Sabtu, Mei 8, 2021

Prahara Ahok di Mata Masyarakat Demokratis dan Kaum Beriman

Ramadhan dan 2 Tahun Khilafah ISIS

Pada 1 Ramadhan 1435 Hijriah (29 Juni 2014) kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) mendeklarasikan “negara” Khilafah. Ini berarti datangnya Ramadhan...

Yuyun dan Logika Pemerkosaan Masyarakat

Para aktivis Komite Aksi Perempuan menyalakan lilin saat aksi "#SOS (Save Our Sister): Bunyikan Tanda Bahaya!" menyatakan Indonesia Darurat Kekerasan Seksual di Jakarta, Rabu...

Buzzer: Antara Bisnis dan Hati

Sungguh ini betul-betul menarik. Belum lama ini sejumlah buzzer menyampaikan permintaan maaf di Twitter. Meminta maaf karena sudah terlibat dalam suatu kampanye terkait pembakaran...

Keturunan Arab, Islam, dan Nasionalisme

Andai nasionalisme tidak sejak awal diletakkan dalam porsi besar oleh tokoh Muslim kita dalam keberislaman, khususnya di masa sebelum kemerdekaan, bisa jadi kita tak...
Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa

Belakangan ini keadaan Indonesia kian memanas. Demo-demo yang dilakukan di beberapa daerah mengisyaratkan adanya gerakan beberapa golongan Islam atas dasar klaim keimanan. Di sisi lain, beberapa masyarakat yang masih dan sangat yakin dengan cita-cita demokrasi juga melakukan gerakan yang masif melalui tulisan-tulisan di media, baik online maupun cetak. Pembahasan pertikaian masih seputar perkara “bacot Ahok di Kepulauan Seribu”.

Meskipun kedua kelompok ini (masyarakat demokratis dan kaum beriman) tidak saling bentrok dalam ruang-ruang publik, keadaan berbeda dengan ruang maya. Di media-media sosial, banyak komentar yang bernafas kebencian keluar dari kedua kelompok tersebut.

Jujur saya merasa amat prihatin dengan suasana di media sosial saat ini terkait tanggapan masyarakat medsos terhadap kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Beberapa mengklaim diri sebagai yang paling intelek, demokrasi, dan dewasa dalam bersikap. Namun beberapa tanggapannya secara nyata juga memberikan aroma kebencian kepada kaum beriman.

Di sisi lain, orang-orang yang mengkalim sebagai kaum beriman, menggunakan ayat-ayat dan tafsir agama untuk membenci seseorang, bahkan memakai tafsir tersebut untuk menghakimi siapakah yang pantas masuk surga kelak.

Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). Presiden dan Wapres menyerukan kepada warga Jakarta untuk beraktivitas normal dan tidak khawatir terkait rencana unjuk rasa 4 November. ANTARA FOTO/Setpres-Rusman/ama/16
Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). [ANTARA/ Setpres-Rusman]
Masyarakat demokratis mulai memposisikan diri sebagai yang paling berhak menentukan tafsir atas bernegara, dan di sisi lain kaum beriman mulai memposisikan diri yang paling berhak menafsirkan tafsir agama. Saya tidak melihat perbedaan keduanya!

Lantas, bagaimana cara menyikapi tindakan kaum beriman? Saya melihat beberapa tanggapan dari masyarakat demokratis mengenai tindakan kaum beriman mulai terlihat “tidak proposional”. Hal ini karena masyarakat demokratis memaksakan cara pandang mereka kepada kaum beriman. Terlihat masyarakat demokratis juga telah mulai menjadi hakim kecil dalam menyikapi prahara Ahok.

Tipologi masyarakat demokratis dan kaum beriman dalam tulisan ini masih mengikuti tulisan saya sebelumnya (Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan). Masyarakat demokratis merupakan representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dengan nalar demokrasi. Sedangkan kaum beriman adalah representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dari sudut pandang keimanan.

Rasionalitas Kaum Beriman

Patut diingat bahwa apa yang dikatakan Ahok mengenai al-Maidah ayat 51 telah benar-benar menyinggung perasaan sebagian umat Islam, meskipun ada silang pendapat mengenai substansi dari tafsir tersebut. Namun, perlu dilihat di lapangan bahwa beberapa golongan yang meyakini sikap Ahok telah mengusik keimanan mereka telah berhasil membangun kekuatan dan gerakan massa. Fakta ini tidak bisa ditolak!

Bagi kaum beriman, firman Tuhan adalah yang paling utama. Tak ada yang lebih sakral dari firman Tuhan. Tingkat rasionalitas tertinggi dalam alam pikiran kaum beriman adalah firman Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya sebagai cara pandang, cara hidup, dan nilai etika. Firman Tuhan dianggap sebagai alat penyelamat. Ritus yang paling sahih untuk mencapai surga.

Maka, firman Tuhan tersebut memiliki kuasa untuk “menyetel” segala tingkah tanduk dan pola pikir manusia. Karena begitu kuatnya kuasa dari firman Tuhan, maka saya akan memaklumi tindakan kaum beriman dalam merespons prahara Ahok saat ini. Jadi, meski ada isu politisasi dalam gerakan ini, tetap saja dorongan utama masyarakat yang ikut adalah rasa keimanan mereka.

Jumlah kaum beriman yang melakukan gerakan massa untuk menuntut Ahok diadili senyatanya juga terus bertambah. Di daerah-derah, demo anti-Ahok terus mendapatkan simpatisan yang rela turun ke jalan. Ini menandakan bahwa klaim keimanan memang masih menjadi cara pandang rasional dalam mengambil tindakan. Meyakini bahwa keimanan mereka telah diusik oleh Ahok melalui “penistaan” terhadap al-Maidah 51, berbagai dorongan untuk besatu terus disuarakan oleh kaum beriman.

Faktanya, nama-nama besar semisal M. Amien Rais, AA Gym, dan Ustad Arifin Ilham juga menjadi pelopor bagi kaum beriman dan memberi aura positif atas tindakan kaum beriman. Munculnya nama Amien Rais banyak disayangkan oleh kaum masyarakat demokratis. Mereka menganggap Amin Rais sudah kehilangan aura intelektualitasnya dalam menanggapi prahara Ahok. Apakah Amin Rais benar-benar sudah kehilangan intelektualitasannya lantaran bersikap seperti kaum beriman?

Rasa Intelektual Kaum Beriman

Rasa intelektual antara kaum beriman dan kaum masyarakat demokratis memiliki dasar berbeda. Bagi kaum beriman, intelektualita harus tercermin dari sikap keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Dalam pandangan kaum beriman, intelektual tidak hanya memiliki tanggung jawab sosial, tapi juga tanggung jawab teologis.

Pandangan ini menjadi pegangan dalam cara berpikir dan bertindak bagi kaum beriman. “Pengetahuan harus bisa mendekatkan diri dan juga membuat rasa rendah diri di hadapan Tuhan”. Itu merupakan kata-kata yang selalu diucapkan oleh Ustad saya sedari kecil.

Jadi, sangat wajar ketika ada anggapan penistaan terhadap Firman Tuhan oleh seseorang, reaksi yang ditimbulkan akan sangat berlebihan. Karena sebagai wujud tanggung jawab keintelektualan, kaum beriman harus membela Firman Tuhan yang dilecehkan. Tapi apa pun, saya menyayangkan aksi dari realisasi wujud tanggung jawab tersebut mengusik ketentraman bernegara dan kehidupan masyarakat luas.

Jadi, tindakan Amin Rais tidak serta merta dapat dikatakan telah menurunkan derajat intelektualitasnya. Begitu pula tindakan kaum beriman tidak serta merta mereka tidak memiliki rasa intelektualitas. Pendapat saya ini tidak serta merta mengucilkan rasa intelektual masyarakat demokratis. Saya hanya mencoba mengajak masyarakat demokratis agar dapat memahami apa yang dirasakan oleh kaum beriman.

Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). Aksi yang diikuti ribuan pengunjuk rasa itu menuntut kepastian hukum terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/16.
Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). [ANTARA/ Wahyu Putro A]
Demo 4 November

Memberikan tempat bagi kaum beriman untuk menyampaikan aspirasinya dalam demo 4 November merupakan sikap demokratis. Sikap ini tetap harus benar-benar dijaga konsistensinya. Masyarakat demokratis tidak perlu merasa terancam dengan adanya demo-demo yang dilakukan oleh kaum beriman. Masyarakat demokratis sebaiknya menyikapinya dengan memberi ruang kepada kaum beriman, tanpa perlu menghardik atau mencela pengikut ataupun pelopor demo tidak rasional ataupun bukan seorang intelektual.

Aspirasi dari kaum beriman dapat dijadikan sebagai cerminan mengenai sistem demokrasi yang kita anut saat ini. Hate speech dan aura-aura kebencian yang dilakukan oleh beberapa golongan dalam parade demo nanti akan lebih bijak disikapi sebagai konsekuensi  dari kebebasan berpendapat yang juga selama ini terus dikampanyekan oleh masyarakat demokrasi sendiri.

Dengan demikian, menyikapi demo 4 November dapat dijadikan cerminan mengenai seberapa demokratiskah masyakarat kita saat ini. Jadi, sangat tidak perlu kiranya untuk menghardik dan mengucilkan parade demo 4 November ini.

Baca:

Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan

Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.