Minggu, Mei 26, 2024

Revolusi Akhlak

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Peneliti Senior MAARIF Institute dan Komisaris Independen PT. Kereta Api Indonesia

Keluruhan pribadi dan akhlak Rasulullah SAW adalah keteladanan hidup yang harus selalu menyala dalam hati dan laku setiap umat Muslim. Keteladanan itu banyak kita temui dalam berbagai riwayat.

Riwayat dan kisah-kisah keteladanan Rasulullah harus menjadi arus utama lisan dan laku setiap Muslim untuk disyiar dan ditanamkan, tak lekang termakan waktu. Apalagi di tengah menjamurnya tokoh-tokoh yang dijadikan panutan dan tuntunan tetapi bertentangan dengan prilaku-prilaku yang dicontohkan Rasulullah.

Ketika kita memperingati kelahiran Nabi Muhammad, berarti kita mengingat tugas kenabian dan keteladanannya. Dalam suatu riwayat Rasulullah menyampaikan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”
Akhlak mulia yang dicontohkan Rasul bukan sekedar kata-kata tapi semua prilaku dan perbuatan hidup beliau mencerminkan akhlak mulia itu sendiri. Sehingga dalam suatu riwayat Aisyah RA menyampaikan: “Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an”.

Akhlak menjadi cermin utama keutamaan iman seseorang. Hal ini sesuai dengan pesan Nabi: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”.

Akhlak yang baik tercermin dalam prilaku yang baik, tutur kata yang baik, menjaga hubungan yang baik dan selalu melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Jika seorang Muslim masih gampang marah, menghina, mengolok-olok, mendendam, mengadu domba dan menebar kebencian, maka sesungguhnya belum sempurna keimanannya dan kita tidak boleh menjadikannya sebagai tauladan walaupun secara sosial mereka memiliki gelar-gelar keagamaan, seperti gelar Habib atau Kiai.

Untuk mengingatkan kita kembali tentang kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, penulis akan menceritakan beberapa kisah keteladanan beliau.

Mendoakan Penduduk Thaif

Syahdan, saat Rasulullah mengajak penduduk Thaif memeluk Islam, Nabi Muhammad dilempari oleh penduduk Thaif. Mereka menolak kehadiran Nabi Muhammad, bahkan mengusirnya agar keluar dari Thaif. Tak hanya mengusir, penduduk Thaif juga melempari Nabi dengan batu.

Darah Rasulullah sampai tercecer dari wajah dan tubuh yang mulia itu. Malaikat Jibril iba menyaksikan Rasulullah dan menawarkan kepada Nabi untuk membalas dan menghancurkan penduduk Thaif dengan cara membalikkan Gunung Akhsyabin dan menimpakannya kepada penduduk Thaif.

Dengan lembut Nabi berkata kepada Jibril: “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.” Nabi bahkan berdoa yang artinya, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Begitu mulia akhlak Rasulullah. Mengajarkan kepada kita tentang cara berdakwah yang ramah dan santun, tanpa dendam dan benci. Bahkan ketika dakwah yang dilakukan belum diterima oleh masyarakat.

Wanita Tua yang Meludahinya

Alkisah, ada seorang wanita tua yang selalu meludahi Rasulullah setiap melintas di depan rumah wanita tua itu. Nah, suatu hari ketika Nabi SAW melewati lagi rumah seorang wanita tua itu, Nabi heran kenapa tidak ada wanita tua yang sering meludahinya itu. Nabi pun penasaran lalu mencari tahu.

Nabi Muhammad bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Wanita tua itu ternyata sedang jatuh sakit. Syahdan Nabi memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu terkejut dan tidak menyangka bahwa Nabi menjenguknya.

Wanita tua itu menangis dan mengakui keluhuran budi Rasulullah yang setiap ia ludahi tetapi datang menjenguknya ketika sakit. Merasakan Kemuliaan dan keluhuran Nabi, wanita tua memutuskan dengan penuh kesadaran untuk mengucapkan dua kalimat syahadat:“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Dua riwayat di atas memberi hikmah kepada kita. Nabi Muhammad SAW menjalankan dakwah dengan cara menunjukkan ketauladan akhlak. Nabi tidak pernah berkata dan berbuat keji atau berpura-pura berbuat keji untuk membuat orang lain tertawa dan bergembira untuk mendengarkan dakwahnya.

Oleh karena itu, revolusi akhlak harus kita maknai sebagai perubahan prilaku dari yang buruk menjadi prilaku yang baik. Indikatornya adalah menjadikan akhlak sebagai prilaku dalam menjalani kehidupan. Bukan sekedar kata-kata, apalagi hanya untuk sekedar kepentingan memuaskan nafsu ketenaran di dalam diri.

Meminjam istilah Buya Ahmad Syafii Maarif, harus ada kesamaan kata dengan laku. Tidak sekedar mengajak tapi juga melakukan. Karena betapa besar kebencian Allah kepada seseorang yang hanya bisa berkata-kata tapi tidak melakukannya. Wallah’ualam.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Peneliti Senior MAARIF Institute dan Komisaris Independen PT. Kereta Api Indonesia
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.