Momentum idul fitri sejatinya merupakan waktu terbaik untuk merajut persatuan. Setelah berpuasa selama sebulan lamanya, kita diikat oleh satu perasaan yang sama, yakni bahagia dapat menyelesaikan ibadah di bulan Ramadan, dan bersiap menyongsong hari kemenangan. Perasaan yang sama ini sudah seharusnya menyatukan dan mengokohkan kebersamaan kita.
Namun di tengah gelora persatuan tersebut, muncul sebagian elit agama yang justru mengoyaknya dengan pernyataan-pernyataan sentimentil. Semua elemen bangsa sedih dan geram karena pernyataan itu muncul di tengah suasana yang damai dan tenang. Bangsa yang sudah terbiasa dengan perbedaan, mendadak bingung dengan pemuka agama yang justru ingin menundukkan perbedaan dan memaksakan keseragaman.
Polarisasi dan perpecahan sejak awal telah menjadi musuh bagi siapa pun yang berakal. Mereka yang berakal takkan mudah diprovokasi dan disulut emosinya. Mereka memiliki kacamata yang jernih dalam melihat perbedaan pandangan keagamaan. Apalagi, khusus soal penentuan awal Ramadan dan Syawal, bukanlah sesuatu yang asing dan akrab dengan kehidupan kita. Mereka yang masih mempermasalahkan hal ini tentu adalah mereka yang lambat dewasa.
Menyikapi Keragaman Pikiran ala Nabi
Persatuan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia membutuhkan sikap aktif dan partisipatif. Idul fitri seandainya diresapi dengan baik, mewariskan dan menginjeksikan semangat persatuan. Perasaan yang sama-sama merasa kembali ke fitri setelah berpuasa sebulan lamanya adalah hal yang menyatukan kita. Di luar idul fitri, kita adalah satu agama dan satu bangsa.
Agama mengajarkan manusia untuk menyikapi keragaman pikiran dan keyakinan dengan sikap lapang dada. Sebab perbedaaan adalah kreasi Tuhan yang paling agung. Mereka yang menentangnya sama saja dengan menentang ciptaan Tuhan. Seolah menjawab pertanyaan manusia kenapa mereka berbeda-beda, Tuhan mengatakan bahwa sebagai Zat yang Maha Kuasa, ia sangat mampu untuk menjadikan manusia satu bangsa dan bahkan satu agama. Namun Tuhan tidak memilih jalan itu. Sebab ia ingin kita terbiasa berbeda dan dengan perbedaan itu kita terdorong untuk saling mengenal dan memahami.
Namun bagi mereka yang tidak memahami ajaran agama yang mulia ini, perbedaan dianggap sebagai aib dan karena itu harus ditutup-tutupi. Perbedaan bagi mereka tidak lebih sebagai hama peradaban. Karena itu mereka bergerak ke arah penyeragaman. Padahal jika mereka sadar, perbedaan adalah hal yang inheren dalam peradaban. Sebuah peradaban akan tampak indah dan menawan jika di dalamnya perbedaan dikelola dengan bijak dan bajik
Teladan yang ditayangkan oleh Nabi Muhammad dalam sejarah telah menjadi pelajaran paling indah dalam mengelola perbedaan. Sebagai agama yang lahir di tanah Arab, ia tidak hadir dengan semangat permusuhan. Justru ia dengan apik menampilkan diri sebagai agama yang menjaga kohesivitas sosial. Sebagai pemimpin agama dan masyarakat, Nabi berusaha mengayomi semua lapisan masyarakat. Peradaban di Madinah yang gemilang dibangunnya bersama-sama kelompok lain. Kalangan Yahudi dan Nasrani diayomi demi menjaga integritas wilayah Madinah.
Riwayat terkenal tentang para sahabat yang berbeda dalam memahami ucapan Nabi patut untuk kembali direnungkan. Saat itu Nabi memerintahkan agar tidak salat Asar sebelum sampai di perkampungan Bani Quraizah. Namun dalam perjalanan waktu telah menunjukkan akan memasuki Magrib. Pada titik inilah sahabat mulai terpecah. Sebagian tetap memahami secara tekstual dan hanya akan salat jika sudah sampai. Sementara sebagian yang lain mulai melaksanakan salat Asar karena takut waktunya akan selesai.
Bagian yang paling menarik dan patut menjadi pelajaran bagi kita dalam berbangsa dan bernegara adalah sikap yang ditampilkan oleh Nabi saat diminta pendapat mana yang paling benar di antara keduanya. Nabi tidak mengunggulkan salah satu dan tidak melemahkan yang lain. Bahkan secara bijak ia membenarkan kedua sikap sahabat tersebut. Dalam hadis yang lain disebutkan, ketika seorang berijtihad dan benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Namun jika ternyata salah, ia tetap mendapatkan pahala walau satu.
Ini adalah contoh yang agung dari tentang menyikapi perbedaan. Sebagai pribadi yang luhur, ia tidak menghardik perbedaan yang terjadi di antara sahabatnya. Sebaliknya secara santun ia membenarkan keduanya dan secara bijaksana menyebut mereka yang berijtihad dan salah mendapat satu pahala atas usahanya. Sikap ini tentu sangat kontras dengan perangai elit agama yang belakangan viral karena pernyataannya yang mengharamkan perbedaan.
Menuju Persatuan Nasional
Kita memang masih punya tugas rumah dalam mengelola perbedaan. Makanya, seperti yang disampaikan Profesor Abdul Mu’ti (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah), dalam konteks membangun kehidupan beragama yang harmonis dan konstruksi kerukunan yang kokoh, kita memerlukan waktu yang panjang. Ia juga menekankan bahwa persatuan tidak pernah dibangun atas kerja personal atau satu kelompok. Persatuan membutuhkan uluran tangan kerja sama dari berbagai pihak secara sungguh-sungguh.
Dalam hal ini nilai-nilai puasa tidak boleh hanya diresapi dalam konteks yang sangat personal. Lebih dari itu ia harus diterjemahkan sebagai sikap sosial yang meneduhkan dan mendamaikan. Sebagai hasil dari tarbiyah selama satu bulan lamanya, para elit agama seyogyanya bisa lebih menahan diri dari sikap-sikap destruktif dan mengoyak persatuan. Persatuan bangsa harus ditempatkan di atas segala kepentingan kelompok. Hanya dengan demikian kita bisa tampil sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat.
Indonesia harus menjadi rumah bagi semua. Sebab ia dibangun atas keringat dan darah banyak pihak. Tidak boleh ada warga atau kelompok kelas satu. Semuanya harus diperlakukan setara dan adil. Pandangan-pandangan yang hendak menjadikan negara ini condong pada satu kelompok, harus dikikis dan dilawan. Persatuan yang telah lama kita bina jangan sampai menjadi goyah hanya karena ulah sebagian elit agamanya yang kurang dewasa. Bangsa ini terlalu rugi jika jatuh dan terpuruk hanya karena tidak terbiasa dengan perbedaan
