Selasa, Juli 16, 2024

Kaesang Sayang, Kaesang Malang

Ni Nyoman Ayu Suciartini
Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

Kaesang Pangarep [Foto: Youtube]
Lapor melapor menjadi sebuah aktivitas viral belakangan ini. Mental “baper” dan cenderung tak masuk akal semakin menambah beban kerja polisi. Dari artis, mendadak artis, mau ngartis, semuanya suka lapor melapor. Berkas bertumpuk. Kalau tidak berkas penodaan, penebar kebencian, paling mentok pada kasus pencemaran nama baik. Memang nama baik itu seperti limbah?

 

Kepolisian mungkin geram dan “mager” mendapati kasus lapor melapor yang tak berkesudahan. Sedikit-sedikit main lapor. Padahal polisi kita sedang sibuk menuntaskan bahkan mencegah teror.  Kaum “baper” ini seharusnya memposisikan hatinya untuk lebih “baper” pada kasus sosial dan kemanusiaan, bukan justru mencederai kemanusiaan itu sendiri.

Berkali-kali. Sendiri lalu ajak teman kerabat, kolega, hingga kumpulan kaum “baper” yang saya ajak menonton vlog Kaesang Pengarep yang katanya menabur kebencian itu. Alhasil, tak ada kalimat maupun kata Kaesang yang menyinggung. Apa hati saya dan teman-teman kurang peka, ya?

Saya tonton lagi video ini. Kali ini cukup sendiri saja. Di kamar sendiri, televisi dan hp dimatikan, suasana sepi, lalu saya resapi setiap kalimat. Kata “ndeso” yang sempat disadari penuh oleh Kaesang akhirnya disensor. Kata ini diucapkan berulang oleh Kaesang dengan diiring suara sensor.

Kaesang sayang, Kaesang malang. Makhluk halus yang diklaim memiliki perasaan paling halus pun setuju bahwa tak ada satu kalimat pun yang bernada kebencian. Malah, vlog Kaesang ini mengingatkan bahwa anak-anak bukan sasaran politik. Anak-anak juga bukan media untuk politik kotor melakukan pembenaran.

Vlog Kaesang juga mengingatkan bahwa “membela” dan “sepaham” tidak lantas membuat seseorang menjadi buta dan menghalalkan segala cara. Termasuk, memanfaatkan anak-anak untuk membenci. Silakan tonton lagi vlog Kaesang.

Kaesang pada vlognya yang berjudul Bapak Minta Proyek dinilai memuat ujaran kebencian dan penodaan agama. Kalimat Kaesang “Mengadu-adu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau menyalatkan padahal sesama muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso”, bukankah ini realita? Mengapa mesti tersinggung?

Adakah sikap yang lebih menampakkan kebencian selain sikap-sikap yang dilontarkan Kaesang dalam vlognya? Apa penyebutan “ndeso” membuat seseorang merasa tersinggung, tiba-tiba langsung merasa jadi orang desa? Bukankah banyak pemikir hebat berasal dari desa? Janganlah jumawa. Semuanya pernah hidup dan berasal dari desa, bukan? Sebab itu mudik, pulang ke kampung halaman, masih menjadi pesta besar yang dirayakan, diistimewakan, dan dikenang.

Kaesang sayang, Kaesang malang, mungkinkah penodaan agama yang ditujukan padamu akan menjadi-jadi? Jika saja Kaesang bukan anak Presiden Kokowi, mungkin kasus ini menjadi lain atau bahkan tak jadi perkara. Tebaran “ndeso” itu lumrah sekali. Tak ada yang tersinggung. Mungkin Kaesang dan pelapor kurang dekat, sehingga mudah “baper” bahkan “baper” berlebihan. Bukankah yang berlebihan itu tidak baik, cenderung eneg, bisa-bisa muntah.

“Ndeso” menjadi sangat identik dengan Tukul Arwana, tampak biasa-biasa saja. Bahkan bertahun-tahun program “empat mata sampai bukan empat mata” selalu memuat perihal “ndeso”, masih baik-baik saja. Jokowi ini ternyata punya kesamaan dengan Tukul Arwana. Bahkan lagu dan liriknya yang berkali-kali menyebut “wong ndeso” laris manis di pasaran yang dimaknai sebagai sebutan bagi mereka yang tak lupa daratan. Presiden Jokowi, ayah Kaesang, juga tak menampakkan kemarahan ketika disebut sebagai Presiden tampang ndeso. Muka ndeso, tapi rezeki kuto.

Kata “ndeso” dimaknai sebagai seorang atau sekelompok orang yang ‘kampungan’, ‘norak’, bahkan ‘bodoh’. Makna yang melesat jadi populer setelah sering diletuskan komedian Tukul Riyanto alias Tukul Arwana dalam acaranya bincang-bincang Empat Mata (dan Bukan Empat Mata), baik untuk mengolok-olok orang lain maupun dirinya sendiri.

Seperti kata-kata yang lain, kata “ndeso” juga memiliki ragam arti. “Ndeso” dapat diartikan sebagai kata yang mewakili kata “desa” dalam bahasa Indonesia. Orang yang biasa memakai kata tersebut biasanya adalah orang Jawa. “Ndeso” saat ini sering diidentikkan dengan hal negatif. Sebagai contoh, ketika ada orang yang sedikit kurang mengerti bahasa gaul, misalnya, orang-orang di sekitarnya sering mengejeknya dengan julukan “ndeso.”

Pada intinya, “ndeso” tetap menjadi tempat yang memiliki nilai positif tatkala penafsiran arti kata “ndeso” juga dalam aspek positif. Tidak hanya berlaku pada kata “ndeso” saja, tetapi untuk semua kata. Jadi, selalu ingat bahwa baik buruknya sesuatu itu dapat dipertimbangkan dari sudut pandang yang beragam.

Yang paling paham perihal “ndeso” ini mungkin Tukul Arwana. Kenapa tidak mencoba menghadirkan Tukul dalam persidangan nanti sebagai ahli bahasa, ahli yang identik dan tentunya paham benar arti kata “ndeso”. Semoga saja Tukul bisa menjernihkan. Bukankah demikian yang selalu ia lakukan lewat lawakan-lawakannya?

Tentu sudah banyak menanti jika Kaesang bisa duet dengan Tukul Arwana. Kaesang akan belajar tenik berkomedi tanpa menyinggung yang mudah tersinggung. Tukul bisa jadi tokoh yang muncul di vlog sebagai artis pendatang baru dunia vlog.

Ni Nyoman Ayu Suciartini
Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.