Senin, Mei 17, 2021

Soal Starbucks, Ustadz Abdul Somad Kurang Gaul dan Kurang Piknik

Menakar Tanggung Jawab Moral Elite DPR [Catatan Politik 2016]

Sungguh sangat merisaukan kinerja anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019 ini. Setelah Koalisi Merah Putih sebagai salah satu kekuatan besar di DPR untuk "menghadapi"...

Menteri Susi, Retno Marsudi, dan Krisis Laut Cina Selatan

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi Baru-baru ini, Sabtu 19 Maret 2016, aparat Indonesia menangkap kapal KW Kway Fey 10078 milik Tiongkok....

Jokowi dan Nasib Hutan Tropis Sumatera

Dua pendaki menuruni lereng puncak Gunung Kerinci di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, Jumat (25/12). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan Warisan alam dunia yang terancam. Pemerintah...

Tahniah 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif

Saya mengucapkan tahniah atas 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif. Semoga Buya Syafii di usia tua tetap dapat berkiprah bagi umat/bangsa dan kemanusiaan melalui...

Alkisah, ada orang yang sudah enak di surga, eh, tiba-tiba ditarik dan dipindah ke neraka. Lho kok bisa? Ternyata, usut punya usut, orang tadi semasa hidupnya hobi menyeruput kopi di gerai Starbucks. Lalu terjadi dialog sesama penghuni neraka.

“Kamu kenapa masuk neraka?”

“Aku korupsi lalu membunuh hakim. Kamu kenapa?”

“Aku cuma minum Starbucks.”

Seluruh blok neraka tertawa ngakak. Termasuk petugas yang menyiksa mereka.

Begitulah kisah reka ulang yang diceritakan Ustadz Abdul Somad, yang kini videonya viral kembali. Tak perlu kita bertanya kepada Ustadz Somad, bagaimana ceritanya kok Tuhan dan malaikat tak ada koordinasi sehingga memasukkan orang ke surga lalu dipindah ke neraka. Sesungguhnya Starbucks dan Ustadz Somad adalah dua hal berbeda, tetapi keduanya mempunyai persamaan, yaitu penuh kontroversi.

Perusahaan global ini pada mulanya adalah kedai kecil di Seattle, Washington, yang dibuka 30 Maret 1971 oleh guru bahasa Inggris Jerry Baldwin, guru sejarah Zev Siegl, dan penulis Gordon Bowker. Tadinya akan dinamakan Pequod, nama kapal pemburu paus dalam cerita Moby Dick. Namun, beberapa orang tidak sepakat, dan akhirnya muncul nama Starbucks, yang diambil dari nama salah satu kru kapal dalam novel yang sama, yakni Starbuck. Starbucks menjadi makin besar setelah Howard Schultz bergabung sebagai direktur pemasaran pada 1982.

Kedai demi kedai dibuka di berbagai lokasi di Amerika Serikat dan Kanada. Jumlahnya mencapai seribu lebih. Pada 1996, Starbucks membuka cabang pertamanya di luar Amerika Utara, yaitu di Tokyo, Jepang, sebagai gerai ke 1.015. Perusahaan ini juga mengakuisisi gerai-gerai kopi lokal di berbagai negara dan menyulapnya menjadi Starbucks, sehingga pertumbuhannya kian pesat dan mencapai lebih dari 24.000 gerai di 70 negara pada 2017. Di Indonesia, mereka baru masuk pada 17 Mei 2002 dengan gerai pertama di Plaza Indonesia. Kemudian diikuti pembukaan kedai-kedai selanjutnya di berbagai tempat di Indonesia. Kini ada sekitar 350 di lebih dari sepuluh kota besar.

Nama Starbucks menjadi sorotan ketika mantan CEO Howard Schultz, pada Januari 2017, menyatakan bahwa Starbucks sepenuhnya mendukung pernikahan sesama jenis dan LGBT. Pernyataan Schultz ini menyusul keputusan yang dibuat Tim Cook, CEO Apple Inc., yang secara gamblang memang menyatakan diri sebagai seorang gay alias homoseksual.

Pernyataan Schultz memicu kontroversi di Indonesia hingga munculnya seruan boikot Starbucks. Tak hanya Starbucks, ada ratusan perusahaan global yang mendukung kaum LGBT.

Kontroversi lainnya adalah saat beredar kabar dukungan terhadap Israel yang ditandatangani Howard Schultz. Starbucks menjadi besar dengan lebih dari 90.000 pekerja, 9.700 konter, dan 33 juta pelanggan per minggu. Tiap latte dan macchiato yang diminum di sana memberikan sebuah kontribusi untuk mendekatkan aliansi antara Amerika dan Israel. Mereka mampu mengumpulkan ratusan juta dolar per tahun untuk melindungi warga negara Israel dari serangan teroris dan mengingatkan setiap orang Yahudi di Amerika untuk mempertahankan Israel. Jadi, setiap ngopi di konter Starbucks, setiap cangkir yang diminum, sesungguhnya pelanggan sedang membantu sebuah misi.

Pihak Starbucks lantas membantah. Bahwa perusahaannya merupakan perusahaan publik. Segala bentuk sumbangan korporasi harus dilaporkan secara terbuka tiap tahunnya. Baik sebagai perusahaan maupun individu di dalamnya, Howard Schultz (saat itu), mereka tidak memberi dukungan dana bagi Israel.

Sementara Ustadz Somad, bukan Ustadz Somad jika tak kontroversial. Ia bisa disejajarkan dengan Amien Rais di ranah politik. Sama-sama penuh kontroversi. Dalam setahun terakhir ia makin dikenal publik justru karena pernyataan kontroversialnya. Bukan kedalaman ilmunya yang menyejukkan. Berikut beberapa pernyataan kontroversial Ustadz Somad: Mengharamkan penambahan nama suami di belakang istri; Pernyataan soal Suriah yang tidak sesuai keadaan di lapangan; Melecehkan Rina Nose secara fisik; Menyebar hoax terkait Kiai Ishomuddin; Rasulullah tidak bisa wujudkan rahmatan lil ‘alamin; Menyuap atau menyogok itu halal asal syar’i.

Pernyataan terakhir orang yang ngopi di Starbucks sebagai calon ahli neraka sebenarnya bukan hal baru. Tahun lalu sudah mengemuka saat ramai isu LGBT. Di sini ada dua hal di mana Ustadz Somad bias produk dan kurang piknik. Bias produk karena yang mendukung LGBT tak hanya Starbucks. Beberapa nama besar yang dikenal di Indonesia antara lain: Boeing, Coca-cola, Pepsi, Honda, Toyota, Ford, Chevron, Apple, Android, Xiomi, Facebook (Instagram), Twitter, Google, Microsof, Yahoo, Adobe, Motorola, Adidas, Nike, Oreo, Burger King, Disney, Mc Donalds, Levis, VISA, Mastercard, Pampers, Johnson N Johnson, Marriot International, Asuransi Prudential, dan Xerox Corporation.

Pertanyaan sederhana, jika Ustadz Somad menyatakan minum Starbucks masuk neraka, bagaimana dengan perjalanan ustadz yang menggunakan pesawat Boeing, memakai telpon seluler yang ada android, berselancar di dunia maya dengan Yahoo dan Google serta bermedsos-ria dengan Twitter, Facebook dan Instagram? Belum lagi jika ustadz menggunakan kartu kredit lewat jaringan Visa atau Mastercard. Singkat kata, terlalu banyak produk yang sehari-hari kita pakai tetapi kita berlaku tak adil hanya “menyerang” kepada satu produk.

Yang kedua, mungkin Ustadz Somad kurang piknik atau kurang gaul. Saat ini di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, telah dibuka sekitar 500 gerai Starbucks. Bahkan di kota suci Makkah dan Madinah juga ada Starbucks. Inilah yang oleh Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation dan imam di Islamic Center New York) hipokrasi Arab Saudi. Sementara Irfan Al-Alawi (Direktur Islamic Heritage Research Foundation) yang berbasis di Inggris, mengatakan, “Kota ini berubah menjadi Makkahhattan.” Mengacu pada kota Manhattan di Amerika Serikat.

Pernyataan Ustadz Somad tak perlu dikaji secara ilmiah apakah itu realitas, fiksi atau fiktif. Apalagi menyebut ustadz kondang itu dungu. Yang sudah pasti, kini di Tanah Suci dan di dua kota suci telah ada gerai Starbucks. Apakah mereka yang menyeruput kopi Starbucks di Zamzam Tower Hotel Makkah termasuk ahli neraka juga, Ustadz Somad?

Jangan heran jika ada saudara atau kawan yang umrah atau haji, mereka kini ingin oleh-oleh Starbucks dari Mekah. Konon bahan air untuk kopinya dari air zamzam, namanya Zamzambucks.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.