Minggu, Mei 9, 2021

Doktor Abal-abal dan Integritas Akademik yang Tergadaikan

Kivlan Zen, Isu PKI, dan Bangunan Persepsi Kesejarahan

Mengapa ada sosok seperti Jenderal Kivlan Zein yang percaya isu PKI bisa dikelola dalam ranah politik nasional di era keterbukaan seperti sekarang? Tidakkah masyarakat,...

Di Balik Kontroversi Plagiarisme Afi Nihaya

Menjadi terkenal dan mendapat perhatian dari banyak kalangan masyarakat mungkin menjadi mimpi utopis banyak orang. Para penghasil karya ingin karya-karyanya (berupa tulisan, musik, desain,...

Nasionalisme dan Bangsa Rajin Sekolah dalam Asuhan Hantu Blau

Belakangan ini banyak kalangan cemas terhadap gejala yang dipersepsi sebagai rongrongan terhadap eksistensi kebangsaan Indonesia. Ada yang merasa melihat ancaman komunisme. Sebagian mewaspadai tumbuhnya...

Jokowi, Sastra, dan Pendidikan Karakter

  Sibuk membincangkan pendidikan karakter hingga lagi-lagi Presiden Joko Widodo “menganulir” Penguatan Pendidikan Kaarakter (P2K) versi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan semakin menegaskan bahwa kita sebenarnya...
Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

[sumber: http://www.lpminstitut.com]
 

Integritas akademik saat ini berada pada titik nadir. Sungguh memprihatinkan. Pernyataan ini bukannya mengada-ada. Puluhan perguruan tinggi di Tanah Air disinyalir telah melakukan praktik jual-beli ijazah, sengaja melakukan pembiaran terjadinya plagiarisme, dan bahkan ada pimpinan perguruan tinggi yang diduga melakukan praktik curang dalam penyetaraan ijazah doktor dan pengajuan pangkat guru besarnya.

Hasil rekomendasi Ombudsman Republik Indonesia (ORI) belum lama ini, misalnya, menyarankan perlunya peninjauan kembali posisi Paulina Amalia Runtuwene sebagai Rektor Universitas Negeri Manado terkait maladministrasi penyetaraan ijazah doktor dan pengangkatan guru besar yang bersangkutan. Kasus yang sama ditengarai juga terjadi di sejumlah perguruan tinggi lain.

Dewasa ini, integritas akademik bukan hanya telah tercoreng, tetapi sepertinya juga telah tergadaikan. Integrasi akademik di sini pada dasarnya berkaitan dengan tindakan yang mengacu pada nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, kehormatan, keberanian, tanggung jawab dalam proses pembelajaran, pengajaran, dan penelitian.

Lebih dari sekadar persoalan plagiarisme, mencontek, kolusi, pemalsuan, yang dimaksudkan dengan integritas akademik adalah persoalan harga diri dan transparansi dunia kampus yang benar-benar akuntabel.

Seseorang akademisi yang tidak memiliki harga diri bukan tidak mungkin tergelincir memalsukan ijazah, plagiarisme, dan berbagai praktik curang lainnya sekadar untuk mengejar reputasi palsu. Kasus yang terjadi di Universitas Negeri Manado dan Universitas Negeri Jakarta, misalnya, adalah salah satu bukti bagaimana dunia kampus yang terhormat ternyata kalah oleh kepentingan politik dan ekonomi.

Dari hasil kerja dan penyelidikan tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di berbagai universitas selama dua tahun terakhir menemukan indikasi terjadinya plagiarisme atau penjiplakan yang sedemikian sistematis dan masif karya tesis dan disertasi di puluhan kampus di Indonesia. Dunia kampus yang seharusnya menegakkan marwah akademik yang reputatif, justru tidak jarang menjadi bagian dari proses memproduksi lulusan yang kualitasnya meragukan.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan dunia kampus tergelincir melakukan praktik yang memalukan ini. Pertama, di masyarakat masih berkembang pandangan bahwa kehormatan akademik bisa diraih dengan cara instan. Seorang pejabat yang ingin tampil moncer, terhomat dan dipandang berpendidikan tinggi, umumnya tidak segan mengeluarkan biaya ekstra, yang penting gelar ada dalam genggaman.

Meski proses perkuliahan yang dijalani jauh dari logis, yang penting mereka dapat lulus secepatnya, diwisuda, dan kemudian menyandang gelar doktor dari perguruan tinggi tertentu yang mau dan mampu mereka beli kerhormatannya.

Sejumlah pejabat di Sulawesi Tenggara yang menempuh kuliah program doktor di Universitas Negeri Jakarta, misalnya, ditengarai dengan sengaja telah melakukan praktik plagiarisme untuk mengejar gelar doktor dan kehormatan masyarakat.

Kedua, proses komersialisasi dan kepentingan politik praktis yang mengintervensi dunia kampus mengakibatkan integritas akademik menjadi nomor kesekian. Di sejumlah perguruan tinggi, proses perkulihan ditengarai sering berjalan tidak sebagaimana mestinya. Absensi mahasiswa yang dimanipulasi, tanda tangan yang tidak lazim, karya disertasi yang dikerjakan hanya dalam hitungan hari, dan berbagai pelanggaran lain seringkali dibiarkan begitu saja, karena pihak kampus menggadaikan kehormatannya.

Kepentingan oknum pejabat kampus untuk mendapatkan kompensiasi ekonomi dan relasi politik menyebabkan proses belajar-mengajar akhirnya berjalan secara transaksional.

Ketiga, akibat ulah sejumlah orang kuat atau pejabat lembaga negara yang melakukan aksi kongkalikong dengan sejumlah oknum guru besar dan pimpinan perguruan tinggi untuk menyelingkuhi proses belajar-mengajar yang tidak pada tempatnya. Alih-alih membimbing peserta program doktor dengan benar untuk dapat menghasilkan disertasi berkualitas, dalam praktik yang terjadi adalah proses pembiaran plagiarisme yang benar-benar memiriskan hati.

Salah satu rektor PTN yang bergelar guru besar ditengarai dalam satu tahun mampu membimbing dan meluluskan seratus lebih mahasiswa S3 bimbingannya. Padahal, menurut ketentuan, seorang promotor hanya diperkenankan membimbing maksimal 10 mahasiswa S3 hingga lulus.

Perlu Sanksi Tegas

Praktik lancung yang menciderai marwah dunia kampus, selain memalukan, tentu membutuhkan tindakan tegas dari Kementerian Ristek dan Dikti agar kasus yang sama tidak makin meruyak.
Membentuk tim investigasi dan mengumumkan secara terbuka hasil temuan mereka adalah langkah pertama yang sudah seharusnya dilakukan.

Tetapi, lebih dari itu, tahap terpenting setelah tim investigasi melaporkan temuannya adalah perlunya sikap tegas Kementerian Ristek dan Dikti untuk memberikan sanksi yang setimpal, mulai dari pencabutan gelar, pencopotan jabatan struktural dan jabatan akademik dari para guru besar yang terlibat dalam praktik pembiaran, dan jika perlu melaporkan pihak-pihak yang terlibat ke aparat penegak hukum untuk diproses lebih lanjut.

Tindakan tegas ini perlu dilakukan, sebab jumlah kasus plagiarisme dan praktik jual-beli ijazah doktor secara terselubung ditengarai telah berjalan begitu massif. Membiarkan praktik curang yang menciderai reputasi akademik terjadi berlarut-larut, selain akan mengancam integritas dunia akademik, juga dikhawatirkan akan berpotensi melahirkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap dunia perguruan tinggi.

Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa praktik curang di dunia akademik ini ternyata banyak melibatkan para pejabat kampus, dan pejabat negara yang seharusnya menjadi suri tauladan masyarakat. Melihat level praktik curang di dunia kampus yang sudah begitu mengakar, tentu yang dilakukan tidak akan cukup hanya dengan surat teguran atau peringatan keras saja.

Pendeknya, Kementerian Ristik dan Dikti sebagai lembaga yang bertanggung jawab melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap kualitas akademik seluruh perguruan tinggi di Indonesia harus secepatnya mengambil tindakan tegas demi meluruskan dan mengembalikan marwah dunia kampus pada tempatnya semula.

Kolom terkait:

Maaf Afi dan Kesombongan Intelektual

Di Balik Kontroversi Plagiarisme Afi Nihaya

Yang Hilang dari Pendidikan Kita

Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Albino: Mistik dan Ide Kuno

Pada tahun 2018, National Geographic mengeluarkan laporan yang menyuarakan adanya sikap diskriminasi terhadap Albinisme. Sejatinya, Albino merupakan sebutan kepada orang-orang yang memiliki perbedaan genetik...

Mudik: Tradisi Nasional Indonesia

Aktivitas masyarakat di Indonesia yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan selain menjalankan puasa adalah melakukan perjalanan mudik dan kemudian berlebaran di kampung halaman. Puasa...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Penerapan Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Jual Beli Tanah

Jual beli merupakan salah satu perjanjian bernama, jual beli ini adalah perjanjian yang paling banyak dipakai masyarakat baik oleh masyarakat bisnis maupun bukan bisnis....

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.