Rabu, April 21, 2021

Inikah Komedi Manusia? (Untuk Anak-anak Asmat)

Muhammadiyah dan Tantangan Islam Moderat

Pada 24-26 Februari 2017, Muhammadiyah menggelar Sidang Tanwir di Ambon, Maluku. Sebagai forum permusyawaratan tertinggi setelah Muktamar, Tanwir biasanya lebih difokuskan pada pembahasan tema-tema...

“Orang Gila” dan Teror terhadap Tokoh Agama

Serangan beruntun terhadap tokoh-tokoh agama dalam tempo sebulan terakhir menimbulkan berbagai macam spekulasi dan praduga yang semakin memperburuk stigma terhadap "orang gila" atau Orang...

Fahira Idris dan Fikih Minuman Keras

Dari kacamata fiqih (Hukum Islam), minuman keras (miras) jenis apa pun hukumnya jelas haram. Peminumnya sudah jelas berlumuran dosa, hampir menyamai syirik. Sudah tidak...

Pahlawan Milenial, Pahlawan Zaman Now

Pada momentum Hari Pahlawan ini, pemerintah Indonesia memberi anugerah kepahlawanan bagi empat tokoh besar. Presiden Jokowi menahbiskan gelar pahlawan bagi empat tokoh pejuang bangsa...
Avatar
Aura Asmaradana
Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, "Solo Eksibisi" - Kumpulan Cerita Pendek (2015)

Berpulangnya Theresia Bewer (3 tahun), seorang anak penderita gizi buruk dan radang paru-paru dari Kampung Beriten, Distrik Agats, menjadi cambuk bagi setiap lapisan masyarakat Indonesia. Isu ini kelas kakap. Perhatian masyarakat Indonesia layak dibetot menuju hal ini. Theresia bukan yang pertama. Sudah ada 62 anak—paling tidak yang tercatat—yang meninggal dunia karena campak dan gizi buruk dalam empat bulan terakhir.

Terpampangnya kasus ini beberapa hari berturut-turut di halaman utama koran nasional memunculkan masalah kesehatan masyarakat dan infrastruktur yang selama ini terkesan terperam di ranah lokal. Pelayanan kesehatan di beberapa distrik (setaraf kecamatan) di Kabupaten Asmat sulit dicapai. Untuk mencapai puskesmas dari kampung Atat, misalnya, dibutuhkan biaya enam juta rupiah untuk berangkat dan pulang.

Memang, perjalanan yang jauh dan berat serta biaya yang mahal bukan alasan untuk mengabaikan nyawa manusia. Bukan berarti tak ada yang peduli pada Agats, pada Papua. Presiden Joko Widodo sudah sepakat bahwa tidak ada alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan warga negara. Kementerian Kesehatan sudah berkali mengupayakan tenaga medis di daerah terpencil, meski kemudian karena beragam alasan berhenti di tengah jalan.

Turun tangannya Presiden Joko Widodo sebagai representasi pemerintah pusat terhadap kasus ini selain baik untuk penanganan kasus kesehatan, juga sebetulnya baik untuk publik. Penting sekali menunjukkan siapa sesungguhnya anak-anak Asmat? Di tempat seperti apa mereka tinggal, seperti apa kehidupan mereka? Bahwa masih banyak pula yang seperti mereka di daerah lain. Dan yang paling penting, kita perlu menelusuri, sebetulnya apa yang membuat hubungan antara warga negara dengan hidup sehat nampaknya sulit untuk baik-baik saja, dan itu seperti terlembagakan?

Benar bahwa perkara hidup dan mati itu tidak sebatas di dalam kepala saja. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah hanya berdasarkan spekulasi-spekulasi. Tapi tindakan sesistematis apa pun kalau tidak digali, maka ipso facto tidak akan bermakna.

Kematian-kematian di Asmat adalah masalah modern yang khas dari suatu tatanan sosial. Akar masalah ini tumbuh dari perkembangan kelembagaan alias rasionalitas—Max Weber menyebutnya. Rasionalitas itu pada dasarnya sudah terinternalisasi—bahkan jadi inti—dalam struktur kesadaran modern kita.

Di tengah gencarnya pembangunan di segala sektor, rasanya tidak mungkin Indonesia mengalami krisis rasionalitas. Namun, faktanya, angka kesakitan dan kematian di Indonesia masih tinggi. Kita boleh curiga bahwa hal yang disebut Peter L. Berger dan Hansfred Kellner dalam Sosiologi Ditafsirkan Kembali sebagai mentalitas rekayasa sedang meradang.

Mental ini yang lagaknya menciptakan problem kesehatan di Indonesia. Pemahaman yang selama ini berlaku adalah bahwa segala masalah bisa didekati dengan pendekatan yang atomistik. Segala hal dapat dibuat bongkar pasang seperti boneka. Indonesia dibangun sejadi-jadinya sebagai syarat modernisasi. Seluruh komponen ada, tapi fungsinya mandek.

Kita perlu hati-hati supaya kesadaran rasional modern tidak bertumbukan dengan kesadaran yang lebih tua; dengan kepedulian; dengan nilai-nilai kemasyarakatan. Supaya Indonesia tidak keropos menjadi hanya tinggal—dalam bahasa Berger—kerangka kosong. Kita perlu ingat bahwa kesehatan warga negara bukan sekadar urusan politis, rekayasa sosial atau manajemen rasional belaka. Pembangunannya ada, tapi tidak berkesinambungan. Lembaganya banyak, tapi tidak melembagakan apa-apa selain kesusahan untuk golongan tertentu.

Kita sering terjebak dalam pola pikir bahwa Indonesia negara yang luas, maka menyelesaikan masalah-masalahnya adalah susah. Ya, memang tidak mudah menciptakan solusi, tapi akan lebih berat lagi kalau kita hanya terpaku pada upaya yang sifatnya sebatas hubungan struktural nan formal. Pertanyaan “bagaimana kita akan menyelesaikan problem gizi buruk—sebagai komponen negara?” akan lebih mengakar jika diganti dengan “bagaimana kita akan menyelesaikan problem gizi buruk—sebagai sesama umat manusia?”

Jadi, kalau selama ini banyak kasus tenaga medis meninggalkan daerah terpencil karena rindu dan tak mau jauh dari keluarga, berarti ada yang harus dipikirkan melampaui urusan siapa penanggung biaya pendidikan spesialis para dokter, atau berapa tunjangannya. Mungkin keterlibatan afeksi dan emosi telah luput sampai kita lupa bahwa pertolongan adalah hal alamiah, sosial, dan tak sekadar struktural. Sangat khas mentalitas rekayasa, sebuah comedie humaine (komedi manusia).

Ya, semoga saja, dengan komunikasi dan koordinasi yang manusiawi, nota kesepakatan Pemerintah Kabupaten Asmat dan Kementerian Kesehatan bisa berjalan tanpa hambatan. Mulai dari mana pun penyelesaiannya, janganlah kita sampai jatuh ke dalam kebiasaan saling menyalahkan, melempar tanggung jawab. Pemerintah pusat dan daerah perlu pendekatan lebih jauh dari sebatas siapa mengadakan solusi apa. Pada akhirnya, itu hanya akan semakin menghancurkan kesadaran intersubjektif.

Kita sedang menghadapi bahaya modern ketika rasionalisasi pranata dan kesadaran sosial berjalan tidak seimbang. Apa mau dikata kalau ternyata mentalitas rekayasa sudah kita idap. Meski sebetulnya kita tidak pantas untuk hidup terus di dalamnya dan mesti sembuh. Gara-gara berupaya memenuhi syarat struktur kesadaran modern, nyawa generasi penerus bisa hilang. Tak boleh lupa, di setiap pembangunan, pasti ada manusia di situ.

Kolom terkait:

Larang Pangan di Asmat

Menikam Papua dengan Beras

Jokowi dan Politik-Ekonomi Impor Beras       

 

Avatar
Aura Asmaradana
Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, "Solo Eksibisi" - Kumpulan Cerita Pendek (2015)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.