OUR NETWORK
Minggu, Oktober 2, 2022

The Tale of Genji: Kisah Amora Era Heian Awal

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

The Tale of Genji (diperkirakan ditulis pada tahun 1004) terdiri dari dua bagian. Genji—tokoh utama (protagonis) pada Bagian Pertama yang terdiri dari 41 bab dan 734 halaman. Ia adalah suami dari ibu Kaoru, sosok protagonis pada Bagian Kedua, kakek Niou, dan teman Kaoru. Genji adalah kisah mengenai kehidupan utuh seseorang tentang kesalahan, kebaikan, pengalaman dan pelajaran hidup yang diperolehnya selama lebih empat puluh delapan tahun. Kisah Kaoru berawal ketika ia masih belia yang melewati hubungan penuh liku dengan seseorang selama delapan tahun. Hubungan ini tidak berakhir dengan yang diharapkan.

Murasaki Shikubu, sang pengarang yang berasal dari kota Heian di Jepang pada abad kesebelas, juga menulis diari. Saking populernya novel itu, diari boleh jadi dianggap sebagai karya penipuan. Tidak banyak informasi yang tersedia tentang Shikubu kecuali apa yang bisa disimpulkan dari teks novelnya. Diduga ia hanya menulis sejumlah bab dari novelnya dan ia pernah bekerja di istana kaisar pada awal abad kesebelas.

Struktur novel ini cukup sederhana namun menginspirasi. Di awal novel, Genji dan teman-temannya, yang semuanya laki-laki muda bangsawan, sambal duduk membandingkan catatan tentang wanita.  Mereka membicarakan wanita-wanita yang mereka kenal dan dengar, mencoba memutuskan keuntungan memiliki wanita yang sangat cantik, wanita yang pandai berbicara bahkan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Apakah semua hubungan dengan wanita ditakdirkan untuk gagal? Apakah hubungan dengan banyak wanita harus berakhir membosankan? Para pemuda itu akhirnya menghentikan diskusi, tetapi Genji, yang dipenuhi pikiran asmara, berupaya untuk menguji hipotesis mereka. Tokoh penting kedua dalam novel ini, yang kerap kali berseberangan tapi tetap menyatu dengan Genji, adalah To no Chujo.

Pembaca modern memahami sejak awal bahwa tatanan sosial di masyarakat Jepang abad kesepuluh sangat jauh berbeda dengan sekarang. Para wanita yang lahir dengan baik hidup dalam pengasingan, dikelilingi oleh wanita lain dan dijauhkan dari semua hubungan dengan laki-laki lain kecuali suami. Seorang suami biasanya memiliki lebih dari satu istri, masing-masing memiliki kamar terpisah di istananya. Mereka memiliki anak-anak yang sah. Tapi status anak-anak di satu sisi bergantung pada keluarga ibu mereka dan di sisi lain pada ketampanan dan prestasi mereka. The Tale of Genji adalah tentang persaingan dan intrik domestik. Apa pun yang mungkin terjadi secara politik dan militer di Jepang abad kesepuluh sama sekali tidak ada dalam novel, meskipun tokoh laki-laki sering memiliki gelar seperti “menteri” atau “jenderal.” Novel ini lebih menyibakkan deskripsi pakaian, interior rumah, taman, dan ritual-ritual setiap musim. Tokoh-tokoh dalam novel ini berkomunikasi sering kali dengan surat dan puisi, yang direproduksi dalam teks dan memiliki bentuk dan simbol tradisional.

Genji (disebut “Genji yang bersinar” ketika dia meninggal) adalah putra seorang kaisar yang sangat tampan dan ibu dari latar belakang yang sederhana.  Ia unggul dalam segala hal, tetapi keunggulannya tidak mencakup apa yang menurut standar Barat sebagai kejujuran moral (moral probity). Ia sering bersalah atas pemerkosaan dan rayuan. Hubungannya yang paling mendalam adalah dengan Murasaki. Ia membawanya ke rumahnya ketika masih berusia sepuluh tahun dan berjanji untuk menjadi ayah baginya. Ia kemudian merayu dan memperkosanya, lalu menjadikannya sebagai istri favoritnya. Ketika Murasaki meninggal menjelang bagian akhir dari bagian pertama novel ini, Genji menjadi putus asa dan meninggal segera setelah istrinya wafat. Mereka tidak memiliki anak, tetapi Murasaki membesarkan beberapa orang anak dari wanita lain.

The Tale of Genji bergerak seperti mimpi dengan kecepatan yang disengaja diatur seperti gulungan panjang yang menggambarkan sebuah perjalanan. Pengarang sangat mahir dalam membangun dialog dan menyajikan cara kerja batin para tokoh utama. Novel ini adalah karya eksotik yang tak terlukiskan dilihat dari apa yang dilakukan tokoh-tokohnya dan dunia tempat mereka tinggal. Tapi hubungan yang terjalin tampak akrab lewat kecemburuan, frustrasi, keinginan, gosip, kecemasan, persaingan, keintiman, dan juga persahabatan yang baik. Tak ada hal-hal primitif tentang The Tale of Genji. Kalaupun ada—lukisan kemewahan dan kenyamanan, kompleksitas keseharian dengan segenap urusan, konflik bahkan tanggung jawab yang ada—nyaris tampak modern.

Bagian kedua novel, yaitu kisah Kaoru, secara struktural lebih canggih dan penuh dengan hal-hal dramatis yang Kaoru sendiri tidak mampu memahaminya. Lahir dari keluarga yang tidak bahagia, Kaoru adalah seorang pria muda yang punya kesadaran tinggi dan tidak suka mabuk. Ia amat tampan, seperti Genji, tapi pembawaannya lebih serius. Sifat Kaoru yang paling menarik adalah parfum alaminya, yang berulang kali dibandingkan dengan jenis parfum yang paling indah dan langka. Tatkala mencari pencerahan, Kaoru mendengar tentang seorang pangeran tua yang memutuskan meninggalkan pesona dunia dan menjadi seorang bijak-bestari di sebuah vila di desa pegunungan kecil. Si pangeran tua ini memiliki dua anak perempuan, dan Kaoru setuju untuk melindungi mereka. Ia jatuh cinta dengan sang putri sulung, dan menceritakan perselingkuhan putri bungsu dengan temannya Niou, yang sudah menikah dengan putri tertua kaisar. Kekasih Kaoru tidak bisa memberikan cinta kepada suaminya sebab ia meninggal tak lama setelah ayahnya berpulang.

Putri kedua menikahi Niou, tetapi Niou memperlakukan istrinya dengan buruk, dan Kaoru jatuh cinta padanya. Adapun putri ketiga adalah anak pangeran tua dan mantan pelayan wanita. Ia sangat mirip dengan putri pertama sehingga Kaoru jatuh hati padanya. Tapi Niou mengetahui bahwa rahasia indah ini disembunyikan darinya. Niou memaksakan agar sang putri mencintainya. Lalu Kaoru menyembunyikannya, tapi Niou berhasil menemukan dan memperkosanya. Putri ini jatuh cinta padanya. Ia melompat ke sungai begitu menyadari bahwa ia akan menghadapi dilema yang tak terpecahkan.

Plotnya berliku-liku dan salah satu ciri cerita Kaoru yang merupakan pengembangan dari cerita Genji adalah latar sosial—pelayan wanita dan tokoh-tokoh sampingan menghambat tujuan yang hendak dicapai oleh protagonis. Juga ditemukan komentar panjang lebar dengan cara-cara yang unik. Kisah Kaoru, sekitar tiga ratus halaman, memang memiliki struktur yang sangat canggih, seolah-olah pengarangnya yang pertama kali menemukan novel abad ke-18 yang indah (seperti Tom Jones), dan novel sosial (seperti Pride and Prejudice) beberapa tahun kemudian. Satu hal yang berubah adalah keseimbangan aksi dan dialog relatif terhadap deskripsi dan narasi. Kemajuan Genji yang luar biasa memberi jalan bagi siksaan dramatis Kaoru; deskripsi tentang alam dan ritual memberi jalan pada serangkaian aksi yang hampir tidak bisa diatur oleh narasi tersebut.

The Tale of Genji memperlihatkan bahwa analisis psikologis merupakan salah satu ciri khas utama narasi prosa yang panjang bagi protaginis; seorang tokoh bertindak dan narator menawarkan teori kenapa si tokoh berbuat demikian. Tokoh-tokoh dalam The Tale of Genji terkadang mengalami sakit mental dan fisik. Ceritanya merinci cara para biarawan dan tabib datang dan melakukan pengusiran setan dan roh-roh jahat yang merasuki dan meninggalkan mereka. Peristiwa-peristiwa ini dilaporkan begitu nyata sehingga tampak sangat masuk akal, seperti teori-teori medis yang dikemukakan Balzac pada abad kesembilan belas. Bentuk novel itu mengontraskan individu-individu yang unik dengan lingkungan sosialnya yang menuntut pemahaman teori psikologis. Konvensi epik, romansa, dan sejarah yang mendasarkan penokohan pada tipe-tipe tradisional tidak cukup rumit untuk memunculkan ide-ide yang sama.

Dunia Buddhis abad kesepuluh Jepang menjadi bagian depan penceritaan. Biksu dan biarawati menjadi tokoh-tokoh penting (ibu Kaoru menjadi biarawati pada usia yang sangat muda, setelah Kashiwagi, ayah kandung Kaoru, memperkosa dan menghamilinya). Permohonan dan tanggapan puitis selalu mengacu pada gambaran tradisional tentang sifat cinta dan kehidupan yang sekilas, yang juga biasa dalam percakapan para tokoh satu sama lain. Sepanjang rentang lima puluh hingga enam puluh tahun yang dicakup oleh novel ini, sifat dunia yang fana dan ilusi muncul lagi dan lagi—anak-anak dikatakan terlalu cantik untuk dunia ini, kematian tiba-tiba menyerang, bunga-bunga berjatuhan, dan musim berlalu. Ratusan halaman memang tampak panjang tetapi sebenarnya singkat. Butuh waktu seminggu untuk membaca kisah enam puluh tahun. Hidup memang pendek, tapi novel sebetulnya jauh lebih pendek. Bahkan hari ini kisah Genji sudah berlalu seribu tahun yang dibuat di atas kertas. Lalu masih relevankah isu panjang atau pendek sebuah fiksi?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.