Jumat, April 23, 2021

Yang Jarang Diulas Tentang Buya Syafii

DEEPWATER: Komitmen Dangkal dan Kisah Horor di Teluk Meksiko

Ketika mengetahui bahwa kisah bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko sedang difilmkan pada akhir 2014, saya harap-harap cemas menunggu hasilnya. Deepwater Horizon, begitu judul...

27 Steps of May, The Intense Reality Behind Mundane Life of Sexual Assault Victim

It is rare for Indonesian films to make an emotionally intense charged story balanced with delicate pacing. Directed by Ravi Bharwani, the characters have...

Membatasi Dana Kampanye Pilkada

Ketua KPU Husni Kamil Manik (kiri), Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie (kanan), dan Ketua Bawaslu Muhammad (tengah) membahas evaluasi penyelenggaraan Pilkada Serentak 2015 dengan Komisi...

Libido Menggusur

Penggusuran di kawasan-kawasan yang diklaim "ilegal" tak bisa dilihat sebagai kasus-kasus tunggal. Apalagi dengan membawa alasan-alasan yang terdengar masuk akal: normalisasi kali, melindungi warga...
Avatar
M Husnaini
Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM)

Tanggal 31 Mei 1935 adalah kelahiran Buya Syafii, sehingga tahun ini genap berusia 85 tahun. Indonesia, terlebih Persyarikatan Muhammadiyah, beruntung memiliki tokoh bernama lengkap Ahmad Syafii Maarif ini.

Banyak kalangan menyebut Ketua Umum PP Muhammadiyah pada 1998-2005 ini sebagai Guru Bangsa. Serambi Ilmu Semesta pernah menerbitkan buku berisi kompilasi tulisan dari beragam akademisi, intelektual, dan aktivis lintas agama mengenai biografi intelektual Buya Syafii, dan memberinya judul “Muazin Bangsa dari Makkah Darat” (2015).

Judul buku tersebut berasal dari tulisan Alois A Nugroho, Guru Besar Etika Komunikasi Politik Universitas Katolik Atmajaya, yang menyebut Buya Syafii sebagai muazin moralitas bangsa. Laksana muazin, Buya Syafii dipandang konsisten menyerukan nilai-nilai kebajikan. Makkah Darat adalah julukan historis tanah kelahiran Buya Syafii, Sumpur Kudus, Minangkabau.

Sebagai anak kemarin sore dan bukan siapa-siapa, saya hanya dapat menyimak pemikiran Buya Syafii melalui buku-buku dan tulisan-tulisan beliau di media massa. Namun, lama terpendam keinginan di hati saya untuk dapat sowan kepada Buya Syafii, meskipun belum tahu kapan dan di mana.

Akhirnya, ketika sedang mencari literatur untuk disertasi ke Yogyakarta, saya berhasil berjumpa secara fisik dengan Buya Syafii atas jasa Mas Erik Tauvani. Momentum 10 Januari 2020 di Masjid Nogotirto itu sungguh berkesan. Banyak ilmu dan hikmah saya dapatkan dari perjumpaan dengan Buya Syafii selama sekitar satu jam tersebut.

Konon, Buya Syafii selalu jemaah magrib di masjid itu dan baru pulang setelah isya. Kecuali Buya Syafii sedang keluar kota. Karena itu, masjid yang terletak di Perumahan Nogotirto, Gamping, itu tidak asing dengan tokoh-tokoh penting nasional yang datang untuk berjumpa dengan Buya Syafii.

Ketokohan Buya Syafii di bidang ilmu dan pemikiran memang harus diteladani, terutama bagi generasi muda. Namun, yang tidak kalah penting adalah spiritualitas beliau. Buya Syafii adalah pribadi yang istikamah dalam ibadah. Sangat mengutamakan salat jemaah, kecuali dalam kondisi tidak memungkinkan.

Beberapa orang yang sering salah paham terhadap pemikiran Buya Syafii dan menuduh dengan stigma-stigma negatif, jangan-jangan tidak lebih istikamah. Buya Syafii memiliki kepedulian tinggi terhadap masjid dan perawatannya. Pembangunan Masjid Nogotirto hingga sampai seperti sekarang konon tidak lepas dari peran Buya Syafii. Sampai hari ini, Buya Syafii masih perhatian terhadap kelestarian masjid itu, terutama bidang kebersihan dan fasilitas.

Sebagai tokoh papan atas, Buya Syafii tidak hanya muluk dalam teori. Beliau seorang abid yang taat. Panduan beliau berpikir bukan cuma buku-buku, melainkan juga Al-Qur’an. Sepanjang menyimak pemikiran Buya Syafii melalui buku-buku dan tulisan-tulisan di media massa, beliau tidak pernah lepas dari tuntunan Kitab Suci.

Buya Syafii bilang, Al-Qur’an bukan hanya turun untuk orang Arab. Pesan-pesan universalitas Al-Qur’an merupakan teks terbuka yang absah dikaji siapa saja dan selalu menampilkan cahaya dari sisi mana saja dipandang. Hanya, Buya Syafii menyesalkan, Islam yang ada di otak kita sekarang ini bukan Islam Al-Qur’an. Kalau Islam Al-Qur’an, pasti dapat menyelesaikan masalah.

Buya Syafii tidak hanya indah dalam tulisan dan ucapan, namun beliau membuktikannya dalam perbuatan. Dalam ibadah salat, misalnya, Buya Syafii melakukan sambil berdiri. Saya tanya, “Masih kuat, Buya?” Beliau menjawab, “Ya, kalau dirasakan tentu ada saja halangan, tetapi sudahlah. Kita lakukan ini sebagai wujud syukur diberi umur panjang.”

Jawaban itu sekaligus menjotos kesadaran saya bahwa yang masih muda dan sehat harus lebih kuat ibadah. Banyak kalangan intelektual fasih berteori tentang Islam, tetapi begitu masuk ke urusan praktik ibadah, kadang salat subuh saja kesiangan. Boro-boro jemaah ke masjid.

Kepada Buya Syafii, kita jangan hanya belajar sisi intelektualitas semata, namun teladani pula kepatuhan beliau dalam ibadah formal. Terlebih, bagaimana keterampilan beliau menerjemahkan praktik-praktik ibadah itu menjadi akhlak keseharian. Buya Syafii, menurut penuturan beberapa tetangga dan orang dekat beliau, adalah pribadi dengan kepribadian yang luhur.

Bukti akhlak adalah testimoni orang-orang dekat. Buya Syafii sangat egaliter dan tidak merasa menjadi yang paling. Saya menduga, yang sering mencibir atau menghina Buya Syafii itu pasti mereka yang tidak benar-benar mengenal beliau secara dekat atau mendalami pemikiran beliau secara proporsional.

Dalam usia seperti sekarang, tidak pernah Buya Syafii merepotkan orang lain. Pergi ke mana-mana tanpa pengawal atau asisten. Cukup, kata beliau, ditemani oleh Allah dan tongkat. Dengan kata lain, semua aktivitas dikerjakan secara mandiri.

Dalam usia yang mungkin banyak orang sudah pikun dan menjadi beban keluarga, Buya Syafii masih produktif. Beliau tetap aktif membaca, berpikir, dan menulis. Hebatnya lagi, Buya Syafii menulis pakai komputer dan mengirimkannya lewat email ke media massa juga sendiri, tanpa bantuan orang.

Selain Buya Syafii, ada pula beberapa tokoh senior Muhammadiyah yang masih produktif di usia senja, antara lain Amien Rais, Rosyad Sholeh, Muchlas Abror, dan Mohammad Damami. Kalau diperhatikan, mereka adalah sosok-sosok dengan spritualitas tinggi sekaligus aktif membaca, berpikir, dan menulis.

Jika demikian, jangan-jangan benar yang sering dikatakan Buya Syafii bahwa resep mujarab anti pikun adalah membaca, berpikir, dan menulis. Yang jelas, aplikasi syukur dengan cara khusyuk ibadah, sebagaimana dibilang Buya Syafii tadi, dapat menjadikan hidup ini lebih berkah dan bermakna.

Semoga kita yang muda-muda ini mampu meneladani Buya Syafii dan mereka yang hingga usia asar masih tetap produktif dan memberikan manfaat secara luas untuk agama dan umat.

Avatar
M Husnaini
Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.