Senin, Mei 17, 2021

Pembangkang Maklumat Muhammadiyah

Hoaks Pranoto dan Taktik Jitu Marketing

“Prof itu merupakan panggilan sayang.” Begitu kata Hadi Pranoto memberikan klarifikasinya kepada media. Beberapa hari sebelumnya, Pranoto di panggil dokter, sesekali Profesor dalam wawancara...

Corona, Manusia, dan Semesta

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan...

Megawati Sang Matriarch

Terus terang, ada seorang politisi yang tidak pernah saya perhatikan serius. Dia adalah Megawati Sukarnoputri. Saya akui, saya tidak pernah melihatnya sebagai politisi yang...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Saya menyebutnya ‘pembangkangan’ atas maklumat. ‘Kita tidak meniadakan ibadah, hanya cara dikala darurat, yang itu juga di dasarkan pada dalil agama yang kuat, bukan asal solusi. Islam kan selalu beri solusi. Kita orang Islam jangan memikirkan diri orang per-orang. Tapi ingatlah kepentingan umum yang lebih luas —tulis Prof Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menanggapi polemik maklumat PP tentang mengganti shalat Jumat dengan shalat jamaah zuhur di rumah.

Di tengah berbagai kabar baik dan prestasi membanggakan lainnya masih saja ada paradok tentang ‘pembangkangan’ terhadap maklumat PP Muhamadiyah tentang cara ibadah dikala darurat.

Apa mereka lupa, bahwa maklumat PP tentang mengganti shalat Jumat dengan jamaah shalat zuhur di rumah adalah hasil simpulan para ulama tarjih dari berbagai disiplin ilmu (Multidisipilin-ilmu) — yang melibatkan berbagai ulama dengan berbagai keahlian dan profesi yang kredibel —-? Naif jika kemudian dipatahkan ditingkat pengurus takmir dan ranting!

Bukan substansinya yang saya bahas tapi ancaman ‘pembangkangan’ ini yang merisaukan— lima atau sepuluh tahun lalu persyarikatan ini dikenal patuh sebelum kemudian ada ‘pembangkangan’ kecil-kecil.

Contoh kecil saja: ‘saya harus ‘tukaran’ dengan salah satu pengurus takmir di ranting untuk mematuhi maklumat PP—setelah berdebat lama tentang fiqh dan tarjih baru kemudian saya pungkasi dengan pernyataan ‘overmacht’: ‘Ini masjid Muhammadiyah maka harus tunduk patuh pada keputusan PP, kalau antum tidak mau yang silakan cari masjid yang lain!

Di kota Malang kabarnya juga sama —maklumat PDM juga ‘dilawan’ oleh salah satu takmir masjid yang tetap bersikukuh menyelenggarakan shalat Jumat dengan berbagai dalih—- artinya maklumat PP dipatahkan di tingkat ranting,

Satu PR besar bagi Persyarikatan ditengah keterbukaan informasi. Bahkan ada beberapa yang ragu bersikap, semacam sikap cari aman dengan memberikan otoritas takmir dan ranting untuk bersikap atas dasar alasan kondisional.

Saya merasakan ‘pembangkangan’ ini sejak Pilpres tahun kemarin—- beda pilihan politik kerap merepotkan dan terbawa hingga hari ini saya kawatir terus meluas belum ada titik final. Meski jujur saya katakan bahwa sikap ‘pembangkangan’ macam ini juga ada di ormas lain sejenis bahkan lebih parah.

Saya aktivis, saya ada di dalamnya dan tahu persis—ada pergeseran kepatuhan yang saya lihat. Dari semula patuh dan terkoordinasi berubah menjadi ‘otonomisasi’ meski baru dalam soal yang paling kecil.

Mungkin berawal dari dikotomis pemilahan pemikiran defacto antara aktifis masdjid dan aktifis kampus:—yang pertama lebih lekat dengan puritan dan yang kedua ditabalkan sebagai liberal. (Dalam bahasa saling tak suka ).

Benarkah diantara aktivis masjid dan aktivis kampus telah terjadi kesenjangan? Saya pikir ini pertanyaan tergesa-gesa padahal belum ada kajian komprehensif tentang disparitas pemikiran di Persyarikatan. Lantas apa sebab ada ‘pembangkangan’?

Mungkin karena akses Pimpinan Pusat (PP), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) sebagai elite Persyarikatan melemah—-tiga struktural ini saya bilang sebagai elite Muhammadiyah hanya menguat di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan rumah sakit atau amal usaha lain yang sejenis tapi kemudian melemah pada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), kelompok grassrote Muhammadiyah yang juga ingin eksis.

PCM dan PRM ini menguasai masjid dan amal usaha kecil-kecil yang tidak populer. Hidup dari urunan nir-fasilitas. Para aktivis ini dikenal militan sebab mereka adalah ujung tombak yang berhadapan langsung dengan pengamal TBC.

Meski jumlah ‘pembakangan’ terhadap maklumat PP tak seberapa, tapi layak ada skrining dan audit kepatuhan. Bukan hanya terhadap maklumat tapi juga terhadap putusan dan fatwa tarjih.

Sampai disini, ada pekerjaan besar bagi pimpinan Persyarikatan untuk mengembalikan marwah dengan cara menegakkan kepatuhan untuk tetap menjaga koneksitas antar struktur semacam ‘overmacht’ agar ‘pembangkangan’ tidak berkembang dan berulang karena ada pembiaran. Demikian.

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.