Rabu, April 21, 2021

Mau Dibawa ke Mana Liga Kita, Jenderal?

Menakar Jurus Fassone-Mirabelli, Duet Maut AC Milan

Di saat beberapa klub rival masih tertegun dengan begitu cepatnya proses perpindahan Leonardo Bonucci dari Juventus ke AC Milan, tim berjuluk I Rossoneri ini...

Derby Manchester: Perebutan Tiga Angka yang Tak Biasa

Sejak pertengahan pekan ini, obrolan tentang laga dua tim satu kota bertajuk derby Manchester menjadi komsumsi rutin pecinta sepakbola seluruh dunia. Gaung derby Manchester...

Di Sepakbola, Maaf Hanyalah Kata Belaka

Saat bertanding di atas lapangan, pesepakbola bisa menjadi makhluk yang paling jahat yang pernah ada di muka bumi. Setelah mencelakakan orang, dalam sekejap ia...

Duka Timnas Italia, Dagelan Liga Indonesia

  Mendung menggelayuti Timnas Sepakbola Italia. Musibah besar baru saja menimpa. Sebagai salah satu raksasa sepakbola dunia, Timnas Italia mengubur mimpinya ikut berlaga pada Piala...
Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola

Ketua Umum PSSI Letnan Jenderal Edy Rahmayadi (kiri) menyalami mantan pemain nasional dan PSMS Medan Nobon Kamayudin (kanan) saat menyaksikan pertandingan persahabatan PSMS Medan-Persib Bandung di Stadion Teladan Medan, Sumatera Utara, Minggu (26/3). ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Masa penantian panjang pada kepastian bergulirnya liga sudah berakhir. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah memastikan Liga 1 akan bergulir pada 15 April dan Liga 2 pada 18 Apri nanti. Pecinta sepakbola lalu bersorak, meski hanya sejenak. Karena kepastian bergulirnya liga ternyata tidak dibarengi dengan regulasi yang sesuai harapan. Situasi kemudian berbalik arah. Aksi protes belakangan semakin marak.

Ada tiga poin penting dalam regulasi PSSI untuk Liga 1 dan Liga 2 yang layak menuai protes. Pembatasan usia pemain, jumlah pergantian pemain, dan jadwal pertandingan untuk Liga 2 menyulut sumbu protes dari banyak pihak.

Khusus untuk dua poin pertama, PSSI jelas salah kaprah dalam menerjemahkan upaya peningkatan kualitas pemain muda. Memberi jalan pintas pada pemain muda jelas bukan cara elegan. Kesempatan bermain yang diperoleh semata-mata karena regulasi tentu sangat tidak mendidik. Sepakbola tidak pernah mengajarkan cara instan macam itu. Harus ada kerja keras, persaingan ketat, dan proses panjang mengingat sepakbola tidak hanya butuh skill individu bagus, tapi juga butuh mental bertanding yang kuat.

PSSI seharusnya juga tidak boleh abai pada konsekuesni logis aturan pembatasan usia. Melabeli kompetisi sebagai liga profesional tapi masih memaksakan regulasi pembatasan umur adalah kekonyolan. Memaksa pemain pensiun lebih cepat, bagi saya, adalah pelanggaran level paripurna dalam sepakbola.

Sukar membayangkan bagaimana sedihnya Mat Halil yang terpaksa mengubur impiannya kembali tampil di bawah teriakan puluhan ribu Bonek. Kesedihan mendalam juga menimpa Ugik Sugianto. Peraih penghargaan pemain terbaik ISC B ini terancam gantung sepatu lebih cepat hanya gara-gara regulasi menggelikan itu. Halil dan Ugik hanya dua dari sekian banyak pemain yang bernasib serupa.

Mat Halil [tribunnews.com
PSSI pasti paham jika sepakbola juga tidak semata-mata tempat menyalurkan gairah. Di sepakbola juga ada roda perekonomian yang digantungkan. Regulasi pembatasan usia adalah bentuk PHK massal pada mereka yang kebanyakan merupakan tulang punggung keluarga.

 

Untuk urusan ini, saya jadi teringat pada isak tangis Eva Gonzales di sebuah acara televisi swasta. Padahal waktu itu Cristian Gonzales hanya terancam menganggur dalam beberapa bulan ke depan karena PSSI dibekukan. Tangisan yang lebih menjadi-jadi mungkin sudah mewabah di luar sana. Pada istri, anak-anak, dan orangtua meraka yang dipaksa pensiun lebih cepat oleh regulasi.

Pemain Terbaik ISC B 2016, Ugik Sugiyanto. [Bola.com/Robby Firly]
Tinggalkan sejenak hal-hal yang mengharu biru. Mari kita ramai-ramai tertawakan kekonyolan berikutnya.

 

Entah dapat bisikan gaib dari mana, para petinggi PSSI di sana tiba-tiba bersikukuh mengubah aturan paten tentang kuota maksimal pergantian pemain. Dari kuota maksimal 3 pergantian pemain menjadi 5 pergantian pemain. Lagi-lagi jalan pintas atas jaminan dimainkannya pemain muda di bawah usia 23 tahun menjadi alasan utama munculnya aturan ini. PSSI mencoba mengakomodir perubahan taktikal secara besar-besaran di paruh kedua laga dengan asumsi semua tim akan menarik tiga pemain mudanya setelah menunaikan kewajiban tampil selama 45 menit.

Tapi begini. Taruhlah memang ada jaminan pertandingan lebih menarik di babak kedua mengingat semua tim kemungkinan tampil dengan skuat terbaiknya, apakah ada jaminan juga jika tim-tim itu tidak akan memanfaatkan kuota 5 pergantian pemain untuk hal-hal menyebalkan semacam menurunkan tempo permainan dan menghabiskan waktu?

Peluang itu sangat terbuka lebar dan pasti akan dimanfaatkan sedemikian rupa. Kuota maksimal 3 pergantian pemain saja sudah seringkali memunculkan itu, apalagi 5 pergantian pemain. Menggelikan? Memang.

Jika hal itu benar-benar terjadi di lapangan, bisa dibayangkan betapa menyebalkannya menjadi pendukung tim yang sedang tertinggal di menit-menit akhir. Perasaan tidak nyaman itu tentu berpotensi jadi amarah. Peluang terjadinya situasi chaos di dalam stadion semakin besar. Langkah melamban pemain yang ditarik keluar bisa menjadi komondo otomatis atas lemparan botol air mineral setengah terisi dan benda-benda lainnya ke lapangan. Apakah hal-hal semacam itu tak pernah terpikirkan, Jenderal?

Tak Ada Liga 2 di Akhir Pekan

Di saat tim-tim kontestan Liga 1 mulai mengemis perihal pemerataan jadwal siaran langsung, tim-tim Liga 2 berduyun-duyun melayangkan protes atas ketidakadilan jadwal pertandingan. Keputusan PSSI menjadwalkan pertandingan Liga 2 pada hari Senin sampai Kamis tentu sukar diterima akal sehat. Bagimana tidak, sepakbola yang sejatinya identik dengan hiburan akhir pekan seenak jidat dipaksa pindah jam tayang pada hari kerja. Sekali lagi, PSSI jelas tidak peka dan kembali mengecewakan.

Puluhan ribu pendukung PSS Sleman terancam tak akan pernah menyaksikan langsung tim kesayangannya di Liga 2 nanti karena terikat jam kerja. Belum lagi puluhan ribu suporter Persebaya yang terancam tak bisa meneruskan euforia kebangkitan tim kesayangannya karena berstatus sebagai buruh pabrik. Tak berlebihan kiranya ketika puluhan ribu pendukung Persis Solo juga punya kekhawatiran yang sama lalu mereka membentangkan spanduk bernada protes bertuliskan “Menolak Laga Senin-Kamis. Sepakbola Milik Rakyat!”

Jenderal, jangan pula Anda melupakan kondisi neraca keuangan tim-tim Liga 2. Hampir semua tim Liga 2 masih mengandalkan penjualan tiket pertandingan sebagai pemasukan utama. Menjadwalkan pertandingan di hari kerja tentu berpengaruh signifikan pada nominal pemasukan tim dari penjualan tiket pertandingan.

Tim-tim Liga 2 bukan tidak mungkin akan kehabisan bensin di tengah jalan. Dan imbasnya akan semakin panjang. Ada kemungkinan gaji pemain yang tak terbayar lunas. Bahkan dampak lebih parah dari itu bisa saja terjadi, semisal tim akan memilih gugur lebih cepat di tengah kompetisi.

Dana subsidi awal sebesar Rp 500 juta untuk tim Liga 2 pastinya relatif sangat kecil untuk mengarungi babak penyisihan grup dengan sistem home away. Angka segitu bahkan mungkin tidak akan cukup untuk sekadar membayar gaji pemain. Jenderal juga pasti paham betapa sulitnya tim-tim kecil dengan basis massa suporter terbatas dalam urusan mencari sponsor. Jangankan tim-tim Liga 2, tim-tim Liga 1 saja masih ada lo yang kesulitan mencari sponsor.

Sudahlah, Jenderal. Ada baiknya PSSI berpikir ulang. Tak ada salahnya juga merevisi hal-hal yang telanjur diputuskan demi kebaikan bersama. Karena kekecewaan pemain, keluarga pemain, dan suporter tak akan pernah impas oleh capaian media emas di Piala Dunia sekalipun.

Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

Serangan Siber Israel di Pusat Pengembangan Nuklir Iran

Pada 12 April 2021, Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran/Atomic Energy Organization of Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi, mengkonfirmasi terjadi ledakan di bagian fasilitas pengayaan...

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

ARTIKEL TERPOPULER

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.