Jumat, April 23, 2021

Prahara Ahok di Mata Masyarakat Demokratis dan Kaum Beriman

Ideologi di Balik Teknologi Tepat Guna

Saya suka mengenang masa kecil di lereng Gunung Sindoro yang menyenangkan, khususnya di musim liburan seperti Ramadhan. Bulan Puasa adalah panggung festival kreativitas bagi...

Kereta Cepat untuk Siapa?

Problem utama kelas menengah tanggung yang hidup di Jakarta adalah persoalan mencari hunian. Sesuai namanya, posisi para eksponen berpenghasilan cukup, cukup hanya untuk bayar...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Membedah Otak Kaum Fundamentalis-Ekstremis

Indonesia darurat intoleransi. Ya, sesuai hasil survei Wahid Institute, intoleransi, radikalisme, dan fundamentalisme agama rawan terjadi di Indonesia. Hal ini merebak beberapa tahun belakangan...
Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa

Belakangan ini keadaan Indonesia kian memanas. Demo-demo yang dilakukan di beberapa daerah mengisyaratkan adanya gerakan beberapa golongan Islam atas dasar klaim keimanan. Di sisi lain, beberapa masyarakat yang masih dan sangat yakin dengan cita-cita demokrasi juga melakukan gerakan yang masif melalui tulisan-tulisan di media, baik online maupun cetak. Pembahasan pertikaian masih seputar perkara “bacot Ahok di Kepulauan Seribu”.

Meskipun kedua kelompok ini (masyarakat demokratis dan kaum beriman) tidak saling bentrok dalam ruang-ruang publik, keadaan berbeda dengan ruang maya. Di media-media sosial, banyak komentar yang bernafas kebencian keluar dari kedua kelompok tersebut.

Jujur saya merasa amat prihatin dengan suasana di media sosial saat ini terkait tanggapan masyarakat medsos terhadap kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Beberapa mengklaim diri sebagai yang paling intelek, demokrasi, dan dewasa dalam bersikap. Namun beberapa tanggapannya secara nyata juga memberikan aroma kebencian kepada kaum beriman.

Di sisi lain, orang-orang yang mengkalim sebagai kaum beriman, menggunakan ayat-ayat dan tafsir agama untuk membenci seseorang, bahkan memakai tafsir tersebut untuk menghakimi siapakah yang pantas masuk surga kelak.

Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). Presiden dan Wapres menyerukan kepada warga Jakarta untuk beraktivitas normal dan tidak khawatir terkait rencana unjuk rasa 4 November. ANTARA FOTO/Setpres-Rusman/ama/16
Presiden Joko Widodo (atas kanan) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (atas kiri) menyampaikan pernyataan terkait rencana aksi unjuk rasa 4 November di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (3/11). [ANTARA/ Setpres-Rusman]
Masyarakat demokratis mulai memposisikan diri sebagai yang paling berhak menentukan tafsir atas bernegara, dan di sisi lain kaum beriman mulai memposisikan diri yang paling berhak menafsirkan tafsir agama. Saya tidak melihat perbedaan keduanya!

Lantas, bagaimana cara menyikapi tindakan kaum beriman? Saya melihat beberapa tanggapan dari masyarakat demokratis mengenai tindakan kaum beriman mulai terlihat “tidak proposional”. Hal ini karena masyarakat demokratis memaksakan cara pandang mereka kepada kaum beriman. Terlihat masyarakat demokratis juga telah mulai menjadi hakim kecil dalam menyikapi prahara Ahok.

Tipologi masyarakat demokratis dan kaum beriman dalam tulisan ini masih mengikuti tulisan saya sebelumnya (Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan). Masyarakat demokratis merupakan representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dengan nalar demokrasi. Sedangkan kaum beriman adalah representasi dari masyarakat yang menyikapi prahara Ahok dari sudut pandang keimanan.

Rasionalitas Kaum Beriman

Patut diingat bahwa apa yang dikatakan Ahok mengenai al-Maidah ayat 51 telah benar-benar menyinggung perasaan sebagian umat Islam, meskipun ada silang pendapat mengenai substansi dari tafsir tersebut. Namun, perlu dilihat di lapangan bahwa beberapa golongan yang meyakini sikap Ahok telah mengusik keimanan mereka telah berhasil membangun kekuatan dan gerakan massa. Fakta ini tidak bisa ditolak!

Bagi kaum beriman, firman Tuhan adalah yang paling utama. Tak ada yang lebih sakral dari firman Tuhan. Tingkat rasionalitas tertinggi dalam alam pikiran kaum beriman adalah firman Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya sebagai cara pandang, cara hidup, dan nilai etika. Firman Tuhan dianggap sebagai alat penyelamat. Ritus yang paling sahih untuk mencapai surga.

Maka, firman Tuhan tersebut memiliki kuasa untuk “menyetel” segala tingkah tanduk dan pola pikir manusia. Karena begitu kuatnya kuasa dari firman Tuhan, maka saya akan memaklumi tindakan kaum beriman dalam merespons prahara Ahok saat ini. Jadi, meski ada isu politisasi dalam gerakan ini, tetap saja dorongan utama masyarakat yang ikut adalah rasa keimanan mereka.

Jumlah kaum beriman yang melakukan gerakan massa untuk menuntut Ahok diadili senyatanya juga terus bertambah. Di daerah-derah, demo anti-Ahok terus mendapatkan simpatisan yang rela turun ke jalan. Ini menandakan bahwa klaim keimanan memang masih menjadi cara pandang rasional dalam mengambil tindakan. Meyakini bahwa keimanan mereka telah diusik oleh Ahok melalui “penistaan” terhadap al-Maidah 51, berbagai dorongan untuk besatu terus disuarakan oleh kaum beriman.

Faktanya, nama-nama besar semisal M. Amien Rais, AA Gym, dan Ustad Arifin Ilham juga menjadi pelopor bagi kaum beriman dan memberi aura positif atas tindakan kaum beriman. Munculnya nama Amien Rais banyak disayangkan oleh kaum masyarakat demokratis. Mereka menganggap Amin Rais sudah kehilangan aura intelektualitasnya dalam menanggapi prahara Ahok. Apakah Amin Rais benar-benar sudah kehilangan intelektualitasannya lantaran bersikap seperti kaum beriman?

Rasa Intelektual Kaum Beriman

Rasa intelektual antara kaum beriman dan kaum masyarakat demokratis memiliki dasar berbeda. Bagi kaum beriman, intelektualita harus tercermin dari sikap keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan. Dalam pandangan kaum beriman, intelektual tidak hanya memiliki tanggung jawab sosial, tapi juga tanggung jawab teologis.

Pandangan ini menjadi pegangan dalam cara berpikir dan bertindak bagi kaum beriman. “Pengetahuan harus bisa mendekatkan diri dan juga membuat rasa rendah diri di hadapan Tuhan”. Itu merupakan kata-kata yang selalu diucapkan oleh Ustad saya sedari kecil.

Jadi, sangat wajar ketika ada anggapan penistaan terhadap Firman Tuhan oleh seseorang, reaksi yang ditimbulkan akan sangat berlebihan. Karena sebagai wujud tanggung jawab keintelektualan, kaum beriman harus membela Firman Tuhan yang dilecehkan. Tapi apa pun, saya menyayangkan aksi dari realisasi wujud tanggung jawab tersebut mengusik ketentraman bernegara dan kehidupan masyarakat luas.

Jadi, tindakan Amin Rais tidak serta merta dapat dikatakan telah menurunkan derajat intelektualitasnya. Begitu pula tindakan kaum beriman tidak serta merta mereka tidak memiliki rasa intelektualitas. Pendapat saya ini tidak serta merta mengucilkan rasa intelektual masyarakat demokratis. Saya hanya mencoba mengajak masyarakat demokratis agar dapat memahami apa yang dirasakan oleh kaum beriman.

Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). Aksi yang diikuti ribuan pengunjuk rasa itu menuntut kepastian hukum terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/16.
Massa dan kendaraan memadati kawasan Masjid Istiqlal jelang pelaksanaan aksi 4 November di Jakarta, Jumat (4/11). [ANTARA/ Wahyu Putro A]
Demo 4 November

Memberikan tempat bagi kaum beriman untuk menyampaikan aspirasinya dalam demo 4 November merupakan sikap demokratis. Sikap ini tetap harus benar-benar dijaga konsistensinya. Masyarakat demokratis tidak perlu merasa terancam dengan adanya demo-demo yang dilakukan oleh kaum beriman. Masyarakat demokratis sebaiknya menyikapinya dengan memberi ruang kepada kaum beriman, tanpa perlu menghardik atau mencela pengikut ataupun pelopor demo tidak rasional ataupun bukan seorang intelektual.

Aspirasi dari kaum beriman dapat dijadikan sebagai cerminan mengenai sistem demokrasi yang kita anut saat ini. Hate speech dan aura-aura kebencian yang dilakukan oleh beberapa golongan dalam parade demo nanti akan lebih bijak disikapi sebagai konsekuensi  dari kebebasan berpendapat yang juga selama ini terus dikampanyekan oleh masyarakat demokrasi sendiri.

Dengan demikian, menyikapi demo 4 November dapat dijadikan cerminan mengenai seberapa demokratiskah masyakarat kita saat ini. Jadi, sangat tidak perlu kiranya untuk menghardik dan mengucilkan parade demo 4 November ini.

Baca:

Prahara Ahok: Mimpi Masyarakat Demokratis dan Fakta Keimanan

Avatar
Yogi Febriandi
Kepala Suku Komunitas Bengkel Peradaban, Aceh - Kota Langsa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.