Selasa, April 20, 2021

Rame-Rame Mencari Figur Setara Ahok

Memahami Pesan KH Yahya Cholil Staquf di Israel

Di Youtube, kita bisa mendapatkan cuplikan utuh percakapan antara KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan dengan Rabbi David Rosen (Rabbi David). Saya mencoba...

Notts County: Sejarah yang Jatuh

Sejarah itu akhirnya jatuh. Terlalu dalam. Riwayat yang besar, legenda yang selalu diceritakan berulang-ulang, yang bertahan selama lebih dari satu setengah abad, tak mampu...

Riba Dilarang, Bunga Bank Boleh!

Sebelum menjawab pertanyaan “apakah bunga bank itu riba atau bukan?”, kita perlu mendudukkan persoalan secara tepat. Pertanyaan tersebut berada dalam wilayah ijtihadi, yang memungkinkan...

Reporter Koran Itu Pekerjaan Terburuk, Datangnya Teknologi Generasi kelima (5G)

Itulah kesimpulan survei yang dilakukan oleh CareerCast. Selama tiga tahun berturut- turut (2013, 2014, 2015), bekerja di koran itu menempati rangking pertama jenis pekerjaan...
Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Punama (kanan) bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kiri) mengikuti Rapat Terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kabinet Kerja membahas Penilaian Standar Bisnis di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (9/5). Rapat tersebut juga membahas mengenai kemudahan berusaha (ease of doing business), ijin investasi, IMB, pendaftaran properti, ijin PLN untuk penyambungan listrik, pembayaran pajak, perdagangan lintas negara, akses perkreditan, perlindungan pada investor minoritas, penegakan kontrak, serta penyelesaian perkara kepailitan. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/pd/16
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Punama dalam Rapat Terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (9/5). ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/pd/16

Merumuskan strategi yang benar-benar jitu untuk mengalahkan petahana yang kuat seperti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sungguh bukan hal yang mudah. Ini terbukti dari geliat para pengurus partai politik di DKI Jakarta yang intensif melakukan lobi ke sana-sini dan mencoba membangun koalisi gemuk untuk mengusung calon yang memiliki potensi mampu menyaingi popularitas Ahok.

Sejumlah partai besar tampak masih menimbang-nimbang keputusan terbaik agar tidak salah dalam melangkah. Secara politis, kekeliruan dalam memilih dan mengusung calon yang dijagokan dan kemudian ternyata kalah tentu akan menjadi tamparan yang bisa merusak reputasi partai besar.

Sejumlah survei yang masih menempatkan Ahok sebagai calon dengan dukungan suara pemilih tertinggi jelas menjadi bahan kalkulasi partai yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Sebagai petahana yang unik, profil Ahok di mata masyarakat DKI Jakarta memang mengundang perdebatan dan bahkan menjadi kontroversi. Tetapi, ketika sejumlah partai besar berteriak dan melontarkan berbagai kritik kepada Ahok, hasilnya ternyata tidak selalu signifikan.

Kalau mau belajar dari pengalaman pesta demokrasi sebelumnya, sering terjadi calon yang dikritik dan diperlakukan sebagi pesakitan oleh banyak pihak justru hasilnya malah mampu mendulang suara para pemilih yang bersimpati kepadanya.

Hingga saat ini, untuk menandingi popularitas dan elektabilitas Ahok agar tak terpilih kembali, para pengurus partai politik berupaya mencari figur-figur tertentu yang diharapkan mampu mencuri simpati para pemilih. Sosok seperti Tri Rismaharini, Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, dan Rizal Ramli adalah sejumlah nama yang muncul dan digadang-gadang dapat menandingi reputasi Ahok.

Nama Tri Rismaharini atau Risma disebut-sebut sebagai figur paling berpeluang untuk menantang popularitas Ahok. Sebagai Wali Kota Surabaya yang memiliki segudang prestasi dan juga memiliki profil yang unik—dikenal inovatif, disiplin, pekerja keras dan populer di arus bawah masyarakat—wajar bila Risma kemudian digadang-gadang sejumlah pihak untuk bersedia maju dalam kontestasi politik di DKI Jakarta.

Duet Risma-Sandi, misalnya, adalah paket kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang diharapkan mampu menandingi Ahok. Jika nanti benar disandingkan dengan Sandiaga Uno, apakah Risma akan dapat menandingi Ahok tentu masih diiuji oleh waktu.

Jika dicermati, strategi yang dikembangkan sejumlah pengurus partai politik yang berusaha membangun koalisi besar sebagai basis untuk menantang Ahok sebetulnya tidak akan menjadi jaminan dapat memenangkan pertarungan politik di DKI Jakarta. Pengalaman selama ini telah menunjukkan tak ada pararelitas antara jumlah raihan suara partai politik dan suara masyarakat pemilih di lapangan.

Tidak mustahil strategi menandingi dominasi Ahok dengan cara membangun koalisi besar partai politik justru pada titik tertentu akan berdampak kontraproduktif. Karena sikap dan kekhawatiran mereka yang tak bisa mengalahkan Ahok, yakni kalau tidak didukung koalisi besar partai politik, sebetulnya justru akan berisiko menumbuhkan simpati massa pemilih. Akan muncul kesan di mata pemilih bahwa posisi Ahok saat ini adalah sebagai pihak yang dimarginalisasi, dikeroyok banyak pihak, dan semacamnya.

Kesan bahwa seorang calon adalah korban yang dipojok-pojokkan dan dikeroyok berbagai pihak selama ini terbukti malah mendongkrak popularitas calon yang bersangkutan. Kasus kemenangan Joko Widodo dalam Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta beberapa tahun lalu maupun Pemilu Presiden adalah bukti kuat dari berkah menjadi calon yang terkesan dan dikesankan teraniaya.

Dengan membangun koalisi besar partai dan mengerucutkan calon yang berkontestasi hanya dua pihak, peluang untuk mengalahkan Ahok harus diakui memang lebih terbuka. Jika calon yang bertarung lebih dari dua, hampir bisa dipastikan Ahok akan lebih berpeluang untuk menang, karena suara pendukung kandidat lain terpecah-pecah—sementara suara pendukung Ahok sendiri harus diakui relatif solid.

Untuk memastikan pesta demokrasi di DKI Jakarta berjalan fair dan sekaligus menjadi pembelajaran bersama, sejatinya ada dua hal yang seharusnya dipikirkan para pengurus partai politik.

Pertama, para pengurus partai politik seyogianya tidak terjebak pada kebiasaan untuk mengusung dan lebih mengedepankan figur calon daripada program yang ditawarkan sebagai janji atau kontrak politik kepada konstituennya. Kebiasaan untuk lebih mengandalkan pertarungan antar figur seperti ini akan mengurangi nilai demokratis pilkada karena menafikan kecerdasan para pemilih yang makin lama makin rasional dan kritis.

Kedua, para pengurus partai politik sebaiknya tak menghabiskan energi hanya untuk memilih figur calon peserta pilkada, sementara melupakan tugas partai politik untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Bagi pengurus partai politik, akan lebih baik jika sejak awal mereka juga memikirkan bagaimana melakukan sosialisasi kepada para konstituennya untuk memilih calon gubernur DKI Jakarta berdasarkan janji politik yang ditawarkan, dan bukan karena alasan yang sifatnya parokhial.

Siapa pun gubernur DKI Jakarta yang bakal terpilih nanti, yang penting adalah apakah mereka memang memiliki program yang benar-benar jelas untuk mengatasi berbagai masalah yang tengah dihadapi Ibu Kota ini. Juga apakah program yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.

Nama-nama seperti Ahok, Risma, Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendara, Rizal Ramli, dan lain-lain sesungguhnya adalah pelaksana dan perencana program pembangunan yang menjadi manager sebuah daerah. Tidak penting siapa yang menang, karena di atas segalanya yang terpenting adalah kepentingan rakyat.

Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.