OUR NETWORK
Minggu, Februari 5, 2023

Buku Orisinal dan Kebimbangan Mahasiswa

Akbar Mawlana
Mahasiswa Sosiologi dan founder Arena Sosial.
From Korea With Love Concert

Mahasiswa sebagai insan intelektual tidak bisa menjauh dari keberadaan buku. Persoalan mahasiswa dan buku saat ini bukan hanya tentang minimnya literasi. Justru persoalan lainnya juga hadir tatkala kebimbangan mahasiswa untuk mendapatkan buku bacaan orisinal.

Para mahasiswa memang sudah tidak asing lagi, seruan dari para penulis untuk tidak membeli buku bajakan. Karena selain merugikan industri perbukuan, juga akan merugikan nilai materi dari penulis. Tak ayal jika di berbagai media sosial, banyak penulis sering mengajak masyarakat untuk membeli buku orisinal.

Sebenarnya, mahasiswa juga memiliki keinginan untuk membeli buku orisinal. Saya sendiri melihat perjuangan teman dengan semangatnya menabung agar bisa membeli buku orisinal yang diinginkan. Mereka rela untuk menyisihkan uang jajannya, agar bisa membeli buku orisinal. Begitu juga dengan saya yang rela menunda membeli buku orisinal dengan harganya yang mahal, daripada harus membeli buku bajakan.

Para mahasiswa menyadari bahwa buku orisinal lebih memiliki kualitas buku yang lebih nyaman, enak, dan mantap. Para mahasiswa juga sadar bahwa membeli buku bajakan, sama saja akan merusak dunia kepenulisan dan penerbitan buku.

Namun, di satu sisi mahasiswa juga merasakan sebuah kebimbangan jika harus terus membeli buku orisinal. Kebimbangan hadir ketika di setiap mata kuliah dengan keberadaan tugasnya, akan menuntut mahasiswa membaca banyak buku agar bisa menyelesaikan tugas dengan baik.

Misalnya saja, saya dalam mengerjakan tugas mata kuliah Teori Sosiologi saja, saya harus membeli empat buku agar bisa memiliki banyak referensi untuk mendalami sebuah teori. Belum lagi dengan tugas dari mata kuliah lainnya.

Permasalahan untuk membeli buku orisinal hadir dari sumber keuangan dari setiap mahasiswa. Bukan rahasia umum lagi, jika keuangan mahasiswa tidak pernah stabil dan cenderung memiliki banyak beban pengeluaran daripada pemasukan. Kecuali bagi mahasiswa dari kelas atas, uang tidak akan menjadi persoalan. Berbeda dengan mahasiswa dari kelas menengah dan kelas bawah, mereka memiliki keterbatasan perihal keuangan.

Mau tidak mau, terkadang mahasiswa memilih untuk membeli buku bajakan. Menurut pandangan saya, mahasiswa membeli buku bajakan, bukan ingin merugikan penulis dan industri buku. Alasannya adalah kebutuhan buku untuk menunjang kuliah tidak seimbang dengan kondisi keuangan. Sekalipun mahasiswa menabung, tetapi masih ada kebutuhan lainnya yang juga membutuhkan uang.

Selain membeli buku bajakan, mahasiswa juga mencari jalan keluar dengan mengunduh buku digital secara ilegal. Bahkan, penggunaan buku digital ilegal, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi di dunia kampus. Setiap kali saya bertanya ke teman mahasiswa, “Apakah kamu menggunakan buku digital ilegal?” Semuanya menjawab bahwa menggunakan buku digital ilegal.

Bahkan sering kali dosen juga memberikan buku digital ilegal dengan menunjukkan situs webnya. Jika memikirkan ulang, sikap dosen dengan mengajak mahasiswanya untuk menggunakan buku digital ilegal, membuat mahasiswa mengalami kebimbangan. Karena dosen sebagai mahaguru, justru juga mengajarkan mahasiswanya untuk menggunakan buku bajakan.

Lantas, kenapa mahasiswa tidak menggunakan fasilitas perpustakaan kampus atau meminjam buku kepada teman, daripada harus menggunakan buku bajakan?

Alasan mahasiswa enggan menggunakan fasilitas perpustakaan kampus, karena perpustakaan justru menjadi tempat tidak menyenangkan bagi mahasiswa. Saya pernah ingin menggunakan fasilitas perpustakaan kampus untuk membaca buku. Namun, saya mengurungkan niat, lantaran untuk masuk perpustakaan kampus saja, aturannya buat kesal. Mahasiswa tidak boleh membawa tas dan minum ke dalam.

Serupa dengan teman saya yang bercerita bahwa dirinya mengalami teguran oleh satpam akibat tidak menggunakan baju berkerah. Ternyata untuk masuk ke perpustakaan kampusnya, harus menggunakan baju berkerah. Saya menilai bahwa sebenarnya tidak ada korelasi antara membaca buku di perpustakaan dengan menggunakan baju berkerah, tidak boleh membawa tas dan membawa minuman. Karena membaca adalah aktivitas untuk menambah pengetahuan akal.

Dan alasan mengapa mahasiswa tidak meminjam buku ke temannya? Tidak semudah itu untuk meminjam buku ke teman. Saat ini tidak banyak mahasiswa yang gemar untuk membaca buku. Hanya segelintir mahasiswa masih memiliki kesadaran pentingnya membaca buku.

Lalu tidak semua mahasiswa yang gemar membaca, memiliki buku yang dicari. Kemudian, jika ada buku yang sesuai, ketika ingin meminjamnya, justru ada mahasiswa yang pelit untuk meminjamkannya.

Sebenarnya, tidak jarang juga mahasiswa mencoba untuk membeli buku orisinal bekasnya. Secara harga memang lebih murah, tetapi kualitas bukunya terkadang membuat mata menjadi tidak nyaman untuk membaca. Terkadang tinta tulisannya sudah mulai kabur, kertasnya menjadi kekuningan, dan lembar kertasnya juga terkadang mudah lepas.

Dengan begitu, membuat mahasiswa lebih memilih untuk membeli buku bajakan. Secara harga tidak jauh berbeda dan kualitas buku masih lebih bagus.

Memang sungguh dilema bagi mahasiswa yang haus akan buku bacaan, tetapi tidak selaras dengan stabilitas keuangan. Makanya, mahasiswa lainnya yang malas membaca, mari meningkatkan aktivitas membaca buku, dan membeli buku orisinal. Setidaknya, sikap kalian untuk meningkatkan bacaan buku, bisi membantu memberantas jual-beli buku bajakan.

Kok bisa? Ya, kalau mahasiswa lagi krisis uang dan sedang butuh bacaan buku, bisa saling meminjamkan buku nantinya.

 

Akbar Mawlana
Mahasiswa Sosiologi dan founder Arena Sosial.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.