Siapa yang akan mewarisi sisa-sisa terakhir biji-bijian dan bawang yang langka, ketika para petani telah tumbang di ladang akibat sengatan panas, dan tanaman pun telah layu hingga tak tertolong lagi? Apa yang tetap bertahan ketika belas kasih dan moral telah sirna; ketika bertahan hidup menuntut keganasan, dan bahkan keganasan itu pun nyaris tak cukup untuk menyelesaikan tugasnya?
Novel kedua Megha Majumdar, A Guardian and a Thief, masuk dalam daftar panjang 2026 Women’s Prize for Fiction. Berlatar di Kolkata masa depan, novel ini mengisahkan seorang wanita yang berjuang memberi makan putri kecilnya yang berusia dua tahun dan ayahnya yang sudah lanjut usia. Ia menjaga mereka tetap sehat dengan mencuri pasokan dari lembaga amal yang ia pimpin sendiri. Kini, visa iklim mereka telah tiba, dan mereka akhirnya bisa menyusul suaminya di AS—yang tetap dianggap sebagai tanah harapan, meski sebenarnya juga sedang dilanda masalah.
Majumdar, 38 tahun, berpindah dari Kolkata ke New York saat masih berstatus mahasiswa. Di sana, ia beralih dari bidang antropologi ke dunia kepenulisan.
Novel debutnya, A Burning (2020; berkisah tentang seorang gadis Muslim ambisius dari daerah kumuh Kolkata yang terjerat hukum anti-teror akibat sebuah komentar di Facebook), memenangkan Whiting Award dan Sahitya Akademi Yuva Puraskar.
Jika A Burning terasa kelam, maka A Guardian and a Thief jauh lebih gelap lagi. Seiring menghangatnya air laut dan bermigrasinya ikan-ikan, serta banjir dan kekeringan yang merusak panen, persoalan tentang pangan apa yang akan tersedia menjadi hal yang mengerikan untuk dibayangkan.
Hanya ada sedikit harapan dalam versi dunia ini; harapan yang sedikit itu pun harus direbut dari orang lain, dipertahankan dengan kekerasan, dan dilahap habis sementara kerumunan orang yang kelaparan menonton dengan nanar.
Seiring berjalannya plot, riset mendalam Majumdar tampak berkilauan di sela-sela cerita. Detail yang ia tenun untuk menunjukkan bagaimana Kolkata sampai pada titik tragis ini terinspirasi dari laporan nyata tahun 2021 oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Laporan tersebut memprediksi bahwa Kolkata bisa menjadi rata-rata 4,5°C lebih panas (dibandingkan level pra-industri 1850-an) pada akhir abad ini, dengan kenaikan permukaan laut hingga 60 cm.
“Sangat menyedihkan membaca prediksi suram tentang masa depan kampung halaman Anda sendiri,” ujar Majumdar.
Majumdar menyusun karyanya dengan membandingkan proyeksi masa depan yang kelam dalam laporan iklim terhadap memori personalnya yang kaya akan kehidupan sehari-hari di Kolkata, mulai dari keriuhan anak-anak sekolah yang menikmati kudapan tradisional hingga kenyamanan suasana rumah yang menyambutnya dengan kesegaran di hari yang terik.
Penulisan buku ini merupakan upaya Majumdar untuk memotret ketangguhan masyarakat Kolkata melalui jaringan sosial mereka yang solid serta kekuatan humor yang tetap muncul meski di tengah himpitan krisis. Ia secara khusus ingin mengeksplorasi bagaimana cinta, selera humor, dan ikatan kemanusiaan yang tak terpatahkan tetap menjadi fondasi utama bagi penduduk kota dalam menghadapi situasi yang paling sulit sekalipun.
Majumdar memandang fiksi krisis iklim sebagai sebuah medium untuk mengeksplorasi nilai-nilai yang paling berharga bagi manusia serta cara mereka menghadapi kehilangan hal-hal tersebut di tengah situasi yang ekstrem. Baginya, inti dari penulisan cerita bertema lingkungan adalah menggali pertanyaan mendasar tentang cara menjalani kehidupan yang bermoral dan melakukan hal yang benar di tengah sistem dunia yang sedang hancur.
Ia menyoroti dilema etis yang dialami seseorang ketika harus memilih antara naluri kasih sayang seorang orang tua untuk melindungi dan memberi makan anaknya dengan rasa tanggung jawab sosial terhadap sesama warga kota yang juga menderita. Meskipun tidak memiliki jawaban pasti atas konflik batin tersebut, Majumdar menjadikan fiksi sebagai ruang refleksi untuk mempertanyakan nasib identitas etis manusia dan mendalami berbagai persoalan moral yang paling krusial bagi kehidupan saat ini.
Majumdar merenungkan bagaimana krisis lingkungan akan mengubah hubungan mendalam manusia dengan makanan, terutama ketika bahan pangan tradisional yang familier digantikan oleh sumber ekstrem seperti tepung jangkrik, yang pada akhirnya akan mengubah seluruh tekstur emosional dari sebuah hidangan dan makna nutrisi bagi jiwa.
Dalam konteks personal, ia memandang migrasi sebagai sebuah proses dualitas yang rumit; sebuah pertukaran antara kehilangan keluarga, bahasa, dan kampung halaman dengan perolehan kebebasan untuk membentuk jati diri baru sesuai keinginan. Meskipun ia menemukan energi kreatif yang menyegarkan di New York melalui ambisi dan perjalanan inspiratif orang-orang di sekitarnya, Majumdar tetap memikul rasa kehilangan yang abadi. Baginya, rasa kehilangan tersebut bukan sekadar jarak fisik, melainkan bayang-bayang tentang sosok dirinya yang lain yang mungkin tercipta seandainya ia memilih untuk tetap tinggal di rumah.
Majumdar memandang latar belakang pendidikannya di bidang antropologi sebagai landasan yang sangat berharga bagi kariernya sebagai penulis fiksi, karena disiplin ilmu tersebut melatihnya untuk memiliki rasa ingin tahu yang mendalam terhadap eksistensi orang lain serta kepekaan dalam mengamati berbagai kompleksitas dalam kehidupan mereka. Meskipun pada masa awal pendidikannya ia sempat merasa terintimidasi dan takut terhadap bahasa Inggris, ketertarikannya yang besar pada kekuatan cerita yang terkandung di dalamnya mendorongnya untuk terus belajar hingga bahasa tersebut akhirnya bertransformasi menjadi sarana utama bagi pikiran dan imajinasinya.
Dalam kehidupan batinnya, terjadi pembagian peran bahasa yang unik; bahasa Bengali tetap dipertahankan sebagai bahasa yang menghubungkannya dengan akar keluarga dan suasana rumah, sementara bahasa Inggris menjadi bahasa bagi dunia intelektual dan kreativitasnya. Lebih jauh lagi, ia merasa bahwa bahasa Bengali berperan sebagai pemberi nutrisi emosional bagi tulisan-tulisan bahasa Inggrisnya, di mana kapasitas bahasa ibu tersebut dalam menampung kedalaman rasa getir, sentimen, serta selera humor yang khas diharapkan dapat terserap dan memperkaya kualitas karya-karya sastra yang ia hasilkan.
