OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

Pray From Home dan Kita

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Ratna Hayati
Seorang Ibu Rumah Tangga, ibu dari 4 anak yang menjalani pendidikan rumah atau homeschooling, suka berkebun, membuat kue, membaca dan menulis. Lahir di Solo 29 Juni 1982, menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Airlanga, S2 di Universitas Prasetyamulya dan bekerja 8 tahun di Astra Group

Di media sosial, beredar pengumuman dari Kementerian Agama. Masyarakat diajak dalam Pray From Home, Minggu, 11 Juli 2021. Pengumuman menampilkan foto Presiden Joko Widodo dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Tujuannya, “Untuk keselamatan bangsa, semoga pandemi Covid-19 dan variannya segera berlalu dan sirna dari bumi Indonesia dan dunia.”

Pengumuman yang sangat formal. Kita melihat dan membacanya serasa sedang menjalankan instruksi pemerintah. Masalah berdoa ternyata masalah besar bagi pemerintah.

“Ikhtiar zahir sudah dan akan terus dilakukan pemerintah. Bukan hanya itu, ikhtiar batin juga terus dilangitkan. Semoga pandemi lekas sirna. Ayo kita semua #PrayFromHome,” kutipan dari Koran Solo, 8 Juli 2021, sebagai respons atas semakin mengganasnya amuk virus Covid-19 dengan berbagai varian terbarunya, yang konon makin menular dan makin ganas.

Saat ini, orang tidak hanya sekadar diajak #StayatHome tapi juga diajak bersolidaritas lewat doa bersama untuk keselamatan negeri dari rumah masing-masing. Kalimat dari rumah masing-masing perlu mendapat garis bawah karena mungkin hal sederhana ini akan cukup sulit dilakukan oleh sebagian besar umat beragama di Indonesia.

Berdoa dan beribadah di rumah-rumah ibadah secara bersama selalu dipandang lebih afdol. Sebab, mungkin saja suasana khusyuknya akan lebih terasa, ada aura Tuhan yang memancar kuat yang mungkin sulit ditemui di rumah masing-masing.

Padahal saat ini rumah mungkin lebih terasa bagai penjara bagi banyak orang. Artinya, banyak yang merasa depresi saat diminta di rumah saja, merasa hampa  tak berdaya.

Seorang kawan karib terang menyatakan ingin menyepi di sebuah tempat samadi atau biara di Bali agar tenang. Padahal tinggalnya di Jakarta Barat. Ratusan kilometer yang harus ditempuh demi untuk bisa merasa tenang. Jelas, rumah secara eksplisit dinyatakan bukan tempat yang menenangkan, penuh hiruk pikuk suara anak yang berebut mainan, tumpukan cucian dan piring kotor yang menambah perasaan sengsara atau omelan pasangan pada anak yang tak kunjung patuh, sungguh  bukan suasana yang ideal untuk berdoa.

Tuhan mungkin sudah meninggalkan rumah-rumah seperti itu bagi mereka. Bagaimana mau diminta berdoa dari rumah saja? Sulitlah untuk konsentrasi dan menjadi khusyuk dalam doa.

Berita kematian selama pandemi menyedihkan tentunya, kehilangan yang amat besar. Sebab itulah didengungkan untuk berdoa dari rumah saja, bukan berdoa dari tempat ibadah masing-masing agama.

Sungguh, sebuah pesan yang memiliki makna bersayap, secara halus ingin “membujuk” umat agar sementara waku berkenan berdoa dari rumah saja  demi keselamatan bangsa. Doanya memohon keselamatan dan lokasinya spesifik demi keamanan dan keselamatan bersama secara harafiah.

Faktanya, salah satu sumber kluster penularan adalah kegiatan keagamaan yang dilakukan besama-sama .

Tapi, pada dasarnya, bukankah manusaia adalah makhluk yang suka berkerumun? Senang dengan hiruk pikuk. Tak heran, kalau orang suka mengulang ritual mudik bermacet-macet ria jutaan orang di waktu yang sama demi kumpul keluarga merayakan hari besar keagamaan. Selain itu, beribadah bersama keluarga besar di kampung halaman masing-masing.

Sehingga ajakan #PrayFromHome ini menjadi agak terlalu utopis diwujudkan dan dilaksanakan penuh kekompakan. Meninggalkan rumah-rumah ibadah dan berlindung beribadah di rumah masing-masing ada yang menganggap itu sebagai tindakan kurang beriman dan pasrah, yang bisa mendatangkan azab dan sengsara bagi segenap umat.

Sesaat setelah rancana PPKM diumumkan, salah satunya adalah larangan beribadah di tempat ibadah sementara waktu alias tempat ibadah ditutup dan umat diminta menjalankan ibadah dari rumah masing-masing, lantas disambut gelombang protes.

Muncul juga seruan untuk tak mematuhinya demi menghindari azab Tuhan. Segala teori azab, konspirasi dan penolakan untuk patuh mungkin lebih infeksius sifatnya dibanding virusnya sendiri. Manusia menjadi kurang rasional dan abai.

Tapi, ada juga yang dengan sadar menerima segala pemikiran yang mendukung pemikirannya sendiri. Ketakutan kehilangan mata pencaharian dan penghasilan menjadi ketakutan terbesar dibanding risiko terjangkit virus yang tak kasat mata. Apa itu sama dengan ketakutan diazab dan tidak afdol ibadahnya kalau hanya dari rumah saja?

Jadi, masih relevankah pesan #PrayFromHome bagi sebagian besar rakyat Indonesia? Sekadar berdoa saja tapi kesadaran untuk taat pada protokol kesehatan amat rendah? Jangan-jangan muncul pendapat yakni sudah merasa berdoa maka tugas sudah paripurna.

Ratna Hayati
Seorang Ibu Rumah Tangga, ibu dari 4 anak yang menjalani pendidikan rumah atau homeschooling, suka berkebun, membuat kue, membaca dan menulis. Lahir di Solo 29 Juni 1982, menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Airlanga, S2 di Universitas Prasetyamulya dan bekerja 8 tahun di Astra Group
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.