OUR NETWORK
Jumat, Januari 21, 2022

Sastra dan Transendentalisme

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Pada tahun 1830-an romantisme bermekaran dan tersebar di Inggris serta di seluruh dunia. Demikian pula transendentalisme mulai menancapkan kukunya di Amerika. Para pengikut transdendentalisme di Amerika mendirikan ‘Transcendententist Club.’ Anggotanya termasuk Ralph Waldo Emerson, Henry David Thoreau, Walt Whitman, dan lain-lain.

Mereka adalah anggota inti dari kelompok yang hendak melawan ortodoksi kaum Puritan. Seperti diketahui bahwa orang-orang Puritan sangat ortodoks tentang pandangan agama mereka. Mereka menegakkan doktrin dan praktik keberagamaan yang rigid dan kaku. Bagi mereka, siapa saja yang berpikir dan tidak percaya pada apa yang mereka yakini akan pergi ke neraka.

Sekarang mari kita tengok tiga sastrawan besar penganut transendentalisme. Pertama adalah Ralph Waldo Emerson. Ialah yang mendirikan Transcendententist Club. Ia menulis sebuah karya penting berjudul The American Scholar. Ini merupakan pidatonya di hadapan Phi Beta Kappa Society of Harvard College pada tahun 1837.

Banyak kalangan menyebut pidato ini sebagai ‘deklarasi intelektual kemerdekaan’ (intellectual declaration of independence). Dalam tulisan ini, ia berbicara tentang tugas dan pengaruh para sarjana Amerika. Mereka, para sarjana Amerika, adalah orang yang akan membangunkan Amerika dari kecerdasan orang malas (sluggard), yang selama ini menjadi semacam tutup besi yang menghambat kebebasan pemikiran Amerika.

Pemikir transendental penting kedua adalah Walt Whitman. Ia disebut-sebut sebagai bapak kata-kata bebas (father of free words) dan menulis karya spektakuler berjudul Leaves of Grass  (1855). Dalam karya ini, ia menulis sajak, “I celebrate myself, and sing myself, And what I assume you shall assume, For every atom belonging to me as good belongs to you” (Aku merayakan diriku sendiri, dan bernyanyi sendiri, dan anggapanku bahwa kamu akan menganggap bahwa untuk setiap atom yang menjadi milikku juga milikmu).

Ia menyampaikan gagasan bahwa semua orang memiliki potensi. Tidak ada yang lebih besar dari orang lain karena saya memiliki struktur atom yang sama dengan yang Anda miliki. Anggapan saya adalah juga anggapan kamu karena kita memiliki pikiran yang sama. Jika saya merayakan diri saya sendiri, maka Anda juga perlu merayakan diri Anda sendiri.

Pemikir transendental penting ketiga adalah Henry David Thoreau. Dalam karyanya, alam memainkan peran penting seperti dalam karyanya Walden. Dalam karya, ia menulis, “I went to the woods because I wished to live deliberately and suck out all the marrow of life (Aku pergi ke hutan karena aku ingin sengaja hidup di sana dan menghisap semua sumsum jiwa). Kita dapat melihat kesenangan yang dinikmatinya bahkan dengan pemikiran pergi ke hutan dan terhubung dengan alam. Sekali lagi alam adalah bagian terintegrasi dari transendentalisme Amerika.

Kaum transendentalis adalah kaum non-konformis. Mereka sering berkata, “Hanya karena Anda memberi tahu kami sesuatu yang ditulis dalam Alkitab, kami tidak akan menerimanya.”

Amos Bronson Alcott, seorang pengarang terkenal yang mengomentari tulisan Emmerson, mengatakan “Gereja Emmerson hanya terdiri dari satu anggota, itu sendiri.” Ungkapan ini sejatinya menegaskan filosofi inti transendentalisme. Transendentalis menentang ‘agama-agama yang terorganisir’ (organized religion) dan percaya bahwa agama adalah hal yang sangat subjektif. Bagi mereka, agama tergantung pada hubungan setiap orang dengan Tuhan. Tidak ada seperangkat aturan tertentu yang harus seseorang ikuti untuk mengenal Tuhan dan mencapai surga. Itulah keyakinan transendentalisme.

Pernahkah Anda merasakan dorongan untuk membawa payung pada di hari yang terik? Tiba-tiba empat atau lima jam kemudian, hujan mulai turun. Lalu Anda berkata, “Saya mengambil payung karena dorongan intuitif dalam diri saya” meskipun dorongan rasional mengatakan tidak ada gunanya membawa payung. Jika pernah mengalami pengalaman seperti itu, Anda sebetulnya menjalani apa yang menjadi filosofi transendental.

Kelompok transendentalis percaya bahwa kekuatan Tuhan hanya dapat diketahui melalui kekuatan emosi dan intuisi alih-alih rasio. Anda tidak dapat menggunakan otak untuk mengenal Tuhan. Anda perlu menggunakan emosi dan kekuatan intuitif Anda untuk menghampiri-Nya.

Mereka memperjuangkan individualisme. Mereka meyakini individu adalah pusat spiritual alam semesta. Karenanya individualisme itu amat penting. Dalam esainya yang berjudul “The American Scholar” (1837), Emerson mengatakan bahwa “manusia bukanlah petani, profesor, atau insinyur, tetapi ia adalah segalanya.” Mereka menganggap penting kehadiran individu di masyarakat, sebab kemajuan masyarakat berbanding lurus dengan kemajuan individu.

Selain itu, filosofi transendentalisme yang tak kalah krusial adalah bahwa segala sesuatu terhubung dengan jiwa. Tuhan, yang bagi mereka disebut over-soul, hadir di keseluruhan kita. Itulah sebabnya setiap orang terhubung. Emmerson mengatakan bahwa ada kesamaan ketika kita melihat alam dan jiwa. Ada kekacauan di sekitar. Tetapi kemudian ketika kita mencoba menghancurkan ‘kelainan’ dan melihat lebih dalam, kita akan melihat bahwa semuanya terkait dan terikat pada tingkatan terbawah.

Masih menurut Emmerson, semakin awal kita mengenal diri sendiri (know thyself), semakin kita menyadari bahwa jiwa dan alam adalah sama. Ketika kita mempelajari alam, kita akan mengenali hukum alam. Ini mirip dengan hukum jiwa manusia. Jika kita mempelajari diri kita, kita akan menemukan hal-hal tertentu yang akan mengarah pada pengetahuan kita tentang alam.

Ketika Anda menonton film atau membaca novel Eat, Pray and Love, Anda akan menyadari bahwa filosofi transendental sangat terhubung dengan apa yang dibicarakan dalam novel atau film itu. Eat, Pray and Love adalah novel karya oleh Elizabeth Gilbert. Bagi yang tidak suka membaca novelnya, Anda bisa menonton film yang diadaptasi dari novel tersebut yang dibintangi Julia Roberts. Baik buku atau film berkisar pada kisah seorang wanita yang bercerai. Dia berhasil menemukan dirinya secara fisik dan spiritual. Ia pergi ke Italia dan India. Pada bagian akhir film, ia melakukan perjalanan ke Bali, Indonesia.

Dengan pergi ke tiga tempat berbeda, sang protagonis, Liz, mencoba menemukan dirinya. Ketika pergi ke Italia, ia menyantap semua masakan yang enak dan hidangan yang luar biasa. Ketika menyantap makanan pencuci mulut, ia bisa menghargai keindahan yang hadir di dekatnya. Itulah gagasan transendentalisme; bahwa semua keindahan, kecantikan dan kenikmatan semuanya ada di dekat kita.

Kita hanya perlu menyadarinya. Ketika pergi ke India, ia bermeditasi di Ashram. Melalui meditasi dan satsang, ia akhirnya memahami diri dan jiwa sendiri sehingga berhasil menenangkan pikirannya. Ia membangun jembatan ke dalam jiwanya. Ketika meditasinya selesai, ia berangkat ke Bali. Di sana, ia jatuh cinta pada seorang pria. Ia pada akhirnya merangkul kembali kehidupan cinta yang selama ini telah meninggalkannya. Ia makan (eat) enak ada di Italia, menemukan jiwanya lewat meditasi (pray) di India dan mereguk cinta (love) yang hilang di Bali.

Dengan menonton film ini, kita dapat melihat bagaimana film ini mengorbit di lintasan gagasan transendentalisme. Pengikut transendentalis percaya bahwa Anda diminta untuk menemukan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Anda perlu terbuhul dengan diri sendiri. Individu adalah pusat alam semesta dan karenanya amat penting. Anda tidak perlu memikirkan apa yang akan dikatakan masyarakat tentang Anda. Yang perlu Anda pedulikan adalah hubungan Anda dengan jiwa, alam, dan Tuhan Anda.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.