Selasa, Mei 18, 2021

Akrobat Agus Yudhoyono

Menguji Mental Antikorupsi Pansel KPU

Pada 12 Februari 2018 lalu, bertempat di salah satu hotel di Jakarta, saya dan puluhan lain yang mayoritas berprofesi dosen diundang oleh Komisi Pemilihan...

Khalifah al-Muttaqi: Sosok yang Taat Ibadah tapi Tidak Cakap Memimpin Negara

Kita kini memasuki periode karut-marut dari Dinasti Abbasiyah. Kalau sebelumnya Dinasti Umayyah hanya mampu bertahan sampai sekitar 14 khalifah, sebenarnya Dinasti Abbasiyah lebih lama...

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial”

Politik kita akhir-akhir ini diramaikan oleh perbincangan tentang kemunculan anak muda berbakat yang bergelut sebagai politisi. Ia adalah Tsamara Amany, mahasiswi semester 6 yang...

Isu PKI dan Keributan yang Memuakkan

Hari-hari ini, dan memang selalu begitu sejak saya mulai sadar, menjelang tanggal 30 September, Indonesia jadi ribut lagi soal isu Partai Komunis Indonesia (PKI)....
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

ahy-akrobat
Agus Yudhoyono saat berkampanye di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (24/12/2016). [Foto: tribunnews.com]
Memang asyik saat menonton seseorang yang melompat dari panggung (stage dive) ke arah kerumunan massa di bawah lalu ditangkap dan diangkat beramai-ramai. Sorak sorai dan teriakan yang mengelu-elukannya sontak membahana. Persis seperti seorang penyanyi (biasanya rocker) yang melemparkan dirinya ke arah para penggemarnya di bawah. Jelas ada daya aktraktif di situ. Penonton seolah-olah disuguhi sajian akrobatik yang memesona.

 

Itulah yang dilakukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di awal-awal memasuki panggung politik Pilkada DKI Jakarta 2017. Dalam sebuah acara ia melompat dari panggung ke arah para pendukungnya di bawah, lalu ditangkap, dibopong beramai-ramai dan dielu-elukan sebagai calon Gubernur Jakarta yang paling layak. AHY pun berhasil mencuri perhatian, bukan hanya para pendukungnya, melainkan juga publik ibu kota secara keseluruhan.

Dalam perspektif komunikasi politik, lompatan yang dilakukan AHY bisa digolongkan ke dalam publisitas politik, tepatnya tipe free ride publicity. Tipe ini menjelaskan bahwa seorang kandidat biasanya menggunakan atau memanfaatkan momentum tertentu demi kepentingan publisitas dirinya. Dalam hal ini, AHY menggunakan acara tersebut untuk semakin mempopulerkan dirinya melalui aksi melompat tersebut.

Sebelumnya AHY juga banyak melakukan free ride publicity. Misalnya, ia ikut membuka kompetisi lari di Senayan beberapa waktu yang lalu. Kemudian AHY juga sempat ikut acara lari pagi di kawasan Ragunan dan mengajak masyarakat turut serta. Kehadiran AHY pada kedua acara tersebut jelas telah memberinya momentum untuk mempopulerkan dirinya.

Perlu Kreativitas Baru
Sebagai gebrakan awal, lompatan AHY memang sangat bagus. AHY berhasil mencitrakan dirinya sebagai anak muda yang energik, tegas, berani, dan percaya pada para pendukungnya, yang ditafsirkan oleh mereka bahwa ia tidak akan mungkin berani melompat kalau tidak memiliki kepercayaan kepada orang-orangnya bahwa ia akan ditangkap.

AHY pun kemudian menuai popularitas yang pesat. Dalam sejumlah survei posisinya lebih unggul dibandingkan dua rivalnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan.

Namun demikian, kalau aksi yang sama dilakukan dengan berulang-ulang hasilnya mungkin akan berbeda. Dalam pandangan komunikasi, tidak ada sesuatu yang benar-benar sama jika berulang. Air sungai yang kita lewati hari ini bukanlah air sungai sama yang kita lewati kemarin, karena sudah mengalir entah ke mana.

Film sama yang kita tonton hari ini maknanya tidaklah sama dengan yang kita tonton kemarin. Saat kita menonton film yanh sama untuk kedua kalinya, kita sudah memiliki persepsi terhadap film tersebut sehingga maknanya akan berbeda, lain ketika kita menontonnya untuk pertama kali.

Oleh karena itulah, ketika AHY melakukan lompatan yang sama untuk yang kedua kalinya, makna dan efeknya sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi sesuatu yang mengejutkan bagi publik. Bahkan bukan tidak mungkin publik justru melihatnya sebagai sesuatu yang membosankan atau tidak mengasyikkan. Atau dengan ungkapan lain, AHY dan tim suksesnya sudah kehilangan ide atau kreativitas sehingga melakukan hal yang sama secara berulang-ulang.

Tidak heran kalau perolehan suara AHY dalam sejumlah survei, meski hal ini bukan faktor utama, cenderung stagnan atau jalan di tempat, sementara dua rivalnya mengalami kenaikan signifikan. Bahkan dalam survei Indikator Politik Indonesia baru-baru ini, perolehan suara AHY anjlok atau menempati paling bawah, yakni 23,6 persen. Adapun Ahok mengalami kenaikan signifikan dengan 38,2 persen yang disusul Anies Baswedan sebesar 23,8 persen.

Melompat Lebih Tinggi?
Entah karena adanya kritikan atas aksi lompatan yang sama dua kali atau tidak, AHY melakukan aksi baru beberapa saat setelah debat kandidat kedua digelar. Kali ini ia melakukan aksi berbeda. Ia tidak lagi melompat ke kerumunan massa pendukung seperti sebelumnya, melainkan naik ke kap mobilnya, All New Navara Nissan, dan berorasi di hadapan mereka.

Pilihan aksi AHY memang berbeda. Tetapi sayangnya aksi tersebut justru menuai kontroversi. Ia naik kap mobil yang terparkir tepat di depan Hotel Bidakara yang notabene merupakan jalur utama. Sontak saja jalanan menjadi macet parah karena banyak pendukungnya yang berkerumun menutupi jalan. AHY bahkan harus dibentak keras oleh Kapolres Jakarta Selatan untuk membubarkan aksinya setelah beberapa kali ditegur tetap bergeming dengan aksinya.

Selain aksi tersebut bisa memperburuk citra AHY yang sangat mungkin dianggap calon pemimpin yang tidak mempedulikan kepentingan umum demi tujuan pribadi, aksi-aksi teatrikal semacam itu juga sudah tidak relevan lagi sekarang. Momen Pilkada DKI kini telah bergeser ke arah penilaian program kerja seperti yang terepresentasikan melalui debat kandidat. Maka, publik Jakarta tidak akan memperhatikan hal-hal yang sama sekali tak ada kaitannya dengan program kerja.

Oleh karena itu, ketimbang mencari aksi-aksi yang dianggap akan mencuri perhatian seperti itu, tim sukses AHY, dan tentu saja AHY sendiri, lebih baik fokus pada penjelasan program kerja. Ia harus banyak menggunakan berbagai forum untuk melakukan hal tersebut sehingga publik Jakarta semakin yakin atas kesiapannya menjadi calon Gubernur Jakarta. Apalagi dalam dua kali debat yang telah disaksikan oleh banyak mata, AHY tampak masih sangat kurang dalam menjelaskan bagaimana pelaksanaan program kerjanya secara konkret.

Mengandalkan aksi-aksi lompatan semacam itu akan kesulitan untuk bersaing memperebutkan posisi nomor satu di Jakarta. Alih-alih bisa melompat lebih tinggi dari calon gubernur menjadi gubernur terpilih, justru AHY malah bisa-bisa turun ke tempat yang lebih di bawah. Jika hasil survei Politik Indikator Indonesia menjadi acuan, setidaknya untuk saat ini, kecenderungan tersebut bisa terjadi dalam kenyataan.

 

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.