OUR NETWORK
Jumat, Januari 21, 2022

Tatap Muka, Tatap Corona

Adjat Wiratma
Doktor Manajemen Pendidikan

Mendikbud Ristek telah mengeluarkan panduan sekolah tatap muka untuk PAUD hingga SMA, Nadiem menyebut sudah tidak ada tawar menawar lagi. Walau Pemerintah sendiri masih meragukan soal efektiftas pengawasan Protokol Kesehatan di Sekolah. Jika betul sesuai arahan Pemerintah, maka Juli (bulan depan) di tahun ajaran baru, setiap sekolah diharapkan bisa menggelar tatap muka.

Dari sisi pendidikan, langkah ini dilakukan untuk memulihkan apa yang disebut dengan learning loss, yang terjadi selama ini. Mengingat PJJ walau sudah disubsidi kuota pulsa miliar rupiah tetap gak mampu menjawab masalah. Dari sisi psikologi, tentu belajar tatap muka adalah kabar gembira bagi guru dan murid, kerinduan untuk kembali berjumpa, adanya interaksi kebatinan yang erat karena bertemu akan terjalin dan penyakit mental, stress karena terus di rumah sedikit terobati.

Tapi bagaimana dengan bidang kesehatan ?

Beberapa daerah sendiri menyebut akan mempertimbangkan arahan Mendikbud Ristek itu, Sultan DIY menyebut tatap muka dilakukan jika vaksinasi guru sudah selesai, sementara DKI Jakarta menyatakan, walau sudah membelakukan uji coba dan akan menuju ke tahap dua uji coba, DKI masih akan berdikusi dengan ahli melihat data dan fakta di lapangan.

Jika sebelumnya, alasan Juli dijadikan waktu tepat tatap muka yang digunakan Nadiem adalah target vaksinasi guru, Sayangnya sampai bulan ini target itu molor. Kementerian Kesehatan menyebut ada masalah dalam stok sehingga tenggat waktu tidak sesuai harapan awal.

Klaster covid-19 yang melibatkan guru atau murid kini mulai lagi ditemukan dibeberapa wilayah. Termasuk klaster covid pascalibur dan mudik. Contoh Daerah yang kini sedang dalam ujian adalah Kabupaten Kudus, yang mengalami lonjakan kasus 300 persen dalam beberapa pekan ini, dari hanya 26 orang kini lebih dari 900 orang positif covid-19.

Varian baru covid-19 memang tidak bisa diangggap main, corona bermutasi menjadi cepat menular, dan sangat membahayakan. Tingkat keterisian rumah sakit di Jawa Barat juga mulai terasa dan terus diantisipasi. Khawatir jika tidak dikenalikan akan berbuah petaka. Tidak salah jika ada yang menarankan tatap muka ditunda lagi saja.

Masih ingatkah keputusan Kemendikbud yang ingin masuk sekolah dimulai awal 2021, faktanya karena tidak melihat data, ujung-ujungnya hal itu tidak secara masif terlaksana, karena kasus covid-19 diawal tahun saat itu melonjak. Lalu apakah keinginan Nadiem kali ini akan berjalan ?.

Tsunami covid-19 di India terjadi diantaranya karena tidak disiplinya warga atas prokes, adanya momen kumpul missal, serta rendahnya testing, yang terakhir ini yang dikhawatirkan. Muncul dugaan daerah untuk bisa keluar dari zona merah mereka “kendor” melakukan testingnya, jadi tidak ketahuan banyak yang terpapar, jika ini terjadi maka sangat berbahaya.

Nadiem tidak bisa memaksakan kehendaknya sendir, tapi bukan berarti tatap muka yang diharapkan banyak siswa, guru dan orang tua tidak bisa terlaksana, selama semuanya disiplin dengan prokes maka itu dapat menjadi nyata.

Sebenarnya, tatap muka atau di rumah aja, itu isu lama. Muncul kembali karena hal fundamental dari pembelajaran kita tidak terjadi di lapangan, apa itu ? perubahan cara berpikir dan bertindak insan pendidikan, guru, orang tua, pemerintah dan masyarakat memandang pendidikan selama ini.

Orang tua masih banyak yang menilai, pendidikan itu urusan sekolah. Sekolah dengan praktek pengajaran para gurunya masih minim inovasi, masih monoton dan terjebak pada cara belajar mengajar lama.

Begitu pun dengan Pemerintah, selama setahun pandemic, Pemerintah tidak punya kebijakan berarti untuk menerima kenyataan jika Indonesia ini luas dengan beragam masalah dan butuh solusi yang tidak bisa disama-rata. Pemerintah hanya sibuk dengan program-programnya, dipaksakan walau tidak berjalan maksimal. Kebijakan “bakar uang” tak ayal hanya menjadi pemadam kebakaran itupun tak menjadikan masalah selesai.

Tatap muka tahun ajaran baru ini jelas penuh resiko, yang mengerikan adalah long covid bagi mereka yang pernah terpapar. Kita sangat khawatir anak-anak yang pernah mengalami Covid-19, akan mengalami long covid dimasa dewasanya, mereka adalah generasi Sumber Daya yang akan diandalkan di masa depan Negara. Sehingga kebijakan ini jangan buru-buru dan jangan coba-coba. Sembari menunggu waktu yang tepat maka rumah, semua pihak harus bersabar sembari meningkatkan kualitas tanggung jawab masing-masing pihak terhadap pendidikan.

Adjat Wiratma
Doktor Manajemen Pendidikan
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.