Rabu, April 21, 2021

Si Jenggot Kapitalis yang Berkedok Agama

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Berita ini bertubi-tubi menghiasi lini masa saya. Banyak teman saya menangis terharu karenanya. Tapi, siapa yang tidak? Anak-anak dari TK Katolik mengunjungi saudara-saudaranya sesama...

Bye Bye KPK…

Sebuah tembang era 90-an menyitir bahwa dunia ini panggung sandiwara. "Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada...

Ternyata Singapura Tak Ada Apa-apanya Dibandingkan Indonesia (2)

Kedelapan, soal bukti lebih meyakinkan lagi bahwa pria-pria Singapura lebih pengecut dibandingkan pria-pria Indonesia. Ketika saya makan di sebuah resto pinggir jalan di kawasan...

Rahman Tolleng yang Saya Kenal

Saya mengenalnya sejak tahun 1990. Saya sendiri baru sadar bahwa itu waktu yang lama sekali. Saat itu saya sedang mengerjakan skripsi S1 tentang jendral-jendral...
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Kasus Injil berbahasa Minang akhirnya berbuntut panjang. Irfianda Abidin Ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) bahkan mencoret identitas keminangan dari Ade Armando. Orang ini mungkin menganggap, kekerabatan Minangkabau seperti struktur pemerintahan. Jadi dia bisa berbuat seenaknya. Karena merasa jadi pemimpin tertinggi.

Irfianda Abidin ini tidak mengerti tentang kekerabatan dalam struktur adat Minang. Ia menganggap organisasi MTKAAM itu penting, padahal itu hanya ormas. Tidak punya kekuatan apa-apa selain koar-koar. Tidak mengikat. Dan tidak ada efeknya bagi kehidupan Ade Armando, serta orang Minang yang lain.

Dilihat dari sejarahnya, MTKAAM adalah organisasi politik, bahkan partai politik. Seiring berjalannya waktu, ormas sejenis ini sengaja dibentuk oleh Orde Baru untuk mengekang ninik mamak (sesepuh adat). Dalam sejarah Minangkabau, wali nagari itu yang tertinggi di nagari (wilayah adat). Tidak ada kekuatan adat yang lebih tinggi dari itu. Tidak ada penghulu di atas Penghulu Nagari.

Hubungan antar nagari tidak bersifat hierarkis, tapi kultural. Satu penghulu tidak bisa memerintah penghulu yang lain. Tapi Orde Baru ingin mengubah itu. Mereka ingin mengendalikan ninik mamak dan pemuka adat agar berjalan dalam koridor kepemimpinan Soeharto.

Dengan dasar inilah, MTKAAM tidak punya kekuatan apa-apa. Mereka tidak bisa memerintah dan menjatuhkan vonis pada siapapun. MTKAAM hanya ormas, kalau Pemerintah mau, besok bisa dibubarkan. Mungkin Irfianda Abidin menganggap, kalau jadi ketua MTKAAM dia bisa bertingkah seperti raja. Merasa punya kekuatan hukum dan politik untuk menekan seseorang. Ngimpi!

Ini ilusi yang tercipta akibat seseorang merindukan jabatan politik yang tak bisa dicapainya. Irfianda ini memang seorang politikus. Dia kader Partai Bulan Bintang. Partai gurem yang bermimpi muluk ingin kembali membangkitkan Masyumi yang telah jadi abu sejarah.

Yang menarik adalah, Irfianda Abidin ini memiliki kedekatan dengan gerombolan garis keras. Lelaki berjenggot panjang ini juga aktif dalam kegiatan politik dengan identitas keagamaan. Belum lama ini dia juga mendorong berdirinya Masyumi Reborn. Dan yang tak mengejutkan, Irfianda adalah salah satu motor penggerak perkumpulan tukang ribut 212.

Orang-orang seperti ini memang kerap kali menciptakan paradoks. Irfianda sekilas terlihat saleh, dan jika menerawang jenggotnya itu, ia adalah seorang yang wirai, tidak suka keduniawian. Tapi faktanya dia ini seorang kapitalis. Bisnisnya menggurita dalam banyak sektor. Mulai hotel, garmen, bimbingan belajar, sampai SPBU.

Bagi khalayak, mungkin dia adalah figur tokoh adat sekaligus tokoh agama. Padahal sejatinya orang ini ya hanya seorang politikus dan kapitalis tulen. Agama adalah komoditi biasa yang menjadi lapak dagangan orang-orang seperti ini.

Islam tidak melarang orang untuk kaya, tapi berpenampilan seolah-seolah ahli agama dan wara adalah sebuah kepalsuan beragama. Ini yang berbahaya. Karena orang-orang awam akan menganggapnya ulama dan panutan. Padahal sejatinya aktor politik dan bisnisman tulen berbaju agama.

Jadi, keributan yang ditimbulkan oleh orang-orang Minang semacam Irfianda ini karena ada kepentingan politik. Gubernurnya PKS, ketua adatnya PBB, anggota DPR-nya kader PAN. Jadi sejatinya ini bukan persoalan agama, tapi sudah masuk kepentingan politik. Tiga partai berlabel agama tadi memang sering jualan isu-isu soal agama. Karena konstituen mereka kebanyakan adalah orang-orang yang mabuk agama.

Minangkabau pernah mengalami zaman keemasan. Cerdik-pandai yang lahir di sana adalah tonggak pendiri negara ini. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, Minangkabau adalah suluh ilmu pengetahuan. Tapi zaman gemilang itu telah terkubur sekian lama. Kini dari tanah yang sama tumbuh para bigot yang mabuk agama.

Jangankan mengikuti ajaran secemerlang Tan Malaka, Sutan Syahrir atau Mohammad Hatta, untuk meniru Buya Syafii Maarif saja mereka jauh levelnya. Kegelapan di Sumatera Barat sudah terjadi sejak lama. Karena orang-orang seperti Irfianda ini merajalela di sana.

Bayangkan saja, orang seperti Irfianda berlagak mau mencabut status keminangan Ade Armando, padahal dia bukan siapa-siapa. Menjadi ketua MTKAAM juga tak bermakna apa-apa. Itu kan hanya organisasi yang tak punya kewenangan adat sama sekali. Sayangnya, orang seperti ini barangkali tidak punya cermin di rumahnya…

Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.