Selasa, Mei 18, 2021

Sisi lain Covid-19, Ketahanan Pangan di Ujung Tanduk

Pancasila dan Esensi Ketuhanan

Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juli merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi kebangsaan. Masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai indikator belum berhasilnya pengamalan nilai-nilai...

Apakah Kita Masih Memerlukan Survei Politik?

Setelah pilkada serentak ini di beberapa grup WA yang saya ikut, banyak teman-teman membahas hasil survei dan quick count (QC). Bila sekedar membandingkan angka...

Alih Fokus Dana Desa, Perhatikan Ketimpangan

Dana desa, pada periode ini, akan diarahkan pada pemberdayaan lewat penguatan sumberdaya manusia (SDM), demikian pernyataan pemerintah dalam sejumlah kesempatan. Bila sebelumnya pemerintah mendorong...

Bahlil, Konglomerat, dan Pemerintah

“Saya titip satu saja kepada bapak/ibu sekalian, saatnya kita kolaborasi dengan pengusaha kecil dan menengah. Bapak/Ibu harus menggandeng mereka, karena dengan seperti itulah semangat...
Kurnia Dwi Agustina
Strategic Communication Officer, Tay Juhana Foundation

Setahun sudah Covid-19 merebak dan menggerogoti kehidupan manusia. Semua negara telah menyatakan status darurat Covid-19. Dalam menyikapi hal ini, berbagai kebijakan telah diterapkan di semua negara untuk mencegah penyebarannya, seperti kebijakan physical distancing, penerapan lockdown, dan pembatasan ekspor.

Pandemi dan kebijakan-kebijakan yang telah diterapkan tersebut tentu saja mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek yang terdampak oleh kebijakan tersebut adalah sektor ketahanan pangan. Dampak langsung dan tidak langsung sudah dirasakan masyarakat dan akan terus berlanjut jika tidak ditangani dengan baik. Secara khusus, kebijakan pembatasan ekspor dapat “mengganggu ketahanan pangan di negara-negara pengimpor“.

Ketahanan pangan dapat tercapai apabila semua orang memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi untuk pangan yang cukup, aman, serta bergizi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan preferensi pangan untuk hidup aktif dan sehat. Empat pilar ketahanan pangan adalah ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.

Sebelum masa pandemi, Food and Agriculture Organization (FAO) menerbitkan laporan yang menunjukkan bahwa 2 miliar orang di dunia menghadapi kerawanan pangan tahap sedang hingga parah. Kerawanan pangan adalah risiko dinamis dan saat ini bertambah buruk dengan dampak pandemi disertai dengan berbagai kebijakan yang kemudian dapat mempengaruhi ketahanan pangan.

Dalam laporan terbaru FAO, diperkirakan ada pertumbuhan 83 hingga 132 juta orang yang akan menghadapi kerawanan pangan akibat pandemi. Dampak tidak langsung Covid-19 juga dapat terjadi dan akan terasa dalam waktu dekat.

Menurut artikel yang diterbitkan oleh FAO tentang Dampak Covid-19 pada ketahanan pangan dan gizi yang diterbitkan pada September 2020, terdapat gangguan signifikan pada rantai pasok pangan karena kebijakan lockdown mempengaruhi ketersediaan, harga, dan kualitas pangan.

Survei via telepon cepat yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa dampak luas Covid-19 juga menurunkan pendapatan banyak orang. Terganggunya ketersediaan dan kualitas pangan, inflasi, dan penurunan pendapatan masyarakat menyebabkan kerawanan pangan dan malnutrisi, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah serta negara berkembang.

Pada aspek produktivitas pertanian, gangguan pasokan dan inflasi menyebabkan kerawanan produksi pangan. Petani merupakan salah satu kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak Covid-19, hal ini akan sangat mengancam produksi pangan karena mereka adalah ujung tombak sistem pangan.

Berdasarkan survei pada petani yang dilakukan Prisma di Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Barat, 34% responden menghadapi penurunan permintaan selama Covid-19, dan 65% responden mengalami penurunan harga jual. Kedua masalah tersebut menyebabkan pendapatan rumah tangga petani menurun. Selanjutnya, petani akan merelokasi anggarannya, dan sekitar 30% petani menyatakan akan mengurangi modal usaha taninya pada musim tanam mendatang.

Dalam laporan singkat yang bertajuk “Food Security dan Covid-19“, Bank Dunia menyimpulkan beberapa “hotspots” yang rentan terkena kerawanan pangan akibat Covid-19, yaitu (1) negara rawan dan terdampak konflik yang memiliki kesulitan logistik dan distribusi bahkan dalam keadaan normal, (2) negara dengan berbagai dampak krisis seperti kondisi cuaca ekstrim dan hama, (3) masyarakat berpenghasilan rendah dan rentan, termasuk 820 juta orang yang sudah mengalami kekurangan pangan bahkan sebelum Covid-19 , dan (4) negara dengan mata uang yang terdepresiasi dan mengalami penurunan harga komoditas.

Di Asia dan Afrika, wabah belalang yang paling parah terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini, memengaruhi produksi makanan di 23 negara. Beberapa negara tersebut, seperti di Sub-Sahara, juga mengalami eksposur terhadap risiko kenaikan harga pangan dalam negeri karena mereka adalah importir pangan netto. Temuan ini juga menunjukkan bahwasanya dunia harus lebih banyak memberikan bantuan untuk petani kecil yang termasuk dalam kelompok rentan karena Covid-19 yang mana mereka juga merupakan aktor utama sistem pangan kita.

Bantuan yang dibutuhkan dapat digunakan untuk mendukung lapangan kerja jangka pendek di pedesaan, membantu koperasi petani untuk meningkatkan kegiatan lokal, memberikan bantuan tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga petani, hingga bantuan keuangan bagi petani perempuan.

Tak pelak, isu yang kita hadapi saat ini harus segera diselesaikan. Semua pihak harus terlibat aktif dengan langkah realistis: bahu membahu menghentikan penyebaran Covid-19. Rencana pendistribusian vaksin akan menjadi langkah yang baik menuju keberlanjutan semua aspek kehidupan.

Khususnya dalam ketahanan pangan, upaya nyata harus dilakukan untuk memfasilitasi akses petani terhadap modal pertanian sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Kesejahteraan petani secara signifikan akan mempengaruhi jalannya produksi pangan yang tertata dengan baik untuk menjamin ketahanan pangan. Secara bersamaan, dunia dapat memperkuat sektor ekonomi dan terhindar dari risiko malnutrisi akibat tidak mampu membeli pangan yang baik.

Tulisan ini adalah pengantar penelitian Tay Juhana Foundation tentang dampak COVID-19 di Asia Tenggara yang akan dirilis

 

Kurnia Dwi Agustina
Strategic Communication Officer, Tay Juhana Foundation
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.