Rabu, April 21, 2021

Sihir Medsos dan Kesalehan Berinformasi

Bara Papua, antara Agama dan Kemanusiaan

Saya sedih bercampur kecewa ketika membaca sebuah berita tentang penyerangan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Mereka diperlakukan tidak manusiawi. Diteriaki monyet. Ada pula yang...

Natal, Perang, dan Kemanusiaan

Saat itu malam Natal, 1944. Pasukan Jerman dan Amerika Serikat baru saja bertempur hebat di hutan Hurtgen, Jerman. Elisabeth Vincken dan putranya, Fritz, kaget...

Freeport dan Ilusi Bela Negara

Program Kementerian Pertahanan di bawah Menteri Ryamizard Ryacudu tentang bela negara pada dasarnya mengajak kepada sesuatu yang penting. Bulan-bulan ini, setelah takluk dikepung asap,...

Clickbait Media dan Overclaim Peneliti di Tengah Pandemi

Pandemi COVID-19 yang sudah membunuh lebih dari 2000 masyarakat Indonesia ini kembali menyadarkan kita bahwa ada hal krusial lain yang harus segera dibenahi di...
Avatar
Iu Rusliana
Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Media sosial (medsos) telah menyihir sebagian besar umat manusia. Berdasarkan penelitian Hootsuite, sampai tahun 2019, ada sekitar 4,3 miliar manusia sudah terhubung dengan internet, dan sekitar 3,5 miliar sudah memiliki akun medsos. Tingginya pengguna internet dan medsos telah memicu munculnya istilah communicative abundance (keberlimpahan komunikatif) yang diyakini Jhon Keane sebagai penyebab kemerosotan demokrasi dan media.

Di negara demokrasi seperti Indonesia, pada tahun politik, medsos telah banyak digunakan sebagai alat kontrol informasi. Para aktor politik, buzzer dan masyarakat pemilik akun medsos melakukan propaganda dengan memanipulasi informasi. Menjadi alat untuk mendiskreditkan lawan politik. Di sisi lain juga menenggelamkan perbedaan pendapat yang menjadi ciri dari demokrasi.

Saat ini medsos menjadi mesin produksi kebenaran. Bukan buku, jurnal dan produk ilmu pengetahuan. Ironinya, bahkan kalangan kampus pun kerap menjadikan medsos sebagai sumber pengetahuan. Semua orang berbincang tentang covid-19 misalnya, seolah paham benar dan mendalam. Padahal tahunya dari medsos yang infonya serpihan itu. Percakapan hanya melahirkan kebisingan, dengan masing-masing menyimpulkan dan bahkan tanpa kesepakatan.

Saat ini semua orang merasa jadi pakar. Semuanya merasa top dengan memberikan komentarnya di medsos. Menjadi ruang tanpa batas bagi semua orang untuk menyampaikan berbagai informasi setengah matang atau bahkan tidak penting sama sekali. Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise, menganalogikan internet dengan Hukum Sturgeon yang mengatakan bahwa 90 persen dari semua hal (di dunia maya) adalah sampah.

Bukan tanpa alasan, internet dan medsos telah menjadi sarana penyebaran informasi bohong dan hoax. Menjadi alat untuk menyerang pengetahuan yang sudah mapan. Di dunia maya, kita akan menemukan berbagai perdebatan tanpa memberikan ruang diskusi yang sehat. Di dalamnya, juga ditemukan cacian yang mengecilkan pendapat orang lain yang berbeda.

Otoritas keilmuan kalah oleh gelombang viralisasi. Kebenaran yang tak diviralkan adalah kekeliruan. Kesalahan yang diviralkan adalah kebenaran. Medsos telah memaksa awam pun harus berpikir serius. Akibatnya alur informasi, penalaran dan kesimpulannya kerap keliru, karena informasinya serpihan. Diperlukan kemampuan merakit dan merangkai, menyusun dan membuang informasi agar utuh sebagai bahan pengambilan keputusan.

Keberlimpahan informasi tersebut tidak menunjukan rasionalitas, malah sebaliknya jadi sikap irrasional. Informasi dari medsos lebih menggairahkan daripada buku. Memang tak perlu berpikir serius, atau menggunakan daya ingat yang kuat. Kita telah kehilangan satu fase budaya, yaitu membaca (literasi).

Setelah budaya mendengar melalui dongeng, berkembang budaya lisan, lalu budaya menonton. Harusnya tumbuh budaya membaca. Pada kasus bangsa Indonesia, budaya literasi, terlambat berkembang. Malah sekarang berkembang budaya jari tangan (medsos). Lalu lahirlah para pakar instan. Memang, pada akhirnya seleksi sosial yang akan mengukuhkan. Namun, pendapat pakar yang boleh jadi keliru itu kadang telah diterima tanpa sikap kritis oleh awam.

Kini, komunikasi publik di medsos mengalami bias konfirmasi. Kecenderungan kita hanya menerima bukti yang bisa mengafirmasi hal yang sudah diyakini. Pada akhirnya, internet juga menyediakan berita dan informasi yang sesuai dengan minat.

Kesalehan Berinformasi

Tidak hanya kesalehan yang bersifat individual-vertikal, sosial-horisontal, di era dimana limpahan informasi sangat membanjiri setiap orang, Muslim harus memiliki kesalehan berinformasi.

Penulis memahami makna dari kesalehan berinformasi sebagai kualitas kebaikan diri seorang Muslim yang mampu menerima, bersikap kritis dengan menyaring, menilai, memutuskan apakah informasi itu sahih, mampu menahan diri untuk tidak membagikan sembarang informasi kepada pihak lain dan tidak terlibat dalam sengketa di ruang publik yang menyulut kepada konflik sosial yang luas.

Surah Al-Hujurat ayat 6 memandu, bagaimana harus bersikap:  “Hai orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohanmu, yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.”

Mereka yang saleh berinformasi menyadari bahwa nalar dan cara berpikir manusia sedang dipermainkan oleh para narator dengan strategi viralisasi dan penyebaran hoax. Raksasa tak berwujud rupa, jelas berkepentingan mengendalikan massa dan memiliki modal serta mampu mengkapitalisasi sikap publik menjadi keuntungan bisnis dan politik.

Pada kondisi seperti ini, tak ada benteng pertahanan yang dapat diandalkan selain diri sendiri. Area peperangannya sudah bukan lagi dalam bentuk sistem, tapi langsung head to head dengan setiap orang.

Ada tiga rukun saleh berinformasi  yang harus dipahami dan diaplikasikan. Pertama, tunda, tanda kurung semua informasi penting yang diterima. Jangan mudah percaya begitu saja, apalagi langsung mengomentari dan bersikap.

Kedua,  memeriksa dengan teliti  referensi, rujukan, sumber berita dan apa yang diinformasikan. Dalam khazanah ilmu hadis, dikenal istilah sanad, rawi dan matan. Secara sederhana, sanad mengandung makna keterkaitan informan dari informasi sebelumnya.

Rawi (periwayat) adalah sebutan bagi penyampai informasi. Dalam ilmu hadis, kualitas individu yang saleh, terjaga lisan dan hatinya dari perbuatan bohong adalah syarat mutlak. Kalau mendapat informasi dari lembaga atau orang yang terbukti sering berbohong, apakah kita harus percaya? Sikap kritis dibutuhkan untuk menilainya tanpa prasangka negatif tentunya.

Matan adalah isi informasi yang disampaikan oleh periwayat. Dengan demikian, referensi, siapa penyampai informasi dan isinya harus menjadi ukuran penilaian dalam menentukan apakah informasi itu benar atau bohong.

Ketiga, mampu menahan diri untuk menyebarkan semua informasi yang diterima. Tetaplah tenang dan hati-hati. Sikap teliti dan diam bilamana belum tahu benar harus menjadi pilihan, agar terhindar dari kerusakan. Wallaahu’alam

Avatar
Iu Rusliana
Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.