Jumat, April 19, 2024

The House of The Seven Gables: Hari Ini sebagai Tautan Masa Lalu

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

The House of the Seven Gables adalah novel yang ditulis oleh sastrawan Amerika Serikat, Nathaniel Hawthorne, pertama kali diterbitkan pada tahun 1851. Novel ini berlatar belakang sebuah rumah tua yang suram di Salem, Massachusetts, dan menceritakan beberapa generasi keluarga Pyncheon, dengan fokus khusus pada karakter Hepzibah Pyncheon.

Rumah itu sendiri merupakan simbol utama dalam novel. Digambarkan sebagai tempat yang gelap, suram, dan dihantui oleh dosa masa lalu. Tujuh Gables merujuk pada ciri khas arsitektur yang tidak biasa dari rumah tersebut, yang memiliki tujuh puncak di atapnya.

Cerita dimulai dengan Hepzibah Pyncheon, seorang perawan tua miskin yang tinggal di rumah tua yang bobrok. Dia mencoba memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuka toko kecil di dalam rumah, tetapi dia berjuang secara finansial dan sosial. Hepzibah adalah karakter simpatik yang mewakili kemunduran keluarga Pyncheon.

Kedatangan kerabat jauh, Phoebe Pyncheon, membawa sedikit harapan dan semangat ke dalam rumah. Energi muda Phoebe kontras dengan kegelapan rumah dan penghuninya. Dia menjalin ikatan dengan Hepzibah dan membantu mencerahkan suasana rumah.

Sepanjang novel, Hawthorne mengeksplorasi banyak tema, salah satunya adalah dampak masa lalu terhadap masa kini yang luas dan mendalam, membentuk kehidupan dan nasib para karakter secara signifikan.

Keluarga Pyncheon dibebani oleh kutukan yang berasal dari tindakan leluhur mereka, Kolonel Pyncheon, yang secara salah menuduh dan mengeksekusi pemilik asli tanah tempat rumah itu berdiri. Kutukan ini diyakini telah menghantui keluarga selama beberapa generasi, membawa kesialan dan tragedi bagi anggotanya. Beban kutukan ini memengaruhi kepercayaan dan perilaku para karakter, membentuk pandangan mereka tentang kehidupan dan interaksi mereka satu sama lain.

Para karakter dalam novel ini sering menunjukkan sifat dan perilaku yang diwarisi dari leluhur mereka, melanggengkan pola yang terbentuk di masa lalu. Misalnya, keserakahan dan ambisi Kolonel Pyncheon tercermin pada generasi keluarga berikutnya, memengaruhi tindakan dan hubungan mereka. Ide tentang karakteristik yang diwariskan ini menunjukkan kesinambungan antara masa lalu dan masa kini, menekankan pengaruh warisan keluarga yang bertahan lama terhadap identitas dan perilaku individu.

Hepzibah dan Clifford Pyncheon dalam adalah karakter yang terdampak mendalam oleh beban sejarah keluarga mereka, meskipun tidak secara langsung mengalami peristiwa yang menyebabkannya.

Sebagai keturunan keluarga Pyncheon, Hepzibah menanggung beban sejarah keluarganya, termasuk kutukan yang diyakini dan stigma yang terkait dengan tindakan leluhurnya. Dia merasa bertanggung jawab atas kemunduran kekayaan keluarga dan kesuraman yang menyelimuti rumah. Meskipun tidak pernah secara langsung mengalami peristiwa yang menyebabkan kejatuhan keluarga, Hepzibah menginternalisasi rasa bersalah dan malu yang terkait dengan masa lalu keluarganya. Beban ini berkontribusi pada perasaan terisolasi dan kepahitannya, karena dia merasa terjebak oleh warisan leluhurnya dan berjuang untuk melepaskan diri dari siklus penderitaan.

Demikian pula, Clifford Pyncheon sangat terpengaruh oleh sejarah keluarga, meskipun bertahun-tahun diasingkan dari rumah. Penjaraannya yang salah atas kejahatan yang tidak dia lakukan semakin memperburuk rasa ketidakadilan dan viktimisasinya. Kepahitan dan kekecewaan Clifford berasal dari kesadarannya akan ketidakadilan yang dilakukan oleh leluhurnya dan dampaknya terhadap hidupnya sendiri. Kembalinya dia ke rumah hanya memperkuat perasaan terisolasi dan keterasingannya, saat dia bergulat dengan beban sejarah keluarganya dan hilangnya potensinya sendiri.

Baik Hepzibah maupun Clifford adalah sosok yang terisolasi, terasing dari masyarakat dan dihantui oleh masa lalu. Kepahitan dan perasaan terasing mereka terjalin erat dengan warisan sejarah keluarga mereka, yang membayangi kehidupan mereka. Meskipun berusaha menjauhkan diri dari masa lalu, mereka pada akhirnya tidak bisa lepas dari pengaruhnya, menyoroti kekuatan warisan leluhur yang tak lekang dan dampak mendalam yang dapat ditimbulkan pada identitas dan nasib individu.

Novel ini berlatar belakang peristiwa sejarah seperti pengadilan penyihir Salem, yang membayangi ingatan kolektif para karakter dan komunitas. Warisan peristiwa ini, dengan tema ketidakadilan dan penganiayaan, membayangi masa kini, membentuk sikap dan persepsi tentang moralitas dan ketertiban sosial.

Trauma psikologis yang diakibatkan oleh pengadilan penyihir terlihat jelas dalam sikap dan perilaku para karakter. Ketakutan dan paranoia yang melanda Salem selama pengadilan bergema lintas generasi, memengaruhi persepsi para karakter tentang moralitas, rasa bersalah, dan penebusan. Warisan pengadilan penyihir ini berkontribusi pada perasaan terisolasi dan keterasingan para karakter, saat mereka bergulat dengan momok ketidakadilan masa lalu dan efek trauma sejarah yang masih tersisa.

Pengadilan penyihir Salem menjadi simbol ketidakadilan dan penganiayaan, tema yang bergema sepanjang novel. Tuduhan dan eksekusi yang salah terhadap orang-orang tak bersalah mencerminkan tema yang lebih luas tentang penindasan, kemunafikan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Warisan pengadilan penyihir ini membayangi ingatan kolektif para karakter dan masyarakat, berfungsi sebagai kisah peringatan tentang bahaya intoleransi dan prasangka.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.