Senin, Mei 17, 2021

Kedewasaan Umat Beragama dan Toleransi Anak TK

Disabilitas dan Musik Sebagai Karya

Kita selalu berpikir bahwa kita hidup untuk bisa "berguna", baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, bahkan untuk negara dan kemanusiaan. Dengan konsep...

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Bea Siswa Berkat Christine Hakim

Christ! Sapa saya pada Christine Hakim sambil tersenyum. Saya panggil bintang film Tjoet Nyak Dhien itu. Kebetulan saya pernah bertemu dengannya di sebuah diskusi film...

Rahman Tolleng yang Saya Kenal

Saya mengenalnya sejak tahun 1990. Saya sendiri baru sadar bahwa itu waktu yang lama sekali. Saat itu saya sedang mengerjakan skripsi S1 tentang jendral-jendral...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Berita ini bertubi-tubi menghiasi lini masa saya. Banyak teman saya menangis terharu karenanya. Tapi, siapa yang tidak? Anak-anak dari TK Katolik mengunjungi saudara-saudaranya sesama TK yang Muslim. Lalu mereka saling berpelukan. Seperti lazimnya anak-anak.

Koran yang memberitakan ini memulainya dengan sebuah cliché, “Toleransi antarumat beragama sudah sepatutnya diajarkan sejak dini.”

Benarkah demikian?

Sepanjang ingatan saya, dan juga dari pengalaman hidup di beberapa negara, orang hanya akan bicara toleransi jika ada masalah. Pada dasarnya, orang tidak terlalu peduli dengan perbedaan-perbedaan seperti ras, warna kulit, agama, dan sebagainya itu. Orang akan jauh lebih sensitif pada perbedaan sosial ekonomi.

Masalah toleransi dan intoleransi sesungguhnya berakar pada faktor-faktor sosiologis, politis, dan ekonomis. Anda bicara masalah ras, misalnya, hanya jika masalah warna kulit ini masuk ke dalam politik, ke hidup sosial, dan ke ketimpangan ekonomi. Pendeknya, dia menjadi masalah struktural.

Seperti ini misalnya. Kalau Anda berkulit putih maka kemungkinan Anda akan lebih makmur, lebih berpendidikan, hidup di keluarga yang stabil, gizi Anda pun lebih baik dan sehat.

Jika Anda berkulit coklat atau hitam, Anda adalah kebalikannya. Anda miskin, kurang terdidik, dari keluarga yang berantakan, dan Anda kemungkinan kurang makan atau kelebihan makan karena makanan sehat itu mahal.

Kemudian ada politisi yang mengeksploitasi isu ini. Di tangan para politisi, isu yang absah (legitimate) harus dirubah menjadi kemarahan. Hanya orang marah yang gampang termobilisasi. Tentu, arahnya adalah supaya politisi ini mendapat dukungan. Entah lewat pemilihan atau hanya sekedar opini publik bahwa ia memang penguasa yang sah.

Toleransi pun tidak jauh dari soal ini. Kita menghadapi masalah. Di negeri ini, paling gampang membuat orang marah karena soal agama. Politisi dengan pintar memanfaatkan situasi ini.

Para politisi, baik yang berjubah, bersarung, berdasi, maupun hanya berbaju putih atau biru, berlomba-loma melakukannya. Ada yang melakukannya dengan telanjang. Ada pula dengan sarung tangan beludru.

Kita membutuhkan toleransi karena kita tidak sanggup menyelesaikan masalah-masalah besar kita: kemiskinan, ketimpangan sosial, keadilan, dan sejenisnya itu lewat sarana-sarana yang kita miliki. Ekonomi kita membela yang kuat. Keadilan kita menindas yang lemah. Politik kita dikuasai para plutokrat.

KIta mengalihkan masalah-masalah besar itu dan menjadikannya masalah agama. Mulailah kita memerlukan toleransi. Dan, jangan salah, toleransi bahkan menjadi industri tersendiri. Begitu banyak lembaga didirikan. Begitu banyak intelektual, akademisi, dan (tentu saja) agamawan, dilibatkan. Mereka bisa bicara yang hebat-hebat.

Adakah dia menyelesaikan masalah intoleransi? Tentu tidak. Berharap demikian, ibaratnya kita menyembuhkan sakit kanker dengan Yodium Tincture.

Hasilnya adalah sebagian masyarakat yang gumunan, yang gampang terharu. Kita terkejut mendapati bahwa satu Vihara di utara Jakarta telah bertahun-tahun menyediakan makanan buka puasa gratis untuk mereka yang berpuasa. Apa yang normal menjadi sangat istimewa. Ini sendiri adalah symptom ketidaknormalan kita.

Saya tidak mau menjadi sinis. Namun inilah yang terjadi. Sekarang keadaan bahkan makin menguat. Kalau kita melihat kembali hasil Pemilu kemarin, kita segera tahu bahwa kita semakin terbelah. Hampir pasti, kita akan semakin kuat merindukan toleransi. Sekalipun bukan disana pokok soalnya.

Tingkah laku anak-anak TK ini menjadi luar biasa karena orang dewasa tidak mampu melakukannya. Padahal hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang normal belaka. Anak-anak akan bermain tanpa bertanya apa agama teman bermainnya.

Ironisnya adalah bahwa hanya dalam beberapa tahun saja, anak-anak ini akan dikenalkan dengan dunia kafir – non kafir. Mulailah anak-anak ini dikumpulkan dalam kubunya masing-masing.

Toleransi sesungguhnya adalah berakar dalam masalah-masalah struktural dan politik kita sebagai masyarakat dan sebagai bangsa.

Jika demikian halnya, hilangnya toleransi tidak akan pernah bisa bisa disembuhkan dengan peluk-pelukan anak-anak TK.

Juga, Anda tidak akan bertambah toleran hanya dengan terharu setiap kali melihat pemuka-pemuka agama itu saling bersalaman dan kemudian saling menikam di belakang karena mereka pun berebut penganut.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.