Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Tekad dari Madura untuk SKK Buya Syafii

Melampaui Politik Daun Salam

Di masa kampanye Pilpres 2019, Cawapres Kyai Ma’ruf Amin, berkal-kali menegaskan bahwa dalam tarikh politik di masa lalu, posisi kyai tak lebih dari amsal...

Kekeliruan Argumentasi Diplomat Silvany Pasaribu

Disadari atau tidak, berargumentasi menyisipkan banyak kekeliruan, dan itu berbahaya. Dalam ruang publik misalnya, ketika argumentasi kita tercatat dan dimaknai kembali oleh publik, belum...

Ketika Para Tokoh Mendukung PSI

Sejatinya Pemilu adalah langkah mewujudkan harapan. Memilih pemimpin dan wakil rakyat adalah jalan mewujudkan harapan itu. Kita mempercayakan pengelolaan negara kepada mereka yang namanya...

Apa yang Film Bumi Manusia Suguhkan untuk Generasi Milenial?

Adaptasi novel menjadi film menuntut sineas untuk memilah, mereduksi, menghapus, menambah, dan memfokuskan plot, karakter, maupun tema yang penting bagi sineas untuk ditampilkan ke...
Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Belum lama ini saya menerima tamu asal Sumenep, Madura. Namanya Akhmad Fauzi. Salah seorang peserta Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM) gelombang III⁩ yang berasal dari Pulau Garam.

Semangat belajarnya sungguh luar biasa. Bisa dilihat saat dia mengikuti short-course selama seminggu lamanya di Sawangan, Depok. Hampir di setiap sesi ia aktif bertanya. Bacaannya juga kuat. Keingintahuannya begitu besar.

Terlebih saat bertemu Kyai Abdul Moqsith Ghazali–yang sama-sama dari Madura–saat menjadi narasumber di acara SKK. Serasa pertemuan antara santri dan Kyainya. Keduanya belum pernah bertemu, tapi anehnya langsung akrab. Rupanya ikatan primordialitas kedaerahan begitu sangat kuat.

Sejak awal, saya melihat semangatnya begitu besar untuk bisa mengikuti kegiatan SKK. Anda bayangkan, jarak tempuh dari desa kelahirannya, Masa Lima, (Kecamatan Masa Lembu) ke kota Sumenep, memakan waktu kurang lebih 13 jam naik kapal, yang menurut pengakuannya hanya beroperasi dua kali saja dalam seminggu.

Dari kota Sumenep ke Surabaya memakan waktu 5 jam. Cukup jauh dan melelahkan, tentunya. Namun, bagi Fauzi, itu tidak ada artinya sama sekali dibanding tekad kuatnya untuk bisa mengikuti kegiatan SKK.

MAARIF mengambil kebijakan agar ia diberikan tiket pesawat dari Surabaya – Jakarta, mengingat esok harinya, ia harus mengikuti tes wawancara di kantor MAARIF. Sehingga sampai Jakarta, ia bisa beristirahat dengan cukup. Begitu pertimbangan kami.

Tinggal beberapa hari pasca short-course, Fauzi memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk mengunjungi senior seniornya yang aktif di PMII, dan juga teman temannya yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta.

Meskipun baru pertama kalinya ke Jakarta, dia cukup berani bepergian sendiri mencari alamat teman temannya—termasuk inisiatifnya mengunjungi rumah saya di Parung, Bogor. Kemarin dia saya ajak bergabung bersama rombongan Caknurian, Gusdurian, Cahaya Guru, ANBTI, untuk hadir dalam perayaan misa Natal bersama teman teman Kristiani di gereja Katedral. “Ini pengalaman saya pertama kali masuk Gereja. Apa kata teman teman saya jika mereka mengetahui saya berada di sini?”, katanya.

Dia suka sekali dengan pemikiran Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii Maarif, utamanya tentang isu isu kebangsaan, keislaman, dan kemanusiaan. Karena itu, saat dia ke rumah, saya memberinya beberapa buku–yang kebetulan kembar–tentang pemikiran Cak Nur, Buya Syafii, dan sejumlah buku lain tentang isu isu pendidikan dan pluralisme. Dia sangat senang dan berjanji akan membacanya di rumah.

Saat pulang ke Sumenep, dia berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Kepadanya saya beri nasehat. Hidup ini laksana angin, air dan api. Jangan terlalu percaya pada angin, sebab ia bisa menyesatkan kamu dari jalan pulang. Pun, jangan mengutuk api, karena panas yang ditimbulkannya. Dan, jangan berlebihan pada air sebab ia bisa membawamu ke badai besar.

Perlakukan ketiganya sebagaimana kamu menaruh kepercayaan pada kekuatan tubuhmu, pikirmu dan hatimu. Tubuhmu adalah api, pikirmu adalah angin, dan hatimu adalah air. Artinya apa?

Hidup itu perlu keseimbangan dalam melihat segala sesuatu. Pilihlah jalan hidup yang kamu yakini benar. Perjuangkan pilihanmu dan jangan menyerah oleh suatu keadaan–apapun itu. Jangan ragu ragu mengambil keputusan sebab keragu-raguan akan membawamu pada kerapuhan.

Sampai jumpa lagi, Akh Fauzi. Semoga di suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali.

Avatar
Moh. Shofan
Direktur Riset MAARIF Institute, Aktivis Muhammadiyah yang sedang menempuh program Doktoral pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.