Selasa, Februari 3, 2026

Senjakala Industri Alkohol: Akankah Menjadi “Rokok” Berikutnya?

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Sejarah mencatat bahwa persepsi publik terhadap suatu gaya hidup dapat berubah secara drastis seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Jika kita menengok beberapa dekade ke belakang, merokok bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah norma sosial yang diterima secara luas di berbagai lapisan masyarakat. Pada masa itu, merokok dianggap sebagai aktivitas yang lumrah, bahkan glamor. Dokter-dokter dalam iklan medis terlihat mengisap rokok, para atlet profesional menjadi bintang iklan tembakau, dan perusahaan-perusahaan rokok mendominasi papan reklame serta layar televisi sebagai pengiklan utama. Di dalam pesawat terbang pun, merokok adalah hal yang sangat biasa hingga maskapai menyediakan area khusus bagi perokok di atas awan. Pada era tersebut, jika Anda memilih untuk tidak merokok, Anda justru dianggap sebagai sosok yang asing atau aneh di tengah lingkungan sosial.

Namun, dominasi budaya ini perlahan runtuh ketika data medis mulai berbicara lebih keras daripada iklan-iklan kreatif. Statistik mengenai penderita kanker paru-paru mulai menumpuk, penelitian ilmiah membuktikan bahaya jangka panjang dari nikotin, dan kampanye kesehatan masyarakat secara masif mulai mengubah narasi besar tentang tembakau. Secara perlahan namun pasti, citra rokok bergeser dari simbol ketenangan dan gaya hidup keren menjadi simbol penyakit yang mematikan.

Kini, sebuah pertanyaan besar muncul di tengah masyarakat modern mengenai apakah alkohol sedang menuju jalur kepunahan yang sama seperti rokok. Fenomena ini bukan sekadar asumsi belaka, melainkan didukung oleh data penjualan alkohol secara global yang terus menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.

Memasuki tahun 2025, pasar alkohol dunia mengalami kontraksi dengan penurunan penjualan sebesar satu persen secara keseluruhan. Dari berbagai jenis minuman yang ada, industri anggur atau wine menjadi yang paling terdampak dengan penurunan mencapai angka dua koma empat persen. Hal ini membawa tingkat konsumsi wine global ke titik terendahnya sejak tahun 1961, sebuah rekor yang cukup mengejutkan bagi industri yang telah mapan selama berabad-abad. Bahkan kategori minuman keras atau spirits yang biasanya memiliki pangsa pasar loyal pun mulai merasakan perlambatan yang signifikan.

Meskipun angka-angka penurunan ini terlihat kecil bagi sebagian orang, dampaknya sangat mendalam bagi para pelaku industri karena selama ini alkohol dianggap sebagai sektor bisnis yang tahan terhadap resesi. Industri ini telah tumbuh stabil selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti, namun kini pertumbuhan tersebut terhenti dan mulai berbalik arah.

Penyebab utama di balik pergeseran paradigma ini adalah kemunculan Generasi Z sebagai kekuatan konsumen baru yang memiliki nilai-nilai berbeda dari generasi sebelumnya. Data menunjukkan bahwa rata-rata individu dari Generasi Z mengonsumsi alkohol dua puluh persen lebih sedikit dibandingkan dengan generasi milenial. Banyak dari mereka yang memilih untuk menjauhi minuman beralkohol sama sekali karena berbagai alasan yang sangat fundamental.

Salah satu faktor terbesarnya adalah tingkat kesadaran kesehatan yang jauh lebih tinggi. Saat ini, informasi mengenai dampak negatif alkohol dapat diakses dengan sangat mudah. Pernyataan tegas dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang menyebutkan bahwa tidak ada jumlah alkohol yang aman bagi tubuh manusia telah memicu perubahan cara pandang masyarakat. Klaim lama yang menyatakan bahwa segelas anggur merah baik untuk kesehatan jantung kini mulai diragukan dan kehilangan kredibilitasnya di mata publik. Generasi baru ini lebih mempercayai bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa setiap tetes alkohol memiliki potensi risiko bagi organ tubuh.

Selain faktor kesehatan fisik, sifat dari interaksi sosial itu sendiri telah mengalami transformasi yang besar. Pada masa lalu, pertemuan sosial hampir selalu identik dengan ketersediaan alkohol. Orang-orang berkumpul untuk minum bersama, yang sering kali berujung pada kondisi mabuk dan memerlukan waktu pemulihan yang lama pada hari berikutnya.

Namun, budaya ini mulai ditinggalkan oleh banyak orang yang kini lebih memprioritaskan kualitas hidup dan produktivitas daripada kesenangan sesaat. Fokus mereka beralih pada upaya menjaga asupan kalori agar tetap rendah serta menghindari kondisi hangover yang merugikan aktivitas harian. Keinginan untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat dan bersih telah menjadi akar dari penolakan terhadap konsumsi minuman keras dalam acara-acara sosial.

Perubahan preferensi ini juga didorong oleh munculnya beragam alternatif minuman yang jauh lebih menarik dan inovatif. Pasar minuman non-alkohol kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi industri raksasa yang berkembang pesat. Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 pasar ini hanya bernilai sekitar sembilan ratus dua puluh tiga juta dolar, namun diprediksi akan melonjak drastis hingga melampaui angka satu koma tujuh triliun dolar pada tahun 2028.

- Advertisement -

Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah pertumbuhan bir non-alkohol yang diproyeksikan akan menjadi kategori bir terbesar kedua di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen masih menginginkan pengalaman sosial dan rasa dari minuman tersebut, namun tanpa efek negatif dari alkohol itu sendiri. Di sisi lain, di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat, legalisasi ganja untuk penggunaan rekreasi juga memberikan alternatif baru bagi masyarakat, yang pada akhirnya menggeser pola konsumsi dari alkohol ke produk-produk turunan tanaman tersebut.

Faktor ekonomi dan perkembangan teknologi komunikasi juga memainkan peran penting dalam menurunkan minat terhadap alkohol. Dengan adanya inflasi global yang membuat harga sewa rumah dan kebutuhan pokok melambung tinggi, Generasi Z cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Koktail yang mahal di bar-bar mewah kini dianggap sebagai pemborosan yang tidak perlu bagi mereka yang sedang berjuang mengatur keuangan di tengah ekonomi yang sulit.

Selain itu, pola bersosialisasi secara fisik memang mengalami penurunan secara drastis di seluruh dunia. Data dari Amerika Serikat menunjukkan penurunan waktu berkumpul bersama teman dari tiga puluh jam sebulan pada tahun 2003 menjadi hanya sepuluh jam pada tahun 2019. Kurangnya interaksi tatap muka secara langsung ini secara otomatis mengurangi kesempatan atau dorongan untuk mengonsumsi minuman beralkohol.

Merespons kondisi ini, industri alkohol tidak tinggal diam dan mencoba beradaptasi dengan realitas baru tersebut. Mereka mulai meluncurkan berbagai produk inovatif seperti bir dengan kadar alkohol nol persen, gin atau wiski bebas alkohol, hingga penyediaan menu mocktail yang lebih variatif di tempat-tempat hiburan malam. Muncul pula istilah baru dalam pemasaran yaitu kelompok sober curious, yang merujuk pada individu-individu yang memiliki rasa ingin tahu tinggi untuk menjalani hidup tanpa ketergantungan pada alkohol meskipun mereka bukan pecandu. Kelompok ini menjadi target pasar baru yang sangat potensial bagi perusahaan minuman yang ingin tetap relevan di masa depan.

Meskipun tren ini terlihat sangat kuat, para analis masih meragukan apakah alkohol benar-benar akan bernasib sama dengan rokok yang kini sangat dibatasi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa setiap generasi biasanya akan mulai minum lebih banyak seiring dengan bertambahnya usia dan tekanan hidup, sehingga ada kemungkinan perilaku Generasi Z akan berubah di masa depan. Selain itu, alkohol memiliki akar budaya dan emosional yang jauh lebih dalam dibandingkan rokok.

Minuman beralkohol telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari upacara pernikahan, perayaan festival, ritual keagamaan, hingga tradisi yang sudah berusia berabad-abad. Kedekatan budaya ini memberikan alkohol perlindungan sosial yang tidak pernah dimiliki oleh industri tembakau.

Oleh karena itu, alkohol mungkin tidak akan menghilang sepenuhnya dari peradaban manusia seperti yang perlahan terjadi pada rokok, namun perannya dalam kehidupan sosial sedang mengalami devaluasi yang signifikan. Jika dahulu minum adalah simbol kedewasaan dan mata uang sosial yang penting, kini hal tersebut mulai dianggap sebagai kebiasaan lama yang tidak lagi memiliki daya tarik bagi generasi masa depan. Pergeseran nilai inilah yang pada akhirnya akan membentuk wajah baru dunia sosial kita di tahun-tahun mendatang.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.