Senin, Mei 17, 2021

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Quraish Shihab dan Islam Garis Lucu

Islam  secara konseptual adalah agama yang tunggal. Namun, dalam realitas, ia sangat beragam. Amin Abdullah menyebutnya dengan Islam normatif dan Islam historis. Normativitas agama...

KPK dan DPR, Sinetron Kejar Tayang

Lagi, rakyat Indonesia dipaksa menonton sinetron dramaturgi politik yang tak lulus sensor. Sinetron yang barangkali bisa diberi judul "Cinta dan Benci DPR-KPK". Bukan Cicak...

Kekerasan Seksual Anak dan “Homoseksualitas” Islam

Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019 ini terasa paradoks. Jeritan puluhan anak korban kekerasan seksual tenggelam di tengah gegap gempitanya perayaan dan seremonial. Setidaknya...

Adakah Hak Asasi Manusia untuk Pelaku Teror?

Menyatakan bahwa satu sistem pemerintahan lebih baik daripada yang lain itu pendapat, bukan kejahatan. Tapi Mengajak orang untuk melakukan tindakan pembunuhan atas nama Tuhan...
Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial

Inilah politik. Semua serba cair. Ada wajah politik yang tampil di permukaan, ada juga yang ada di belakang panggung. Mungkin di antara keduanya bisa saja berbeda lakonnya.

Catatan yang penting buat kita, jangan gunakan kacamata hitam-putih untuk menilai semua fenomena politik. Jangan terlalu naif, kalau enggak mau stres berkepanjangan. Cukuplah kita menikmati manuver-manuver seperti ini dengan kepala dingin. Jangan pol-polan.

Maka, kemarin kita saksikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan orang dekatnya menerima Prabowo Subianto di rumahnya. Prabowo datang bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai Ketua Umum Partai Gerindra. Ia didampingi Ahmad Muzani, sekretaris jenderal Gerindra.

Simbol diterimanya Prabowo di kediaman Megawati, Menteng, menandakan bahwa kehadiran Gerindra disambut dengan tangan terbuka oleh PDI Perjuangan. Ada peluang Gerindra akan ikut masuk ke koalisi Jokowi-Ma’ruf.

Tentu saja pertemuan itu membuat gerah parpol koalisi Jokowi. Dua hari ketua-ketua parpol saling bertemu. Ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), NasDem, Golkar, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Simbol apa yang kita bisa baca dari pertemuan ketua parpol tersebut? Mereka khawatir kehadiran Gerindra akan mengurangi jatah mereka.

Gubernur Anies Baswedan dan Ketua Umum NasDem Surya Paloh.

Bukan hanya itu. Respons keras juga datang dari Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem. Kemarin Paloh menerima Gubernur Jakarta Anies Baswedan di kantor NasDem. Bersamaan dengan pertemuan Megawati dan Prabowo. Bahkan Paloh dan Anies sempat membahas soal Pemilu 2024 segala dan NasDem siap mencalonkan Anies pada Pilpres 2024.

Bagi yang terbiasa memakai kacamata hitam-putih pasti gagap melihat suasana seperti ini. Nasdem adalah partai pertama yang mendukung Basuki Tjahaja Purna alias Ahok untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Jadi, pertemuan ketua umumnya dengan Anies Baswedan kemarin siang mengisyaratkan bahwa mereka bisa berbeda dengan PDI Perjuangan dalam memilih jalan politik.

Tapi, mari kita baca pertemuan-pertemuan itu sebagai bahasa simbolis untuk saling meningkatkan daya tawar dari masing-masing kekuatan politik. Komposisi pos-pos penting di eksekutif maupun legislatif pada 2019 ini diperkirakan akan menentukan arah permainan pada 2024.

Saya melihat ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Permainan-permainan ini tidak menunjukan makna banyak, selain mencari kesepatan-kesepatan baru untuk pos-pos baru baik di legislatif maupun eksekutif.

Yang menjadi perhatian saya adalah partai apa yang akan berposisi sebagai oposisi? KIta tahu, di antara semua partai hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sudah mantap menjadi oposisi. Sedangkan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat sudah merengek-rengek minta masuk ke koalisi Jokowi.

Apa dampaknya? Jika PKS dibiarkan bermain sendirian sebagai oposisi, mereka akan mendapat berkah elektoral besar pada Pemilu 2024 nanti. Sebagai partai yang sering menggunakan politik identitas, sepertinya PKS punya peluang mengumpulkan banyak dukungan dari pendukung Prabowo yang kecewa.

Sudah menjadi rahasia umum Pemilihan Presiden 2019 lalu dikotori dengan geliat politisasi agama. Sebagai partai berbasis agama, kalau PKS menjadi oposisi akan berdampak makin menguatkan polarisasi isu agama di masa datang. Bayangkan kalau PKS cuma sendiri menjadi oposisi, apa enggak makin menguatkan isu tersebut?

Saya berharap jika saja Gerindra diajak masuk ke koalisi Jokowi-Ma’ruf, tetap harus disisakan parpol lain untuk menempati posisi oposisi. Jangan biarkan PKS sendiri. Biarkan PAN, Demokrat, dan PKS berada di luar pagar. Jikapun pembicaraan bagi-bagi kursi dilakukan, saya berharap pos untuk Gerindra bukan di kabinet, tetapi cukup di legislatif. Posisi ketua MPR dan wakil ketua DPR sepertinya cukup.

Baca juga

Nasib Oposisi Pasca Jokowi-Prabowo Cipika-Cipiki

Menakar Kekuatan Oposisi Pasca Pemilu 2019

Pak Jokowi, Ini Lho Untung-Rugi Rekonsiliasi

Eko Kuntadhi
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.