OUR NETWORK
Minggu, September 19, 2021

Seragam: Sekolah dan Rumah

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi

Bocah menjadi murid di sekolah disahkan seragam. Raga mengenakan seragam menjadikan murid-murid sama, tak perlu saling iri. Mereka berseragam dengan pengetahuan bahan, warna, model, dan ukuran. Di pandangan mata, murid-murid berseragam itu sama warna, sebelum kita memberi pengamatan. Sekian baju terbukti lusuh. Putih tak lagi bersih, pudar, atau terdapat bekas kotoran. Bolong mungkin terlihat. Pada celana atau rok, warna tak bisa selalu merah bersih. Pada kesadaran warna, kita mulai mengerti sekian pakaian dibuat dari bahan (tak) bermutu, berakibat cepat rusak atau awet. Bahan lekas mengabarkan pendapatan orangtua si murid.

Bocah-bocah mengenakan seragam untuk belajar. Di pelataran atau lapangan, seragam terlihat gamblang saat upacara. Murid diminta dalam permufakatan seragam dan peristiwa-peristiwa selama di sekolah. Di luar perintah-perintah akademik, murid berseragam bermain di halaman. Mereka kejar-kejaran, memanjat pohon, atau menendang bola. Tubuh berkeringat, seragam basah dan kotor. Bau tak sedap terasa. Seragam untuk bermain. Rusak dan kotor bakal mendapat marah atau teguran ibu. Seragam kadang pusat masalah, tekanan, dan kejemuan.

Selama puluhan tahun, seragam memiliki warna kekal: SD (merah dan putih), SMP (biru dan  putih), SMA (abu-abu dan putih). Warna dan model telah membiasakan pemandangan formal dalam misi besar pendidikan di Indonesia. Pemandangan berbeda saat kita melihat tiga bocah di kulit muka buku Bahasa Indonesia: Bacaan Jilid 4a terbitan Depdikbud, 1980. Dulu, pembuatan sampul buku belum mempertimbangkan sekian warna. Kita melihat bawahan berwarna hitam dan atasan berwarna putih. Murid perempuan mengenakan baju dengan model tak lazim. Bagian lengan dan leher mengesankan baju bermain, pelesiran, atau pesta. Dua murid lelaki juga tampak berbeda dalam tampilan baju. Mereka sama dalam penggunaan celana pendek.

Pemandangan berubah lagi bila bocah-bocah menonton sinetron atau film diceritakan berada di negara-negara asing. Murid-murid mengenakan pakaian berbeda di sekolah. Pada peristiwa lain, murid-murid berseragam tapi tampak elok dibandingkan seragam para murid di Indonesia. Keinginan menampilkan seragam-seragam “berbeda” ditiru dalam sinetron-sinetron Indonesia bertokoh bocah atau remaja. Sekian seragam tampak meniru dari Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, atau Eropa. Berimajinasi seragam menimbulkan perbandingan dengan seragam sekolah tak mau fana sepanjang masa di Indonesia.

Kini, sekolah-sekolah partikelir umum atau bercap agama mulai memiliki selera seragam elok dipandang mata setelah memenuhi ketentuan tetap harus menjadwalkan penggunaan seragam merah-putih dan pramuka. Kita biasa memandangi para murid mendapat selingan mengenakan pakaian, tak jemu setiap hari. Dulu, seragam “resmi” SD-SMP-SMA bisa digunakan selama 3 atau 4 hari. Seragam itu masih pemandangan, belum berpikiran duit dikeluarkan orangtua. Murid memiliki 4-5 jenis seragam selama seminggu ditambahi busana olahraga memerlukan duit tak sedikit. Perubahan kebijakan seragam khas sekolah partikelir pun biasa berganti setiap setahun atau dua tahun. Seragam lekas dimengerti dalam identitas, bisnis, beban orangtua, gengsi, dan lain-lain.

Henk Schulte Nordholt (2005) menjelaskan: “Pada praktiknya ‘pilihan bebas’ kita dalam berpakaian dibatasi oleh bermacam-macam kaidah sosial yang menentukan atau menyarankan cara-cara berpakaian tertentu dalam konteks tertentu dan tidak memungkinkan pilihan-pilihan lain, bahkan berisiko jika kita berkeras melanggarany.” Di sekolah, murid-murid diminta menerima dan bersabar bila mengenakan pakaian sama, sejak SD sampai SMA. Pelanggaran mendapat hukuman. Mereka dijanjikan bisa mengenakan pakaian “bebas” bila kuliah di perguruan tinggi. Episode berseragam itu tak melulu kain dan perintah tapi menentukan biografi. Seragam berpengaruh dalam kesanggupan beride dan berimajinasi. Seragam tak selalu memberi kehormatan. Pada suatu hari, seragam itu penghinaan, keminderan, pengekangan, dan kebodohan.

Selama puluhan tahu, kita memahami murid mengenakan seragam selama di sekolah. Belajar dan mengikuti sekian peristiwa akademik dengan seragam. Setahunan, seragam itu digunakan para murid saat berada di rumah. perintah dari pihak sekolah lugas: pembelajaran jarak jauh tetap menginginkan tampilan murid berseragam. Seruan berbeda adalah presensi turut pembelajaran di rumah dengan pemotretan pagi dalam tampilan berseragam. Pembuatan rekaman pun memastikan murid-murid berseragam meski selalu berada di rumah. Kita belum meramalkan dampak ditanggungkan murid sering mengenakan seragam di rumah.

Indonesia masih wabah, kesibukan sedang berlangsung adalah membeli atau menjahitkan seragam. Pengumuman tentang murid-murid boleh ke sekolah memastikan seragam. Berita di koran-koran mengingatkan seragam terlalu penting bagi murid-murid menebus rindu ke sekolah. Seragam juga bakal “membuat” anak mengalami rutinitas bisa menjenuhkan bila berlangsung lama. Urusan terpenting mereka harus berseragam. Orangtua bertanggung jawab agar mereka tampil berseragam. Seragam itu duit. Konon, ada kabupaten atau kota menggratiskan bahan seragam atau seragam sudah jadi untuk murid-murid.

Di Media Indonesia, 30 Agustus 2021, disajikan foto kesibukan para orangtua di Pasar Jatinegara, Jakarta. Mereka membeli seragam untuk anak agar sah sebagai murid belajar di sekolah. Para pedagang seragam sekolah mencatat ada kenaikan permintaan warga. Hari-hari ramai dengan penjualan seragam menandai sekolah dihuni murid-murid untuk belajar. Kita bakal diakrabkan lagi pemandangan murid-murid berseragam di sekolah, setelah sekian bulan sekolah-sekolah itu sepi.

Kejadian sama di Semarang, Jawa Tengah. Di Tribun Jateng, 31 Agustus 2021, kita membaca berita peningkatan penjualan seragam sekolah setelah pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Para pedagang di Semarang mengaku mendapat “berkah tak disangka-sangka” berkaitan pembelajaran tatap muka dan seragam sekolah. Penghasilan mereka meningkat. Kita mulai mengerti bila pedagang menanti lama agar dagangan seragam itu laku. Kebijakan-kebijakan pendidikan pernah mengakibatkan pedagang sedih gara-gara tandon dagangan seragam selama setahunan sepi dari pembeli. Kita sejenak berpikir seragam, sebelum kembali ke masalah-masalah masih rumit dan membosankan. Wabah belum selesai. Begitu.

 

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.