun tema yang penting bagi sineas untuk ditampilkan ke...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Ini bukan kelompok ekstrim kanan atau ekstrim kiri atau kelompok radikal lainnya yang mengkerut ketika diancam bui— tapi ‘tentara Allah’ berupa virus korona yang dulu di awal kedatangannya dikira azab untuk negeri kafir, tapi kemudian malah ngamuk di negeri-negeri Muslim dan bikin Masjid al Haram sepi dicekam takut, puluhan ribu sekolah diliburkan—ibadah di masjid dirumahkan, dan shalat Jumat dihentikan.

Apa ada jaminan ketika sekolah di semua jenjang diliburkan, ibadah dirumahkan, lantas ‘tentara Allah’ ini tidak datang menjemput ke rumah-rumah?

Tempo menyebut bahwa pemerintah terlihat mulai gelagapan setelah sebelumnya menganggap enteng dan remeh—‘cara pemerintah menangani wabah Covid-19 membuat publik panik. Koordinasi Presiden Joko Widodo dan menteri kesehatan Terawan belepotan” tulis Tempo pedas. Bukan hanya negara, ormas sekelas Muhammadiyah dan NU pun juga ikut gelagapan mau bertindak apa.

Sebut saja isu tentang salah satu menteri yang diserang ‘tentara Allah—virus korona’ telah membuat istana luluh lantak, tergagap corona, tak urung semua menteri harus chek up dengan efek takut yang tidak sedikit.

Bukan hanya istana. Korona efek juga telah membuat masyarakat secara personal atau berkelompok membuat banyak kebijakan prematur karena ada sebagian masyarakat yang paranoid dan sebar berita untuk membuat panik, takut dan resah massal. Panik massal ini yang menurut saya jauh lebih dahsyat dibanding daya rusak virus korona.

Sekolah diliburkan. Ibadah di masjid, gereja, pure, vihara ditiadakan. Hampir serempak masjidpun sepi. Adzan diubah. Orang takut jumatan. Pengajian, halaqah bahkan arisan ibu ibu PKK terancam diliburkan. Layanan publik ada yang dihentikan entah sampai kapan. Apakah ini namanya bukan chaos?

Tidak pernah diketahui mana menjadi sebab—- apakah daya lesak virus korona sebagai penyebab mati atau berita bombastis yang dibuat agar masyarakat takut dan panik. Jika yang pertama menjadi sebab maka orang mati karena virus korona ini tak sebesar virus Mars lima tahun lalu. Tapi jika sebaran takut dan panik yang menjadi tujuan maka sudah terbukti. Panik dan takut melahirkan keresahan massal penyebab chaos.

Masyarakat pun terbelah. Ada yang sangat takut kemudian bertindak irasional, ada yang menganggap remeh tiada sama sekali dan ada yang rasional berpikir dan bertindak. Tapi siapa bisa memilah dalam konteks sosial yang urap dan terus berubah.

Pemenangnya biasanya yang berperilaku irasional—lantas mendorong masyarakat mengambil tindakan gegabah dan emosional—ada sebagian yang mencoba memainkan suasana kebatinan masyarakat untuk panik. Maka lahirlah suasana takut berlebih— kecemasan massal dan ketakutan.

Libur sekolah bukan solusi. Ibadat di rumah juga bukan cara baik. Kalau diniati hanya sekedar menghindar dari kerumunan dan silaturrahim. Ironisnya tempat rekreasi malah macet. Mall, pasar dan Plaza tetap ramai pengunjung. Di kampungku, Yu Satukah, Mbok Mi, Cak Jum dan Kang Supingi malah belum dengar isu virus korona, jadi ia masih rajin adzan, shalat jamaah dan menggenggam erat tangan saat salaman.

Kita bisa belajar dari Kang Supingi jebolan sekolah rakyat generasi ‘sabak dan grib’ yang sumeleh tidak gampang panik—syaratnya cuman satu: tak banyak tahu. Sebab banyak tahu bisa berbalik menjadi kutukan—gampang panik dan stres kata Bhisma sesaat sebelum berangkat ke Padhang Kurusetra.

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.