Rabu, April 21, 2021

Kesaktian Setnov, Kerapuhan Pancasila

4 November dan Politik Massa Berbasis Fatwa

Aksi "bela Islam II" yang dilaksanakan pada 4 November 2016 ini oleh ormas Islam menghadirkan gelombang massa yang sangat massif. Mereka berdatangan dari berbagai...

Inspirasi dari Pidato Perpisahan Obama

Presiden Barack Obama adalah satu-satunya presiden Amerika Serikat (AS) yang cukup dekat dengan Indonesia—dulu, sekarang, mungkin selamanya. Berayah-tiri warganegara Indonesia, dia pernah tinggal di...

Siasat Golkar Merangkul Kang Emil, “Mendepak” Kang Dedi

Jalan Ridwan Kamil untuk ikut berkontestasi pada Pilkada Provinsi Jawa Barat 2018 ibarat jalan tol saja. Setelah diusung Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),...

Selamat Bekerja, Pak Gub dan Pak Wagub!

Pak Gub dan Pak Wagub yang terhormat, Selamat atas pelantikan Bapak berdua menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 – 2022. Mulai hari...
Muhammadun As
Penulis, tinggal di Yogyakarta

Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Akhir pekan lalu kita dikejutkan dengan status Setya Novanto (Setnov) yang bebas dari kasus dugaan korupsi e-KTP. Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi Iskandar, memutuskan penetapan Setnov sebagai tersangka oleh KPK tidak sesuai dengan prosedur, sehingga tidak sah dan gugur secara hukum.

Politikus Partai Golkar ini memang dikenal sebagai sosok ulet dalam setiap kasus hukum. Terlepas dari konteks hukum dan suara publik, Setnov adalah sosok petarung yang selalu membuat kejutan dalam episode perjalanan politik yang mengitarinya. Ia mampu mengatur ritme gerak politik, sembari terus melangkah maju memastikan agenda politiknya.

Setnov tercatat pernah terseret dalam banyak kasus hukum. Mulai kasus Cessie Bank Bali tahun 1999, penyelundupan Beras Vietnam tahun 2003, kasus Limbah Beracun di Pulau Galang, Kepulauan Riau tahun 2006, kasus PON Riau tahun 2012, kasus etik terkait Donald Trump tahun 2015, kasus Papa Minta Saham tahun 2015, dan kasus e-KTP.

Kasus-kasus ini mampu dilewati Setnov, karir politiknya juga tetap melonjak tinggi. Jabatan Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR juga masih aman. Setnov mampu merekayasa peta pertarungan politik dengan cerdas, sekalipun netizen di media sosial banyak yang mencibirnya.

Yang menarik, puncak bebasnya Setnov dari tersangka KPK berbarengan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ini bukan kebetulan, ini sebuah tanda politik bahwa Setnov juga politisi sakti. Tetapi suara publik juga tidak bisa diabaikan, karena kesaktian Setnov menandai kerapuhan Pancasila. Bagaimana mungkin sosok yang sudah jelas terseret dalam banyak kasus bisa bebas dengan begitu mudahnya? Bagaimana kita menjelaskan sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kepada generasi penerus bangsa? Penuh ironi dan tragedi!

Terkait kasus Setnov, seorang guru pasti akan kesulitan menjelaskan sila ke-5 kepada peserta didiknya. Bagaimana mungkin anak-anak di kelas hanya diajarkan untuk menghafal dan menyelami nilai Pancasila, sementara aparatur negara justru memberikan contoh sangat nyata dalam pengaburan Pancasila.

Revolusi Pancasila

Pemerintahan Jokowi-JK sudah mengabarkan dengan tegas sejak awal bahwa revolusi mental adalah program besar bangsa ini. Semua program pemerintah juga harus selalu dikaitkan dengan agenda revolusi mental. Momentum saat ini sangat tepat untuk menegaskan kembali revolusi mental berbasis Pancasila. Jangan sampai program revolusi mental, apalagi di dunia pendidikan, hanya program dalam lembaran kertas saja yang justru akan membodohkan anak bangsa.

Menurut Yudi Latif (2015), revolusi mental harus diorientasikan agar mental Pancasila bisa menjiwai dan mendorong perubahan di bidang material dan politik yang sejalan dengan idealitas Pancasila. Di sini, Revolusi Pancasila menghendaki adanya perubahan mendasar secara akseleratif, yang melibatkan revolusi material (sila kelima), mental kultural (sila ke-1,2,3) dan politikal (sila keempat).

Revolusi (basis) material diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran, berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Yudi juga menegaskan bahwa revolusi (superstruktural) mental-kultural diarahkan untuk menciptakan masyarakat religius yang berprikemanusiaan, yang egaliter mandiri, amanah dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme, serta sanggup menjalin persatuan dengan semangat pelayanan.

Sementara revolusi (agensi) politikal diarahkan untuk menciptakan agen perubahan dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan). Revolusi politik ini bisa diwujudkan dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan perdamaian dan keadilan.

Dari sini, lembaga pendidikan mempunyai peran sangat strategis. Yakni memastikan agar revolusi mental tidak hanya berhenti pada perubahan pola pikir dan kejiwaan saja, tetapi juga pada kebiasaan dan karakter yang menyatu antara pikiran, sikap dan tindakan sebagai suatu integritas yang didasarkan pada nilai Pancasila, terutama sila ke-1, 2, dan 3.

Fokus revolusi mental Pancasila adalah mentalitas kemandirian, mentalitas gotong royong dan mentalitas pelayanan. Dari sini, maka lembaga pendidikan akan menghasilkan generasi bangsa yang siap berjuang menegakkan Pancasila. Generasi yang setia menjadikan Pancasila sebagai kritik bagi aparatur negara. Bukan hanya kritik untuk Setnov, tetapi siapa saja aparatur negara dan aparatur pemerintah juga harus selalu diluruskan kalau menyimpang dari Pancasila.

Semua anak bangsa berperan dan bertanggungjawab untuk menjaga martabat bangsa dengan mengamalkan nilai Pancasila dalam keseharian.

Kolom terkait:

Tiga Kolom “Maut” Setelah Setya Novanto Tersangka

Setya Novanto dan Ketidakabsahan DPR

Papa Setnov, Jack Sparrow, dan Patah Hati KPK

Pemain Drama dan Segala Kelicinannya

Revolusi Mental atau Fisik?

Muhammadun As
Penulis, tinggal di Yogyakarta
Berita sebelumnyaPengembangan Kosmetika Asia
Berita berikutnyaMembaca Siasat Panglima
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.