Jumat, April 23, 2021

Sumpah Pemuda: Papua yang Indonesia dan Jakarta yang Bukan

Tentang Sebuah Jalan

Cita-cita kata penyair Tiongkok Lu Xun, ibarat jalan pertama di belantara yang pada awalnya tiada. Tapi semakin sering ia kita lewati akan semakin nyata. Satu...

Pak Emil Salim dan Tarik Ulur Pemindahan Ibu Kota

Presiden Joko Widodo telah membuat keputusan politik untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Ini keputusan yang berani di tengah kelesuhan ekonomi...

Menunggu Kedewasaan Pemerintah Tentang 65

Kita semua tentu tak asing dengan dongeng dari J. M. Barrie. Kira-kira plot paling terkenal dari kisah itu, yang sudah dialih-wahanakan ke beragam bentuk...

Saatnya Jokowi Menjadi Abdi Rakyat!

Semua paham Presiden Joko Widodo gamang menentukan sikap terkait revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Di satu sisi, sebagai kader partai, ia dituntut mengikuti suara...
Avatar
E.S. Ito
Novelis

papua

Bahasa menunjukkan bangsa. Ungkapan itu sering diartikan bahwa tutur bahasa seseorang menunjukkan tabiat atau tingkah lakunya. Dalam spektrum lebih luas, ungkapan itu juga bisa dimaknai bahwasanya bahasa menunjukkan identitas kelompok masyarakat atau suku bangsa.

Bahasa mungkin adalah identitas paling nyata dari sebuah imaji bernama bangsa. Ikatan yang membuat kita nyaman, terpaut dan merasa menjadi bagian tidak terpisahkan satu sama lain. Dan Bahasa Indonesia adalah proyek nasionalisme terbesar yang pernah kita bangun bahkan sebelum negara ini lahir.

Pergilah ke pelosok Papua, temui saudara-saudara kita yang ada di sana. Berbicaralah dengan mereka. Kita akan menemukan ikatan batin yang kuat karena mereka fasih berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita, Bahasa Indonesia.

Hal yang sama tidak akan kita temui mungkin di pelosok Pulau Jawa. Di mana Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk keperluan formal dan bukan bahasa sehari-hari. Atau menguping-lah di antara kelas menengah Jakarta yang menjemukan. Dengan segala keterbatasan, mereka ingin terlihat fluent berbahasa Inggris, bahkan dengan sesama anak bangsa sendiri.

Jika bahasa menunjukkan bangsa, maka siapa sebenarnya yang layak disebut bangsa Indonesia saat ini? Apakah kita di Jakarta ini yang ingin mengganti semua kosa kata Indonesia dengan Bahasa Inggris atau saudara-saudara kita di Papua yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai lingua franca mereka.

Bila kita jujur, tentu saudara-saudara kita itu jauh lebih Indonesia dibanding kita. Kitalah sebenarnya yang terus-menerus berusaha membedakan diri dengan saudara-saudara kita di Papua. Bukan karena mereka yang berbeda. Kitalah yang tiada henti merongrong identitas nasional. Sementara mereka justru terus merawatnya lewat bahasa.

Sebagian besar dari kita menganggap Papua sebagai proyek nasional yang belum selesai. Padahal kenyataannya tanah dan putra-putri Papua telah memberikan segalanya untuk Indonesia. Kita memberikan begitu banyak streotype negatif untuk saudara-saudara kita di Tanah Surga itu tanpa sedikit pun memberi ruang untuk mau belajar pada mereka. Pada akhirnya kita memandang Papua dengan konsep daulat raja, upeti diterima maka saudara ada.

Papua hanya akan jadi perbincangan di meja-meja café Jakarta manakala menyangkut masalah Freeport. Dalam persoalan tambang itu semua orang lantang berteriak nasionalisme. Tetapi begitu menyangkut hak-hak dasar masyarakat Papua, kita menganggapnya sebagai masalah lokal yang mungkin bisa diselesaikan oleh Peraturan Daerah atau paling tinggi Otonomi Khusus. Nasionalisme kita yang kabur perlahan-lahan mulai terkubur.

Menjadi Indonesia adalah keseharian saudara-saudara kita di Papua. Sementara kita di Jakarta berusaha keras untuk melepaskan identitas itu. Merekalah seharusnya yang paling pantas mengajukan pertanyaan pada kita, “Apa yang kitorang musti kerjakan agar sodara-sodara tetap jadi Indonesia?”

Baca:

Papua Bukan Cuma Freeport

Benang Kusut Freeport

 

 

Avatar
E.S. Ito
Novelis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.